NASIONALReligiSEJARAH

Pencetus Kemenag RI, Ayah Kandung Mantan Bupati Kebumen

13966
×

Pencetus Kemenag RI, Ayah Kandung Mantan Bupati Kebumen

Sebarkan artikel ini
Foto ; KH Abu Dardiri, dan Mantan Bupati Kebumen Ir. H. Mohammad Yahya Fuad, S.E. priode 2016 hingga 2021. Dok: Muhammadiyah (Editor Kebumen24.com)

KEBUMEN, Kebumen24.com – Bagi masyarakat pada umumnya, mungkin masih sedikit yang tahu jika pencetus atau pengusul terbentuknya Kementarian Agama Republik Indonesia, KH Abu Dardiri merupakan Ayah Kandung dari Mantan Bupati Kebumen Ir. H. Mohammad Yahya Fuad, S.E. priode 2016 hingga 2021. Yahya Fuad lahir dari rahim sang ibu atau istri Abu Dardiri bernama Hj Siti Nururrohmah, di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, 15 Maret 1965.

Hal itu dibenarkan salah satu putra kandung Yahya Fuad, dr. Faiz Alauddien Reza Mardhika yang saat ini merupakan Calon Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah terpilih. Diakui, KH Abu Dardiri merupakan Kakek kandung dari Ayahandanya.

‘’ Ya benar KH, KH Abu Dardiri adalah Kakek Kandung Saya dari Ayahanda Mohammad Yahya Fuad. Bukti otentiknya adalah Akte Kelahiran ada,’Ayah saya putra pertama dari Ibu Hj Siti Nururrohmah, Kemudian Kakek meninggal saat Ayah saya umur 2 Tahun, ’tutur dr. Reza kepada Media, Selasa, 18 Juni 2024.

Politisi Muda ini mengungkapkan, hampir setiap tahun rutin berziara ke Makam sang Kakek di Banyumas. Terutama saat Harlah Kemenag.

‘’Saya sering dengan Ayah dan Ibu saya Dra Hj Lilis Nuryani ziarah ke Makam kakek, terutama setiap Harlah Kemenag,’’katanya.

Seperti diketahui, Ir. H. Mohammad Yahya Fuad, dikenal sebagai pengusaha di bidang kontraktor bangunan, pengembang perumahan (developer), pabrik pupuk organik (petroganik), SPBE (stasiun pengisian bahan elpiji), SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum), dan biro perjalanan (tour & travel) yang berkedudukan di Gombong.

Selain itu, ia juga seorang aktivis organisasi keagamaan Muhammadiyah. Ia tercatat sebagai salah seorang ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kebumen. Ia juga Pembina Dewan Kesenian Kebumen, dewan kehormatan PMI Kebumen.

Namun, pada 23 Januari 2018, Yahya Fuad ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terkait dugaan gratifikasi dalam pengadaan barang dan jasa di Pemerintah Kabupaten Kebumen tahun 2016.

Bupati Kebumen (nonaktif) M Yahya Fuad dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 4 tahun penjara dalam kasus suap sejumlah proyek di Kabupaten Kebumen selama kurun waktu 2016. Pada 19 Februari, Yahya kemudian ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sedangkan anaknya, Faiz Alaudien Reza Mardihka, menikah dengan Fajrina Khairiza yang merupakan anak dari Sugeng Suparwoto dan Amelia Anggraeni Politikus dan Anggota DPR RI dari Partai NasDem.

Dikutip dari berbagai sumber media dan situs sejarah menyebutkan, Kementarian Agama Republik Indonesia terbentuk lewat Penetapan Pemerintah No 1/S.D. tanggal 3 Januari 1946. Meski begitu, proses pembentukan Kemenag tidaklah langsung terjadi, namun melalui sejarah panjang dan dinamika yang kelit serta berbagai pertimbangan.

Pembentukan Kementerian Agama pertama kali diusulkan dalam Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 11 Juli 1945 oleh Muhammad Yamin. Namun, usulan tersebut belum dianggap mendesak sehingga Kementerian Agama belum juga dibentuk.

