,

KEBUMEN, Kebumen24.com – Sebanyak 600 nelayan di Kebumen mendapat bantuan premi asuransi melalui APBD kabupaten. Pemberian bantuan tersebut diawali dengan penandatanganan kerjasama antara Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kebumen dengan PT Asuransi Jasindo.

 

Kegiatan yang dilaksanakan di aula Dislutkan Kebumen itu dilakukan langsung oleh Plt Kepala Dislutkan Kebumen Nugroho Tri Waluyo dan Kepala Cabang Jasindo Purwokerto Toni Hendrawan, Jumat 29 Mei 2020.

 

Nugroho mengatakan, bantuan premi itu baru dibiayai APBD kabupaten 2020. Sebelumnya yang sudah dimulai 2016 dibiayai APBN dan 2019 dibiayai APBD Provinsi. Jumlahnya  sekitar 3 ribu nelayan yang sudah menerima bantuan tersebut.

 

“Tahun 2016 yang mengklaim meninggal sampai Rp 3 miliar. Program ini tentu memberi ketenangan bagi keluarga. Namun diharapkan tidak terjadi lagi,” ucap Nugroho.

 

Dikatakan, awalnya untuk penerima program bantuan premi asuransi nelayan mandiri terpercaya (Simantep) untuk kategori hijau itu terdata sebanyak 925 nelayan. Karena Covid-19, dirasionalisasi menjadi 600 nelayan saja.

 

Sebanyak 600 nelayan itu berasal dari 10 kecamatan. Terdiri atas 552 nelayan laut, sisanya 48 nelayan perairan darat.

 

Kepala Cabang Jasindo Purwokerto Toni Hendrawan mengemukakan, premi hanya Rp 75.000 dengan pertanggungan Rp 50 juta bagi yang mengalami kecelakaan di laut.

 

“Kalau terpenuhi itu, maka polis berakhir,” terang Toni.

 

Bagi nelayan yang mengalami kecelakaan di luar laut, akan mendapatkan santunan Rp 5 juta. Ada pula biaya pengobatan karena kecelakaan di luar laut Rp 5 juta. Adapun cacat tetap akibat kecelakaan maksimal Rp  25 juta. “Untuk santunan meninggal dunia biasa Rp 5 juta,” imbuhnya. (K24/THR)

,

KEBUMEN, Kebumen24.com – Bupati Kebumen KH Yazid Mahfudz, menjalani rapid test atau tes cepat Covid-19 di Pasar Dorowati, Kecamatan Klirong. Tes cepat itu dilakukan disela-sela meninjau Rapid Diagnose Test (RDT) massal di pasar tradisional tersebut. Dari hasil radip test, orang nomor satu di Kabupaten Kebumen itu dinyatakan Non Reaktif Covid-19. (lebih…)

,

SEMPOR, Kebumen24.com – Warga Desa Kedungjati Kecamatan Sempor Kebumen mendadak digegerkan adanya kebakaran rumah milik salah satu warga. Akibat kejadian itu seorang ibu rumah tangga yang juga pemilik rumah bernama Jumiah (66) dilaporkan meninggal dunia karna ikut terbakar saat itu.

 

Kapolres Kebumen AKBP Rudy Cahya Kurniawan melalui Kapolsek Sempor AKP Sugito mengatakan, kebakaran diketahui sekira pukul 03.00 Wib oleh anak korban Sutirah (41) pada Sabtu 30 Mei 2020 kemarin.

 

Saat itu Sutirah ingin mengecek ke dapur karena ibunya tidak berada di dalam rumah. Ketika menuju dapur, ternyata dapur telah ludes dilalap api, berikut ibunya. Dalam kesehariannya, diketahui korban tinggal bertiga bersama anak perempuan dan cucunya.

 

Adapun dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan oleh Inafis Polres Kebumen, kuat dugaan kebakaran terjadi tidak ada unsur pidana. Berdasarkan bukti di lapangan yang ditemukan Inafis, kebakaran terjadi karena api kompor gas yang menjalar ke dinding dapur yang terbuat dari kayu.

 

“Keterangan kerabat, korban sering terbangun dini hari selanjutnya masak di dapur. Kuat dugaan saat masak, api membesar menyambar dinding dapur yang terbuat dari kayu dan selendang (kain jarit) korban,” jelas Kapolsek saat dikonfirmasi, Minggu 31 Mei 2020.

 

Setelah dilakukan pemeriksaan, Jenazah kemudian diserahkan kepada pihak keluarga dan sudah makamkan kemarin. (K24/THR)

, ,

KEBUMEN, Kebumen24.com – Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (RMI-PCNU) Kabupaten Kebumen Gus Fachrudin Achmad Nawawi meminta Pemerintah Untuk tidak terburu buru menerapkan news normal jika belum benar benar siap. Khususnya di Pondok Pesantren.

 

Menurutnya, Jumlah dan Pertumbuhan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 masih tinggi dan juga mengkhawatirkan. Sementara prasarana untuk mencegah penularan Covid-19, terutama jaga jarak social maupun physical distancing juga masih sulit diwujudkan.

 

‘’ Melihat kondisi sekarang ini seharusnya pemerintah tetap waspada dan memastikan aturan seperti PSBB dapat berjalan secara efektif. Jika akan dilaksanakan New Normal (Kelaziman Baru) menurut saya ini sangat beresiko dan penyebaran Covid-19 akan semakin meluas, termasuk dalam lembaga Pendidikan,’’Ujar Gus Fachru melalui Rilis tertulisnya Jumat 29 Mei 2020.

 

Terkait Pesantren, Lanjut Gus Fachru, pemerintah dinilai hingga saat ini belum ada perhatian dan kebijakan khusus untuk menangani Covid-19. Sudah begitu tiba-tiba pemerintah akan menerapkan pemberlakukan New Normal di kehidupan pesantren. Jika dipaksaan justru dikawatirkan penyebaran virus corona akan masuk ke pesantren dan dapat menjadi klaster baru pandemi Covid-19.

 

‘’ Untuk itu, Kami RMI-PCNU Kabupaten Kebumen menyatakan bahwa pelaksanaan new normal di pesantren tidak dapat dilakukan jika tidak ada dukungan pemerintah,’’imbuhnya.

 

Lebih jauh Gus Fachru mengatakan perlunya adanya Kebijakan pemerintah yang kongkrit dan berpihak sebagai wujud keseriusan pemerintah dalam menjaga pesantren dari resiko penyebaran virus covid 19. Selain itu juga diperlukanya dukungan fasilitas kesehatan untuk pemenuhan pelaksanaan protocol kesehatan, seperti rapid test, hand sanitizer, akses pengobatan dan tenagaahli kesehatan.

 

Adapun dukungan sarana dan fasilitas pendidikan lainya yang harus diperhatikan, yaitu meliputi fasilitas pembelajaran online bagi santri yang belum bisa kembali ke pesantren dan biaya pendidikan (Syahriyah/SPP dan Kitab ) bagi santri yang terdampak secara ekonomi.

 

‘’ Apabila tidak ada kebijakan nyata seperti yang diatas maka RMI-PCNU Kabupaten Kebumen menyarankan pesantren memperpanjang masa belajar di rumah. Dan Kami minta agar setiap keputusan yang diambil terkait dengan nasib pesantren, kalangan Pondok pesantren harusnya juga dilibatkan,’’pungkas Ketua RMI NU Kebumen. (K24/THR)