KEBUMEN, Kebumen24.com – Suasana duka mendalam menyelimuti Desa Tlogosari, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Sabtu (13/6/2026). Jenazah Sri Rahayu (21), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal desa setempat yang menjadi korban pembunuhan di Jepang, akhirnya tiba di kampung halaman dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tlaga.
Kedatangan jenazah almarhumah disambut isak tangis keluarga, kerabat, dan warga yang telah menunggu sejak siang hari di rumah duka yang berada tepat di seberang Balai Desa Tlogosari. Ratusan pelayat memadati lokasi untuk memberikan penghormatan terakhir kepada perempuan muda yang selama ini bekerja di Negeri Sakura.
Jenazah Sri Rahayu dipulangkan dari Jepang menggunakan maskapai Garuda Indonesia dengan rute penerbangan Tokyo–Denpasar–Yogyakarta. Peti jenazah tiba di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) pada Sabtu siang sebelum diberangkatkan menuju Kebumen melalui jalur darat.
Setibanya di rumah duka, jenazah langsung dimandikan, disucikan, dan disalatkan oleh keluarga serta masyarakat sekitar. Prosesi berlangsung khidmat dengan diiringi doa-doa yang dipanjatkan untuk almarhumah.
Turut hadir dalam prosesi takziyah tersebut Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kebumen yang mewakili Bupati Kebumen, perwakilan BP3MI Provinsi Jawa Tengah, Migrant Care Kebumen, BPJS Ketenagakerjaan, Forkopimcam Ayah, serta Pemerintah Desa Tlogosari.
Tepat pukul 17.09 WIB, jenazah diberangkatkan menuju TPU Tlaga yang berjarak sekitar 400 meter dari rumah duka. Ratusan warga tampak mengiringi perjalanan terakhir almarhumah menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Sebelum prosesi pemakaman berlangsung, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kebumen, Cokro Aminoto, menyampaikan belasungkawa mendalam sekaligus apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu proses pemulangan jenazah dari Jepang hingga tiba dengan selamat di tangan keluarga.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses repatriasi sehingga berjalan dengan lancar. Mari kita doakan semoga almarhumah diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan,” ujar Cokro Aminoto dalam sambutannya.
Berdasarkan laporan resmi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo, Sri Rahayu merupakan pekerja migran dengan status Specified Skilled Worker (SSW) di sektor pertanian yang bekerja pada perusahaan Ke-ai Farm di Jepang.
Korban dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (4/6/2026) setelah menjadi korban tindak pidana pembunuhan di kawasan trotoar dekat permukiman warga di Kota Chitose, Prefektur Hokkaido.
Dokumen Surat Keterangan Kematian yang diterbitkan KBRI Tokyo berdasarkan hasil otopsi dari Forensic Medicine Hokkaido University menyebutkan bahwa Sri Rahayu meninggal akibat syok hemoragik (hemorrhagic shock) yang dipicu cedera berat pada organ jantung dan paru-paru sebelah kiri.
Dalam kasus tersebut, kepolisian Chitose telah mengamankan seorang terduga pelaku berinisial MAL (27), warga negara Indonesia yang diketahui berasal dari Jepara dan berdomisili di Bekasi. Aparat setempat menduga peristiwa tragis itu dipicu persoalan hubungan asmara.
Insiden tersebut juga menyebabkan seorang PMI lainnya berinisial SAR (20) mengalami luka-luka. Selain itu, seorang anggota kepolisian Jepang turut terluka saat berupaya mengamankan situasi di lokasi kejadian.
Meski Sri Rahayu diketahui berangkat bekerja ke Jepang secara prosedural, dokumen KBRI Tokyo mencatat bahwa almarhumah tidak memiliki asuransi mandiri yang mencakup biaya pemulangan jenazah ke Indonesia.
Namun melalui koordinasi intensif antara KBRI Tokyo, lembaga pendamping pekerja migran di Jepang (Touroku Shien Kikan), serta pihak perusahaan tempat korban bekerja, seluruh biaya repatriasi berhasil difasilitasi hingga jenazah dapat dipulangkan ke tanah air.
Biaya pemulangan jenazah dari Jepang ke Indonesia tersebut diperkirakan mencapai Rp80 juta hingga Rp120 juta. Berkat kerja sama berbagai pihak, proses repatriasi dapat terlaksana dengan lancar hingga jenazah tiba di Kebumen dan dimakamkan oleh keluarga.
Kepergian Sri Rahayu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Desa Tlogosari. Doa-doa terus mengalir, mengiringi perjalanan terakhir perempuan muda yang merantau demi menggapai masa depan, namun harus berpulang dalam peristiwa tragis di negeri orang.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















