Pendidikan

“Santri Bisa Jadi Presiden”, Pesan Kemenag Saat Indonesia Raya Bergema di Pesantren Darussa’adah Kebumen

88
×

“Santri Bisa Jadi Presiden”, Pesan Kemenag Saat Indonesia Raya Bergema di Pesantren Darussa’adah Kebumen

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com  – Lantunan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya menggema di halaman Pondok Pesantren Darussa’adah, Desa Kritig, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jumat (7/8/2026). Suasana yang berlangsung khidmat itu menjadi pembuka pelaksanaan Gerakan Terpadu Pembinaan dan Sambang Pesantren (Go-Tren) Tahap III yang digelar Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen.

Mengawali rangkaian kegiatan dengan menyanyikan lagu kebangsaan menjadi simbol kuat dalam menanamkan semangat nasionalisme di lingkungan pesantren. Melalui momentum tersebut, para santri diajak memperkuat kecintaan terhadap tanah air tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi ruh pendidikan pesantren.

Sekitar 600 santri putra dan putri mengikuti berbagai kegiatan yang telah disiapkan. Mulai dari senam santri, ro’an atau kerja bakti bersama, pemeriksaan kesehatan gratis, penyuluhan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), hingga edukasi mengenai Pesantren Ramah Anak. Seluruh kegiatan merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang bertujuan membangun karakter, kesehatan, serta kemandirian santri.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen H. Anif Solikhin, didampingi Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren H. Fahrudin.

Turut hadir Staf Ahli Bupati Kebumen Bidang Kemasyarakatan dan SDM Muhsinul Mubarok mewakili Bupati Kebumen, Ketua RMI PCNU Kebumen H. Johan Amru, perwakilan Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP), KUA Kecamatan Petanahan, para Penyuluh Agama Islam, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, serta sejumlah instansi terkait lainnya.

Dalam sambutannya, Anif Solikhin memberikan motivasi kepada para santri agar berani memiliki cita-cita besar dan tidak pernah merasa rendah diri. Menurutnya, status sebagai santri bukanlah penghalang untuk meraih berbagai profesi, justru menjadi bekal penting karena dibangun di atas fondasi akhlak yang kuat.

“Santri harus memiliki cita-cita setinggi mungkin. Indonesia pernah dipimpin oleh seorang santri, yaitu KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Santri bisa menjadi kiai, pejabat, akademisi, pengusaha, maupun politisi. Apa pun profesinya, jiwa santri harus tetap menjadi benteng moral dalam kehidupan,” pesannya.

Pada kesempatan tersebut, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen juga menyerahkan Bantuan Pemberdayaan Ekonomi Umat sebesar Rp5 juta kepada Pondok Pesantren Al-Kamal. Bantuan diserahkan secara simbolis kepada Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah, Gus Imam Sibaweh, sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam memperkuat kemandirian ekonomi pesantren.

Sementara itu, Muhsinul Mubarok yang mewakili Bupati Kebumen mengapresiasi penyelenggaraan Go-Tren sebagai model pembinaan pesantren yang melibatkan berbagai unsur pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, sinergi tersebut memberikan manfaat yang lebih luas karena tidak hanya menyentuh aspek pendidikan keagamaan, tetapi juga kesehatan, kebersihan, pembangunan karakter, hingga pemberdayaan masyarakat.

“Melalui Go-Tren, para santri diajak membangun sikap saling menghormati, peduli, dan berempati. Kami berharap kegiatan ini menjadikan pesantren semakin sehat, bersih, aman, mandiri, serta mampu memberikan kontribusi lebih besar bagi pembangunan daerah,” ujarnya.

Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Kebumen, H. Fahrudin, menjelaskan bahwa selain mengajarkan kajian kitab kuning sebagai kurikulum utama, pesantren juga memiliki peran strategis dalam membangun karakter kebangsaan para santri.

Menurutnya, nilai-nilai nasionalisme harus terus ditanamkan melalui penguatan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, semangat persatuan, serta kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, pembiasaan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya menjadi salah satu langkah sederhana namun memiliki makna mendalam dalam membentuk karakter kebangsaan para santri.

“Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, pembiasaan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya menjadi salah satu cara sederhana namun bermakna untuk menanamkan rasa cinta tanah air di kalangan santri,” jelas Fahrudin.

Ia menambahkan, Go-Tren tidak hanya menghadirkan pembinaan keagamaan, tetapi juga membawa berbagai layanan langsung ke lingkungan pesantren. Selain senam bersama dan kampanye PHBS, para santri mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis, penyuluhan lintas sektor, hingga edukasi mengenai lingkungan pesantren yang sehat dan aman.

“Kami ingin memperkuat pesantren bukan hanya sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai lingkungan sehat, ramah anak, dan memiliki kemandirian ekonomi,” katanya.

Salah satu fokus utama dalam Go-Tren Tahap III adalah penguatan program Pesantren Ramah Anak. Melalui program ini, pesantren didorong menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, bebas dari kekerasan maupun perundungan, menghormati hak-hak santri, serta menerapkan pola pengasuhan yang penuh kasih sayang.

“Pesantren harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi santri untuk belajar, beribadah, sekaligus mengembangkan potensi diri melalui pengasuhan yang penuh kasih sayang,” tegas Fahrudin.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.