KEBUMEN, Kebumen24.com – Sebanyak sekitar 1.800 guru dari jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP di Kabupaten Kebumen mengikuti Pelatihan dan Seminar Nasional Guru “How To Be a Great Teacher” yang digelar DPD Teacherpreneur Nusantara (TPN) Jawa Tengah di Aula Pertemuan Sekda Kebumen, Jumat (31/7/2026).
Kegiatan yang menghadirkan narasumber Syafii Efendi, M.M., President & Founder IEC, President Indonesian BRICS Youth Forum, dan President Islamic Young Economic Forum ini bertujuan memotivasi para guru agar semakin bersemangat dalam mengajar, meningkatkan kemampuan public speaking, serta memperkuat strategi mendidik Generasi Z.
Ketua DPD TPN Jawa Tengah, Slamet Muridan, M.M., mengatakan tantangan guru di era digital semakin kompleks. Menurutnya, perkembangan teknologi, media sosial, hingga perubahan karakter peserta didik menuntut guru terus meningkatkan kompetensinya.
“Menjadi guru di era sekarang bukanlah tugas yang mudah. Generasi Z memiliki karakter yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka membutuhkan guru yang bukan hanya mampu mengajar, tetapi juga mampu menginspirasi, menjadi teladan, komunikator yang baik, sekaligus pembimbing dalam menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.
Melalui seminar bertajuk How To Be a Great Teacher, pihaknya ingin menghadirkan ruang belajar bagi para pendidik untuk meningkatkan kualitas public speaking, membangun komunikasi yang efektif di dalam kelas, serta memperbarui strategi pembelajaran yang relevan dengan karakter peserta didik masa kini.
Menurut Slamet, kemampuan berbicara di depan umum menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki seorang guru. Penyampaian materi yang komunikatif dan inspiratif akan menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan menyenangkan.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari tur nasional Teacherpreneur Nusantara dalam menyadarkan para guru terhadap berbagai persoalan pendidikan yang semakin kompleks. Di antaranya menurunnya marwah profesi guru, persoalan ekonomi, tingginya angka perceraian, hingga dampak perkembangan teknologi yang turut memengaruhi proses pembelajaran.
“Kita melihat hari ini guru jangan sampai kalah menarik dibanding handphone. Kalau anak lebih tertarik dengan gawainya daripada gurunya, berarti ada yang harus kita perbaiki. Kami ingin mengubah mindset bahwa mendidik bukan sekadar soal besar kecilnya penghasilan, tetapi tentang pengabdian untuk menyongsong Generasi Emas Indonesia 2045,” tegasnya.
Slamet menambahkan, sasaran kegiatan diprioritaskan bagi guru PAUD, TK, SD, dan SMP karena pada jenjang tersebut pendidikan karakter menjadi fondasi utama pembentukan generasi masa depan.
“Di fase PAUD hingga SMP inilah pondasi karakter dibangun. Karena itu harus diisi oleh guru-guru terbaik yang mampu memberikan keteladanan kepada anak didiknya,” katanya.
Pelatihan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama diikuti sekitar 850 guru di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen, sedangkan sesi kedua diikuti sekitar 950 guru di bawah naungan Kementerian Agama Kabupaten Kebumen.
Sementara itu, Wakil Bupati Kebumen Zaeni Miftah berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan guru-guru yang semakin inspiratif dan menjadi teladan bagi peserta didik maupun masyarakat.
“Saya berharap setelah ini para guru semakin menginspirasi bagi anak didik kita. Kita prihatin karena degradasi moral saat ini terjadi di berbagai lini, baik yang dididik maupun yang mendidik,” ujarnya.
Zaeni juga menyoroti tingginya angka perceraian di kalangan aparatur sipil negara (ASN), termasuk profesi guru, yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama.
“Saya selaku wakil bupati yang memberikan persetujuan perceraian ASN melihat angka perceraian guru di Kebumen cukup tinggi, mayoritas merupakan gugatan dari pihak perempuan. Semoga kegiatan ini juga menjadi reorientasi bahwa guru adalah sosok yang digugu dan ditiru, menjadi suri teladan bagi masyarakat dan para siswa,” katanya.
Dalam paparannya, narasumber Syafii Efendi menyampaikan dua materi utama, yakni capability and scalability serta entrepreneurship mindset. Menurutnya, persoalan ekonomi menjadi salah satu akar berbagai permasalahan yang dihadapi guru, khususnya guru honorer.
“Kami ingin membuka wawasan agar guru memiliki peluang memperoleh tambahan penghasilan di luar profesi mengajar. Jika kondisi ekonomi guru lebih stabil, diharapkan berbagai persoalan yang dihadapi guru juga dapat berkurang,” jelasnya.
Selain itu, ia menilai kesenjangan generasi antara guru dan peserta didik turut memengaruhi efektivitas pembelajaran. Oleh sebab itu, para pendidik perlu terus memperbarui wawasan dan metode mengajar agar mampu beradaptasi dengan karakter Generasi Z maupun Generasi Alfa.
“Guru harus terus di-update agar mampu beradaptasi dan memberikan pembelajaran yang maksimal kepada siswa generasi saat ini,” pungkasnya. (K24/Ilham)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