Pada waktu itu, keputusan tidak dibentuknya Kementerian Agama mengecewakan golongan Islam karena merasa sudah berkorban dengan menghilangkan tujuh kata di Piagam Jakarta yang merupakan rancangan dari pembukaan UUD 1945. Tujuh kata tersebut ialah “Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-Pemeluknya”.

Kemudian usulan pembentukan Kementerian Agama kembali digaungkan pada sidang Pleno Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang diselenggarakan pada tanggal 25-27 November 1945. Sidang pleno dihadiri 224 orang anggota, di antaranya 50 orang dari luar Jawa (utusan Komite Nasional Daerah).

Sidang dipimpin oleh Ketua KNIP Sutan Sjahrir dengan agenda membicarakan laporan Badan Pekerja (BP) KNIP, pemilihan keanggotaan/Ketua/Wakil Ketua BP KNIP yang baru dan tentang jalannya pemerintahan.

Dalam sidang pleno KNIP tersebut usulan pembentukan Kemenag disampaikan oleh utusan Komite Nasional Indonesia Daerah Keresidenan Banyumas. Yakni K.H. Abu Dardiri, bersama K.H.M Saleh Suaidy, dan M. Sukoso Wirjosaputro.

Bersama dengan sejumlah koleganya dari Partai Masyumi, Legislator itu mengutarakan pentingnya sebuah kementerian yang khusus dan tersendiri dalam menangani urusan agama. Jangan sampai perkara agama, umpamanya, disambilkan kepada Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan.

Kiai Abu Dardiri merupakan tokoh yang lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 24 Agustus 1895. Ia tumbuh menjadi pribadi yang gemar belajar ilmu-ilmu agama. Di samping itu, kedua orang tua mendidiknya agar berkepribadian tangguh dan cekatan. Alhasil, lelaki ini menekuni dunia usaha dari nol. Bekerja dan berdoa, itulah siklus kesehariannya.

KH Abu Dardiri tidak hanya berjuang di ranah politik. Sebelum Indonesia merdeka, dirinya aktif dalam organisasi masyarakat (ormas) Islam, Muhammadiyah. Karena itu, ideologinya ialah kebangsaan sekaligus keislaman. Antara keduanya tidak saling dipertentangkan, melainkan selaras dan menguatkan satu sama lain.

Kiai Abu Dardiri menempuh perjalanan hidup yang penuh tantangan. Sebelum menjadi seorang pedagang yang sukses, ia berprofesi sebagai buruh di sebuah pabrik gula. Namun, perusahaan tersebut yang sedang dilanda masalah finansial memberhentikannya dari pekerjaan.

Praktis, ia dan keluarganya sempat mengalami saat-saat yang sulit. Bahkan, istrinya pernah tidak bisa menanak nasi beberapa hari lamanya karena memang tiada beras tersisa di rumah. Sang kepala rumah tangga sedang tidak berpenghasilan sama sekali.

Namun, Abu Dardiri tidak berputus asa. Ia justru semakin tekun, selalu berupaya mendekatkan diri dengan Allah SWT. Selama 40 hari berturut-turut, ia dan istri rutin mendirikan shalat hajat. Amalan itu sebagai wasilah bagi mereka dalam mengadukan persoalan hidup kepada Allah Ta’ala.

Suatu hari, sang istri mengalami sakit yang cukup parah. Abu Dardiri lantas membawanya pulang ke rumah orang tua di Gombong. Untuk menutupi biaya perjalan, ia terpaksa menjual beberapa pakaian, termasuk jas kesayangan.

Di balik kesukaran, ada kemudahan. Begitulah janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa. Hal itu dialami pula oleh Abu.

Dalam perjalanannya menuju Gombong, ia bertemu dengan teman lamanya yang kemudian menawarkan pekerjaan sebagai karyawan di pabrik gula, Solo.Tawaran itu pun diterimanya.

