ARTIKEL

PHK di Tengah Laba Rekor: Saat “Efisiensi” Berhadapan dengan Etika Bisnis

67
×

PHK di Tengah Laba Rekor: Saat “Efisiensi” Berhadapan dengan Etika Bisnis

Sebarkan artikel ini
Aditya Nur Marhaendra Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Putra Bangsa

Oleh: Aditya Nur Marhaendra
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Putra Bangsa

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dunia bisnis sedang memasuki babak baru. Teknologi menjanjikan produktivitas yang lebih tinggi, biaya operasional yang lebih rendah, serta keuntungan yang semakin besar. Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang tidak bisa diabaikan: apakah efisiensi selalu sejalan dengan tanggung jawab moral perusahaan?

Pertanyaan itu mengemuka setelah ribuan karyawan Oracle di berbagai negara menerima surat pemutusan hubungan kerja (PHK) melalui email pada 31 Maret 2026. Tidak ada pertemuan langsung, tidak ada dialog, hanya sebuah pesan digital yang menandai berakhirnya hubungan kerja.

Yang membuat peristiwa ini menjadi sorotan bukan sekadar cara penyampaiannya, melainkan kondisi perusahaan saat itu. Oracle baru saja membukukan laba bersih kuartalan sekitar 3,7 miliar dolar Amerika Serikat. Artinya, perusahaan tersebut bukan sedang menghadapi krisis keuangan, melainkan berada dalam kondisi yang sangat menguntungkan. Alasan yang dikemukakan adalah efisiensi melalui pemanfaatan teknologi AI.

Kasus Oracle sesungguhnya bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ia mencerminkan pola baru dalam dunia bisnis global, ketika perusahaan tetap melakukan pengurangan tenaga kerja meskipun kondisi keuangannya sangat sehat. Kondisi inilah yang memunculkan perdebatan mengenai batas antara efisiensi bisnis dan tanggung jawab etis perusahaan terhadap para pekerjanya.

Fenomena Global: Laba Meningkat, PHK Meluas

Sepanjang tahun 2026, industri teknologi menghadapi gelombang PHK terbesar yang banyak dikaitkan dengan percepatan adopsi AI.

Lembaga riset Challenger, Gray & Christmas mencatat bahwa pada Maret 2026, kecerdasan buatan menjadi alasan utama perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja di Amerika Serikat. Dalam tiga bulan pertama tahun tersebut, hampir 60 ribu pekerja sektor teknologi kehilangan pekerjaan, atau rata-rata sekitar 700 orang setiap hari.

Ironisnya, banyak perusahaan yang melakukan PHK justru sedang menikmati kinerja keuangan terbaiknya.

Amazon, misalnya, memangkas sekitar 16 ribu posisi korporat pada awal 2026, meskipun sebelumnya mencatat pendapatan tahunan tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Meta juga mengurangi ribuan pekerja setelah berhasil membukukan keuntungan puluhan miliar dolar AS. Sementara itu, Cloudflare melakukan pemangkasan sekitar 20 persen tenaga kerjanya bertepatan dengan periode ketika perusahaan mencatat pendapatan tertinggi sejak berdiri.

Fenomena ini memperlihatkan sebuah paradoks. Perusahaan memperoleh keuntungan yang terus meningkat, tetapi sebagian manfaat kemajuan teknologi justru dibayar dengan hilangnya mata pencaharian ribuan pekerja.

Indonesia Menghadapi Ancaman yang Sama

Tren tersebut juga mulai terlihat di Indonesia.

Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan lebih dari 79 ribu kasus PHK terjadi sepanjang Januari hingga November 2025. Jumlah tersebut meningkat lebih dari 30 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Di sektor industri kreatif, sejumlah perusahaan mulai menggantikan sebagian besar pekerjaan administratif maupun produksi konten dengan sistem otomatis berbasis AI.

Sementara itu, McKinsey Global Institute memperkirakan sekitar 23 juta pekerja Indonesia berpotensi terdampak otomatisasi hingga tahun 2030. Perubahan tersebut diperkirakan berlangsung lebih cepat dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan AI bukan lagi isu masa depan. Dampaknya sudah mulai dirasakan di pasar tenaga kerja saat ini.

Ketika Etika Bisnis Dipertanyakan

Dalam kajian etika bisnis modern, salah satu teori yang paling banyak dijadikan rujukan adalah Stakeholder Theory yang diperkenalkan oleh R. Edward Freeman pada tahun 1984.

Teori tersebut menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya memiliki tanggung jawab kepada pemegang saham, tetapi juga kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk karyawan, pelanggan, pemasok, masyarakat, hingga lingkungan sekitar.

Dalam perspektif ini, pekerja bukan sekadar biaya operasional yang dapat dikurangi sewaktu-waktu. Mereka merupakan bagian penting yang ikut membangun pertumbuhan perusahaan.

Namun praktik yang berkembang saat ini justru menunjukkan dominasi kepentingan pemegang saham dibandingkan kepentingan kelompok lainnya.

Ketika perusahaan memperoleh laba besar tetapi tetap memilih melakukan PHK demi meningkatkan efisiensi dan memperbesar margin keuntungan, muncul pertanyaan mendasar: apakah keputusan tersebut masih dapat dibenarkan secara moral?

