Ekonomi

Tak Sebanding Harga Pakan, Harga Telur Anjlok, Peternak Kebumen Terancam Gulung Tikar

×

Tak Sebanding Harga Pakan, Harga Telur Anjlok, Peternak Kebumen Terancam Gulung Tikar

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Harga telur ayam ras di tingkat peternak terus mengalami tekanan. Di tengah biaya pakan yang justru meningkat, harga jual telur kini turun hingga sekitar Rp21 ribu per kilogram. Kondisi tersebut membuat margin keuntungan peternak semakin tipis dan membuka ancaman kerugian apabila berlangsung berkepanjangan.

Kondisi itu dirasakan peternak ayam petelur di Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Mereka menghadapi situasi yang serba sulit: biaya produksi meningkat, sementara harga hasil produksi justru bergerak turun.

Salah seorang peternak, Alex Solehudin, mengatakan penurunan harga telur telah berlangsung sejak Maret 2026. Hingga kini, belum terlihat tanda-tanda pemulihan harga yang berarti.

Menurutnya, harga telur di tingkat peternak saat ini berada di kisaran Rp21 ribu per kilogram. Angka tersebut cukup jauh dibandingkan harga pada Ramadan lalu yang sempat mencapai sekitar Rp28 ribu per kilogram.

Di sisi lain, harga pakan ayam justru mengalami kenaikan. Saat ini, harga pakan disebut mencapai sekitar Rp378 ribu per sak, atau kurang lebih Rp7.600 per kilogram.

Kesenjangan antara harga jual telur dan biaya pakan tersebut menjadi persoalan utama bagi peternak. Sebab, pakan merupakan salah satu komponen terbesar dalam biaya produksi ayam petelur.

Untuk bertahan, peternak kini berupaya melakukan efisiensi dengan mencampurkan pakan pabrikan dengan bekatul dan jagung giling. Langkah itu dilakukan untuk menekan pengeluaran tanpa mengganggu produktivitas ayam secara signifikan.

Alex mengatakan, usaha ternaknya saat ini belum bisa berjalan dengan kapasitas penuh. Dari kapasitas kandang sekitar 1.000 ekor, populasi ayam yang dipeliharanya baru sekitar 250 ekor.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya berdampak pada keuntungan peternak, tetapi juga dapat memengaruhi keberlanjutan usaha. Jika harga telur terus berada di bawah tingkat yang mampu menutup biaya produksi secara layak, peternak kecil akan semakin sulit mempertahankan usahanya.

Peternak berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memperhatikan persoalan keseimbangan antara harga telur di tingkat peternak dan biaya produksi. Bagi mereka, harga yang stabil di kisaran Rp25 ribu per kilogram dinilai lebih realistis untuk memberikan ruang keuntungan sekaligus menjaga keberlangsungan usaha.

“Sebagai peternak pemula, harapan saya mudah-mudahan harga bisa stabil di angka Rp25 ribu per kilogram,” ujar Alex, Selasa 18 Agustus 2026.

Persoalan harga telur memang tidak sederhana. Di satu sisi, konsumen menginginkan harga pangan tetap terjangkau. Namun di sisi lain, harga di tingkat peternak juga harus cukup untuk menutup biaya produksi dan memberikan keuntungan yang wajar.

Jika disparitas tersebut terus melebar tanpa ada solusi, bukan tidak mungkin semakin banyak peternak rakyat memilih mengurangi populasi bahkan menghentikan usahanya. Pada akhirnya, kondisi itu juga berpotensi memengaruhi keberlangsungan pasokan telur di tingkat masyarakat.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.