PemerintahanTRADISIWisata

Warga Padati Grebeg Sura Merti Jagad Kabumian 2026, Ribuan Orang Berebut Gunungan di Alun-alun Kebumen

65
×

Warga Padati Grebeg Sura Merti Jagad Kabumian 2026, Ribuan Orang Berebut Gunungan di Alun-alun Kebumen

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Ribuan warga memadati kawasan Pendopo Kabumian hingga Alun-alun Pancasila Kebumen pada Selasa malam (16/6/2026) untuk menyaksikan dan mengikuti tradisi tahunan Grebeg Sura Merti Jagad Kabumian 2026.

Mengusung tema “Nguri-uri Budaya, Nglestarikake Tradisi, Mbangun Kebumen Berbudaya”, kegiatan yang digelar secara gratis untuk masyarakat ini kembali menjadi magnet budaya yang menyedot perhatian warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Kebumen.

Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Bupati Kebumen Lilis Nuryani, Wakil Bupati Zaeni Miftah, Sekretaris Daerah Edi Rianto, mantan Bupati Mohammad Yahya Fuad, Ketua DPRD Kebumen Saman Halim Nurrohman, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dr. Faiz Alauddien Reza Mardhika, Wakil Ketua DPRD Kebumen Khalisha Adelia Aziza dan Solatun, serta jajaran pimpinan OPD, BUMD, budayawan, seniman, camat, lurah, kepala desa, dan tokoh masyarakat.

Prosesi diawali dengan serah terima benda pusaka berupa tombak yang kemudian dilanjutkan dengan kirab budaya mengelilingi Alun-alun Pancasila Kebumen. Daya tarik utama dalam tradisi ini adalah arak-arakan tujuh gunungan yang terdiri atas sepasang gunungan lanang (laki-laki) dan wadon (perempuan), lima gunungan pengiring, serta sejumlah tenong atau ambeng.

Gunungan yang disusun dari berbagai hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, dan palawija tersebut melambangkan kemakmuran, keberkahan, serta rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Setelah diarak mengelilingi alun-alun, seluruh gunungan dan tenongan ditempatkan di depan panggung utama untuk mengikuti prosesi doa lintas agama. Namun suasana sempat berubah menjadi riuh ketika sebagian warga yang telah menunggu sejak sore hari langsung merangsek maju untuk memperebutkan hasil bumi yang terdapat pada gunungan.

Tradisi yang dikenal dengan istilah “ngalap berkah” itu membuat sejumlah gunungan habis dalam waktu singkat, bahkan sebelum rangkaian doa selesai dilaksanakan. Meski panitia telah memberikan imbauan agar masyarakat menunggu hingga prosesi selesai, antusiasme warga tidak dapat terbendung.

Selain grebeg gunungan, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan berbagai tradisi rakyat seperti iber-iber unggas ke alam bebas, pemecahan kendi yang berisi uang koin, hingga rebutan tenong atau ambeng yang berisi aneka jajanan tradisional.

Dalam sambutannya, Bupati Kebumen Lilis Nuryani mengucapkan selamat menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah sekaligus Tahun Baru Jawa 1 Suro 1960 Ba’ kepada seluruh masyarakat Kebumen.

Menurutnya, prosesi Merti Jagad tidak sekadar menjadi perayaan budaya, tetapi juga sarat makna tentang rasa syukur, kebersamaan, serta tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian alam dan kerukunan sosial.

“Kemajuan daerah tidak dapat diwujudkan oleh pemerintah saja, melainkan membutuhkan partisipasi dan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat. Jika semangat gotong royong terus kita jaga, Kebumen akan semakin maju, berdaya, dan sejahtera,” ujar Lilis.

Sementara itu, Ketua Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kebumen Basikun Mualim atau yang akrab disapa Petruk Kabumian menjelaskan bahwa esensi Merti Jagad adalah sebagai momentum refleksi dan ungkapan syukur atas hasil panen, kelancaran usaha, serta berbagai pencapaian selama satu tahun terakhir.

Selain itu, tradisi tersebut juga menjadi sarana doa bersama untuk memohon keberkahan dan kemudahan dalam menjalani tahun yang baru.

Basikun menegaskan bahwa Kebumen memiliki identitas budaya yang kuat dan khas. Menurutnya, Kebumen tidak hanya berkiblat pada budaya Keraton Mataram Yogyakarta maupun Surakarta, tetapi juga memiliki akar sejarah tersendiri yang berasal dari trah Ki Ageng Mangir melalui tokoh Ki Bodronolo.

“Acara seperti ini sebenarnya rutin kami laksanakan setiap tahun. Hanya saja dalam dua tahun terakhir mulai terpublikasi secara luas dan dipusatkan di Pendopo Kabumian serta Alun-alun Kebumen. Sebelumnya kegiatan dilaksanakan di lokasi yang berbeda,” jelasnya.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.