Persoalan ini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan strategi bisnis, melainkan menyangkut nilai keadilan dan tanggung jawab sosial perusahaan.

AI Jangan Dijadikan Alasan yang Menyesatkan

Menariknya, kritik terhadap fenomena tersebut justru datang dari pelaku industri teknologi sendiri.

CEO Nvidia, Jensen Huang, pernah mengingatkan bahwa banyak perusahaan menggunakan AI sebagai alasan untuk melakukan PHK, padahal teknologi tersebut belum sepenuhnya menggantikan pekerjaan manusia.

Pandangan serupa diperkuat oleh hasil penelitian Forrester Research. Dalam banyak kasus, perusahaan yang mengumumkan PHK dengan alasan AI ternyata belum memiliki sistem kecerdasan buatan yang benar-benar siap menggantikan pekerjaan para karyawannya.

Artinya, AI sering kali menjadi narasi yang terdengar modern dan visioner, tetapi belum tentu menjadi penyebab utama pengurangan tenaga kerja.

Dalam kondisi seperti ini, istilah “transformasi digital” berpotensi berubah menjadi sekadar pembenaran untuk memangkas biaya operasional demi memenuhi ekspektasi pasar dan investor.

Efisiensi Tidak Boleh Mengorbankan Keadilan

Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia usaha memang dituntut untuk terus beradaptasi.

Perubahan teknologi merupakan keniscayaan, begitu pula peningkatan produktivitas. Namun, etika bisnis mengingatkan bahwa cara mencapai efisiensi juga memiliki dimensi moral.

Permasalahan muncul ketika seluruh keuntungan transformasi teknologi dinikmati oleh perusahaan dan pemegang saham, sementara seluruh risiko justru dipikul oleh para pekerja.

Kondisi tersebut semakin kontras ketika bonus eksekutif tetap meningkat, harga saham melonjak, tetapi ribuan pekerja kehilangan penghasilan.

Lebih jauh lagi, PHK massal juga memiliki dampak ekonomi yang lebih luas. Pekerja yang kehilangan pekerjaan otomatis kehilangan daya beli. Padahal mereka juga merupakan konsumen yang menopang pertumbuhan ekonomi.

Dalam jangka panjang, melemahnya daya beli masyarakat justru dapat mengurangi permintaan pasar terhadap produk dan jasa perusahaan itu sendiri.

Di Indonesia, situasi menjadi lebih kompleks karena sebagian besar tenaga kerja masih berada di sektor informal dengan perlindungan sosial yang relatif terbatas. Dampak PHK bukan hanya memengaruhi angka pengangguran, tetapi juga kesejahteraan jutaan keluarga.

Saatnya Membangun Bisnis yang Lebih Bertanggung Jawab

Artikel ini bukanlah penolakan terhadap perkembangan teknologi ataupun kecerdasan buatan. AI merupakan inovasi besar yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus membuka berbagai peluang ekonomi baru.

Namun, transformasi teknologi semestinya tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab perusahaan terhadap manusia yang selama ini menjadi bagian dari keberhasilannya.

Ada beberapa langkah yang patut menjadi perhatian.

Bagi dunia usaha, penerapan AI sebaiknya diiringi dengan program peningkatan keterampilan (upskilling), pelatihan ulang (reskilling), serta kompensasi yang layak bagi pekerja yang terdampak. Langkah tersebut bukan hanya memenuhi kewajiban hukum, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab moral perusahaan.

Bagi pemerintah, penyusunan kebijakan mengenai AI perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap ketenagakerjaan. Regulasi tidak cukup hanya mengatur keamanan data dan inovasi teknologi, tetapi juga harus memastikan bahwa transformasi digital tidak memperlebar kesenjangan sosial.

Sementara bagi masyarakat dan konsumen, transparansi perusahaan menjadi hal yang penting. Publik berhak mengetahui alasan sebenarnya di balik kebijakan PHK, terutama ketika perusahaan sedang menikmati keuntungan yang sangat besar.

Efisiensi Sejati Adalah Efisiensi yang Berkeadilan

Sejarah membuktikan bahwa setiap revolusi teknologi selalu mengubah dunia kerja. Namun, keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan finansial, melainkan juga dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara kepentingan bisnis dan nilai-nilai kemanusiaan.

Prinsip Stakeholder Theory tetap relevan hingga hari ini. Perusahaan yang mampu memperlakukan karyawan, pelanggan, investor, dan masyarakat sebagai mitra strategis akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk tumbuh secara berkelanjutan.

Efisiensi yang sesungguhnya bukan sekadar menghasilkan laba terbesar dalam satu kuartal. Efisiensi sejati adalah kemampuan menciptakan nilai ekonomi tanpa mengorbankan martabat manusia.

Sebab ketika sebuah perusahaan memiliki kemampuan untuk memperlakukan karyawannya dengan lebih baik, tetapi memilih untuk tidak melakukannya, maka keputusan tersebut bukan lagi sekadar strategi bisnis.

Ia adalah sebuah pilihan moral.

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan institusi mana pun.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.