Pendidikan

Soroti Ancaman HIV, Hepatitis B, dan Sifilis pada Ibu Hamil, Dosen Unimugo Tekankan Pentingnya Deteksi Dini

442
×

Soroti Ancaman HIV, Hepatitis B, dan Sifilis pada Ibu Hamil, Dosen Unimugo Tekankan Pentingnya Deteksi Dini

Sebarkan artikel ini

GOMBONG, Kebumen24.com – Persoalan penularan HIV, Hepatitis B, dan sifilis pada ibu hamil masih menjadi tantangan serius di dunia kesehatan. Kondisi ini tidak hanya mengancam keselamatan ibu, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan bayi sejak dalam kandungan hingga masa menyusui.

Hal itu disampaikan dosen Universitas Muhammadiyah Gombong, Dr. Siti Mutoharoh, dalam orasi ilmiah pada acara Wisuda Program Diploma, Sarjana, dan Angkat Sumpah Profesi Periode I Tahun Ajaran 2025/2026, di Aula Universitas Muhammadiyah Gombong, Sabtu 9 Mei 2026.

Melalui orasi ilmiah bertajuk “Fidelity Program Tripel Eliminasi Ibu Hamil di Kabupaten Kebumen: Implementation Research”, ia menegaskan bahwa keberhasilan program kesehatan tidak cukup hanya dengan menghadirkan layanan, tetapi juga memastikan layanan tersebut benar-benar berjalan efektif dan mampu menjangkau masyarakat secara luas.

“Keberhasilan suatu program kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya program tersebut, tetapi juga oleh bagaimana program itu dijalankan secara nyata di lapangan,” ungkapnya di hadapan para wisudawan dan tamu undangan.

Dalam pemaparannya, Siti Mutoharoh menjelaskan bahwa program tripel eliminasi untuk mencegah penularan HIV, Hepatitis B, dan sifilis sebenarnya telah diterapkan di berbagai layanan kesehatan, terutama puskesmas. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan yang membuat cakupan pemeriksaan ibu hamil belum maksimal.

Penelitian yang ia lakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan menganalisis data program tripel eliminasi ibu hamil di Kabupaten Kebumen tahun 2020 hingga 2023. Selain itu, penelitian juga diperkuat melalui wawancara dengan tenaga kesehatan dan ibu hamil.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa cakupan pemeriksaan HIV, Hepatitis B, dan sifilis pada ibu hamil di Kabupaten Kebumen masih berada di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menargetkan minimal 95 persen pemeriksaan.

Cakupan pemeriksaan sempat mengalami peningkatan dari sekitar 75 persen pada tahun 2020 menjadi 84 persen pada tahun 2022. Namun, angka tersebut kembali mengalami penurunan pada tahun 2023.

Meski demikian, ia mengapresiasi layanan kesehatan yang telah memberikan penanganan sesuai standar kepada seluruh ibu hamil yang terdeteksi positif.

“Hal ini menunjukkan bahwa tantangan utama program bukan pada pengobatan, tetapi pada menjangkau lebih banyak ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan sejak dini,” jelasnya.

Menurutnya, masih terdapat sejumlah hambatan yang memengaruhi optimalisasi program, mulai dari rendahnya pemahaman masyarakat, rasa takut untuk menjalani pemeriksaan, variasi pelayanan di fasilitas kesehatan, hingga keterbatasan akses menuju puskesmas.

Di tengah berbagai kendala tersebut, peran bidan dan kader kesehatan dinilai sangat penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi secara langsung.

Siti Mutoharoh berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah maupun fasilitas kesehatan untuk memperkuat kebijakan, monitoring program, serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar layanan kesehatan ibu hamil semakin optimal dan merata.

“Keberhasilan program tripel eliminasi tidak hanya diukur dari seberapa banyak layanan diberikan, tetapi dari seberapa baik layanan tersebut mampu melindungi ibu dan generasi yang akan datang,” pungkasnya.(K24/ilham).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.