KUTOWINANGUN, Kebumen24.com – Siapa sangka lahan pekarangan rumah seluas sekitar 100 ubin mampu menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Berbekal ketekunan dan pengalaman, Havril Setiawan, warga Dukuh Keceme RT 01 RW 03, Desa Mrinen, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, berhasil mengembangkan usaha pembibitan kelapa yang kini memasuki tahun kedua dan mampu menembus pasar hingga luar Pulau Jawa.
Di area pembibitan miliknya, Havril saat ini mengelola sekitar 10.000 bibit kelapa dari berbagai varietas unggulan. Sebanyak 5.000 bibit masih berada pada tahap pendederan, sementara 5.000 bibit lainnya telah tumbuh dengan tinggi sekitar 50 sentimeter hingga satu meter dan siap dipasarkan kepada para pembeli.
Beragam jenis kelapa dibudidayakan, mulai dari kelapa Jawa, kelapa Gading, kelapa Wulung, kelapa Puyuh, hingga kelapa Genjah Entok. Seluruh bibit dipersiapkan melalui proses seleksi dan perawatan yang cukup ketat agar memiliki kualitas yang baik saat ditanam.
Menurut Havril, proses pembibitan membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam bulan sejak benih memasuki tahap pendederan hingga siap dipasarkan. Harga bibit yang ditawarkan pun bervariasi, berkisar antara Rp15.000 hingga Rp50.000 per batang, tergantung jenis, umur, dan ukuran bibit.
Permintaan bibit kelapa tidak hanya datang dari Kebumen dan daerah sekitarnya. Usaha yang dirintis dari pekarangan rumah tersebut kini telah melayani pengiriman ke berbagai wilayah di Indonesia, seperti Jawa Timur, Sumatra, hingga Kalimantan.
“Yang paling banyak diminati itu kelapa Jawa. Kalau pengiriman ke Sumatra dan Kalimantan biasanya untuk kebutuhan program hilirisasi dan penghijauan,” ujar Havril saat ditemui, Sabtu (1/8/2026).
Meski terlihat sederhana, usaha pembibitan kelapa memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah menjaga tingkat keberhasilan pertumbuhan bibit agar tetap tinggi. Havril menjelaskan, bibit yang berasal dari buah kelapa yang masih terlalu muda memiliki peluang tumbuh lebih rendah dibandingkan kelapa yang telah benar-benar tua.
Selain memilih benih berkualitas, pengelolaan kelembapan media tanam juga menjadi faktor penting. Media yang terlalu basah berisiko memicu pertumbuhan jamur yang dapat menghambat perkembangan bibit.
“Kalau kelembapan terlalu tinggi biasanya muncul jamur. Saat musim hujan kami mengurangi penyiraman supaya media tidak becek. Sebaliknya saat musim kemarau, yang penting kelembapannya tetap terjaga,” jelasnya.
Pengalaman selama dua tahun mengelola pembibitan membuat Havril semakin memahami karakter pertumbuhan bibit kelapa. Berbagai kendala yang sempat dihadapi kini dapat diantisipasi melalui teknik perawatan yang lebih tepat.
Berkat pengelolaan yang semakin baik, tingkat kegagalan bibit tumbuh berhasil ditekan hingga hanya sekitar 10 persen, sehingga kualitas bibit yang dipasarkan pun semakin terjaga.
“Yang penting media tetap lembap tapi tidak becek. Kalau kelapanya sudah tua, peluang tumbuhnya tinggi. Kalau masih terlalu muda, peluang hidupnya bisa sekitar lima puluh banding lima puluh. Alhamdulillah sekarang yang gagal tumbuh hanya sekitar 10 persen,” pungkas Havril.(K24/ILHAM).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