Dari waktu ke waktu, Abu dengan giat bekerja di pabrik tersebut. Di luar jam kerja, dirinya berjualan alat ikat tebu. Keuntungan yang diperolehnya ia gunakan untuk membiayai perawatan sang istri. Sebagian lagi ditabung untuk mewujudkan cita-citanya, naik haji.

Keberaniannya mulai tebal untuk membuka usaha sendiri. Ia merambah usaha percetakan. Dengan penuh kesabaran dan keuletan, lelaki ini dapat mengembangkan bisnisnya yang berpusat di Purwokerto, Jawa Tengah.

Abu Dardiri bukanlah tipe pebisnis yang semata-mata mencari uang untuk menumpuk kekayaan. Dengan harta yang dimilikinya, Abu justru kian tergerak untuk berbagi. Sikapnya dermawan kepada mereka yang membutuhkan. Di samping itu, semangatnya dalam berorganisasi kian besar. Ia pun bergabung dengan ormas Islam Muhammadiyah.

Pada 1920, ia menerima amanah sebagai ketua Muhammadiyah cabang Purbalingga. Sembari menjalankan bisnis percetakannya, Abu pun banyak berjuang dan berdakwah di persyarikatan yang diinisiasi KH Ahmad Dahlan itu.

Pada 1940, Muhammadiyah cabang Banyumas menyelenggarakan konferensi daerah. Salah satu agenda ialah memilih konsul. Dalam forum tersebut, Kiai Abu Dardiri memperoleh suara terbanyak. Ia pun terpilih menjadi konsul Muhammadiyah yang membawahi seluruh keresidenan Banyumas. Jabatan tersebut saat itu masuk dalam struktur pimpinan pusat (hoofdbestuur) Muhammadiyah.

Untuk menjalankan tugasnya, Kiai Dardiri kemudian pindah dari Purbalingga. Pada 1943, ia dan keluarga mulai menetap di Purwokerto. Sementara, jabatan lamanya sebagai ketua Muhammadiyah Purbalingga diserahkan kepada kader yang lain.

Di ranah bisnis, ia tetap aktif menjalankan percetakan. Di ranah organisasi, dirinya terus berkhidmat di Muhammadiyah. Ketika Jepang mulai menduduki Nusantara, keadaan sempat kacau. Dengan pendekatan militeristik, Nippon berhasil mengukuhkan pemerintahan pendudukan di Indonesia.

Waktu itu, Jepang membiarkan jawatan agama tetap beroperasi. Di Jawa Tengah, Kiai Dardiri ditunjuk sebagai kepala Jawatan Agama (syumokatyo) untuk wilayah Karesidenan Banyumas. Dalam menunaikan tugasnya, ia banyak memberikan kebaruan. Misalnya, usul bahwa sekolah-sekolah rakyat (SR) harus menyediakan guru dan pelajaran agama. Usulan itu pun diterima oleh pemerintah Jepang. Dan akhirnya, SR di daerah Banyumas diberi pelajaran agama.

Memasuki masa kemerdekaan pada 1945, Kiai Dardiri terpilih sebagai Ketua Partai Masyumi Purwokerto. Namun, sepak terjang Kiai Dardiri di Partai Masyumi belum banyak diungkapkan lantaran masih sedikitnya literatur tentang riwayat hidupnya.

KH Abu Dardiri meninggal dunia pada 1 Agustus 1967 di kediamannya di Jalan Ragasemangsang, Purwokerto, Jawa Tengah. Wafat dalam usia 72 tahun, dirinya meninggalkan dua orang istri dan lima orang anak.

Jenazahnya dikebumikan di komplek pemakaman umum Jalan Pekih Purwokerto. Makamnya kerap diziarahi oleh para pegawai Kemenag RI. Mereka memandang sang alim sebagai inisiator kementerian ini.(K24/*).

Sumber :

Kompas.com

Republika.id

Kemenag.go.id

Muhammadiyah.or.id


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.