KesehatanReligiSENI BUDAYASOSIAL

Tradisi Ritual Sengkala, Diyakini Bisa Membuang Sial dan Marabahaya

4821
×

Tradisi Ritual Sengkala, Diyakini Bisa Membuang Sial dan Marabahaya

Sebarkan artikel ini
Foto prosesi Ruwat sengkala

KARANGANYAR, Kebumen24.com – Dipercaya bisa membersihkan diri manusia agar terhindar dari berbagai masalah kesialan maupun penyakit atau sengkala. Sebanyak 10 orang mengikuti ritual ruwatan sengkala yang dilaksanakan di Padepokan Sehat Medika 2 Kelurahan Jatiluhur Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen Jawa Tengah.

 

Kegiatan dipimpin langsung  oleh Pemilik Padepokan yang juga Ketua Umum Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) R. Suman Sri Husodo. Selain itu, acara juga dihadiri Ketua I PEPADI H. Adi Pandoyo. Ketua Dewan Kesenian Daerah dan FK Metra Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo serta sejumlah Budayawan se- Kabupaten Kebumen dan tokoh masyarakat.

 

Prosesi ritual ruwatan diawali dengan doa empat penjuru arah mata angin yang kemudian dilanjutkan dengan doa bersama memohon kepada sang pencipta. Acara ruwatan dan sekaligus pertunjukan wayang kulit itu, berlangsung Kamis 28 Mei 2020.

 

Foto Suasana Kegiatan Ritual Sengkala

Ketua Umum Pepadi  R. Suman Sri Husodo mengatakan meruwat berasal dari kata ruwat dalam bahasa jawa, yang memiliki arti membuang sial atau menyelamatkan orang dari gangguan tertentu. Gangguan itu bisa dikatakan sebagai kelainan dari suatu kondisi yang umum dalam suatu keluarga maupun pada diri seseorang.

 

“Ruwat ini salah satu tradisi untuk membuang sial atau gangguan, untuk kesembuhan kita serahkan ke sama sang pencipta “, kata pria yang akrab disapa Mbah Suman

 

Mbah Suman menambahkan, pada ruwatan dilakukan kepada salah seorang pasiennya yang bernama Slamet (25) warga asal Desa Kedunggong RT 03 RW 03 Kecamatan Sadang. Slamet sendiri merupakan merupakan putra bungsu dari 10 bersarudara. Ke sepuluh orang pun ikut serta dalam prosesi ruwatan sengkala tersebut.

 

“Ruwat ini sepersetujuan orang 10 yang merupakan saudara kandung”, imbuhnya

 

Dijelaskanya, anak tersebut seblumnya telah menghilang selama kurang lebih 3 tahun ke pulau seberang dan sempat ngelmu (mencari kesaktian). Dan setibanya kembali di kampung halaman, Slamet memliki kelainan atau gangguan kejiwaan.

 

Lebih lnjut Mbah Suman juga mengungkapkan, terkait maraknya wabah Covid 19, dirinya sangat prihatin dan berharap wabah ini bisa segera berlalu. Kendati begitu Mbah Suman juga meminta kepada seluruh masyarakat untuk senantiasa mengikuti anjuran pemerintah dan selalu menerapkan hidup sehat.

 

‘’ Kami sangat prihatin tentunya dengan kondisi sekarang ini, semoga wabah corona bisa segara sirna dari muka bumi ini dan masyarakat bisa kembali beraktifitas secara normal,’’pungkasnya.

 

Sementara itu Kino salah satu kakak kandung pasien mengatakan, ruwatan ini merupakan metode penyembuhan yang disarankan setelah melakukan terapi sekitar satu minggu di padepokan tersebut. Sebelumnya adiknya tersebut telah dibawa ke berbagai pengobatan alternatif bahkan ke Rumah Sakit Jiwa namun tak kunjung sembuh. Hingga akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk membawanya ke Padepokan Sehat Medika milik Mbah Suman.

 

“Adik saya tiba-tiba seperti anak indigo, dan ada kelainan bahkan kita sempat bawa ke RSJ tapi Alhamdulillah di sini sudah seminggu dan sudah membaik. Semoga dengan di ruwat adik saya bisa kembali sperti sebelumnya”, tuturnya. (K24/ARTA)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.