ARTIKELOpini

Ketika Generasi Digital Mengenal Pancasila Hanya Sebagai Upacara

86
×

Ketika Generasi Digital Mengenal Pancasila Hanya Sebagai Upacara

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

Oleh: Agus Nur Sholeh, M.Pd. — Dosen IAINU dan Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kebumen

Setiap tahun bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila dengan penuh khidmat. Upacara digelar, teks Pancasila dibacakan, pidato-pidato kebangsaan disampaikan, dan berbagai lembaga memasang spanduk serta slogan tentang pentingnya menjaga ideologi negara. Namun di tengah kemeriahan seremoni itu, muncul pertanyaan yang layak direnungkan bersama: apakah generasi muda hari ini benar-benar memahami dan menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari?

Ataukah Pancasila perlahan hanya menjadi rangkaian kalimat yang dihafalkan saat upacara, tetapi semakin jauh dari perilaku sosial masyarakat?

Pertanyaan ini terasa semakin relevan di era digital saat ini. Generasi muda hidup di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat. Media sosial menjadi ruang utama pergaulan, tempat orang membangun identitas, menyampaikan pendapat, sekaligus mencari pengakuan sosial. Ironisnya, di ruang digital yang seharusnya menjadi sarana memperkuat persatuan, justru sering muncul budaya saling menghina, ujaran kebencian, perundungan, hingga permusuhan hanya karena perbedaan pilihan politik, agama, atau pandangan sosial.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa tantangan terbesar bangsa Indonesia hari ini bukan lagi ancaman ideologi secara fisik sebagaimana masa lalu. Tantangan yang lebih nyata justru datang dari lunturnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang hafal sila demi sila, tetapi gagal menghadirkan maknanya dalam sikap dan perilaku sosial.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, manusia justru berisiko kehilangan kepekaan sosialnya. Anak muda lebih akrab dengan algoritma media sosial dibanding tradisi gotong royong di lingkungannya sendiri. Mereka aktif berkomentar di dunia maya, tetapi semakin jarang terlibat langsung dalam kegiatan sosial masyarakat. Diskusi tentang nasionalisme ramai di media sosial, tetapi budaya membantu tetangga, menghormati perbedaan, dan menjaga etika perlahan mulai memudar.

Padahal, nilai-nilai Pancasila sejatinya hidup sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Di banyak desa, termasuk di Kabupaten Kebumen, tradisi gotong royong, rembug warga, kerja bakti, tahlilan, dan solidaritas sosial masih menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Nilai kebersamaan, saling menghormati, dan kepedulian sosial itulah wajah nyata Pancasila yang sesungguhnya.

Sayangnya, modernisasi digital perlahan mengubah pola hubungan sosial masyarakat. Kehidupan virtual sering kali dianggap lebih penting dibanding interaksi nyata. Tidak sedikit generasi muda yang lebih mengenal tren media sosial dibanding memahami kondisi sosial di sekitarnya sendiri. Akibatnya, muncul generasi yang sangat aktif di dunia digital, tetapi semakin asing terhadap kehidupan sosial masyarakatnya.

Di sinilah letak persoalan mendasar yang perlu menjadi perhatian bersama. Pancasila tidak cukup diajarkan sebagai hafalan formal di ruang kelas atau sekadar simbol dalam upacara kenegaraan. Pancasila harus dihadirkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Nilai kemanusiaan harus tampak dalam cara berbicara di media sosial. Nilai persatuan harus tercermin dalam kemampuan menghargai perbedaan. Nilai musyawarah harus hidup dalam budaya dialog, bukan saling menyerang. Dan nilai keadilan sosial harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Sekolah dan kampus tidak cukup hanya mengajarkan teori tentang Pancasila, tetapi juga harus membangun budaya sosial yang sehat dan manusiawi. Pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada slogan, melainkan harus melahirkan generasi yang mampu berpikir bijak, bersikap santun, serta memiliki kepedulian sosial yang kuat.

Sesungguhnya, tantangan terbesar generasi digital saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan krisis kedalaman nilai. Anak muda sangat mudah memperoleh pengetahuan dari telepon genggamnya, tetapi belum tentu memiliki kemampuan menyaring informasi, menghargai perbedaan, dan menjaga tanggung jawab sosial dalam kehidupan berbangsa.

Momentum Hari Kesaktian Pancasila seharusnya menjadi ruang refleksi bersama, bukan hanya agenda seremonial tahunan. Kita perlu bertanya secara jujur: sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam keluarga, pendidikan, media sosial, dan kehidupan masyarakat hari ini?

Sebab sesungguhnya Pancasila tidak akan kehilangan kesaktiannya karena ancaman ideologi dari luar. Pancasila justru akan kehilangan makna ketika generasi mudanya hanya mengenalnya sebagai ritual upacara tanpa pemahaman nilai yang mendalam. Ketika Pancasila berhenti menjadi pedoman hidup, dan hanya tersisa sebagai teks yang dibacakan setiap tahun.

Pada akhirnya, menjaga Pancasila bukan sekadar menghafal sila-silanya, melainkan menghadirkannya dalam cara berpikir, berbicara, dan memperlakukan sesama manusia dengan penuh penghormatan. Karena di situlah sesungguhnya kesaktian Pancasila akan terus hidup: dalam perilaku manusia yang tetap menjunjung persaudaraan, kemanusiaan, dan kebersamaan di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.