SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Kenoyojayan Ambal: Dari Legenda Mbah Santri hingga Tradisi yang Tetap Lestari

589
×

Jejak Sejarah Desa Kenoyojayan Ambal: Dari Legenda Mbah Santri hingga Tradisi yang Tetap Lestari

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kenoyojayan, yang terletak di pusat Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, bukan hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan kecamatan, tetapi juga menyimpan kisah sejarah panjang yang sarat nilai budaya dan spiritual.

Sebagai ibu kota Kecamatan Ambal, Desa Kenoyojayan menjadi lokasi berbagai kantor penting, mulai dari Kantor Kecamatan Ambal, Polsek Ambal, hingga sejumlah UPTD. Secara administratif, desa ini terbagi menjadi tiga pedukuhan, yakni Dukuh Krajan, Dukuh Jagakerten, dan Dukuh Manisjangan.

Legenda dan Asal Usul Nama

Berdasarkan penelusuran sejarah, nama Kenoyojayan diyakini berasal dari masa Kerajaan Pajajaran. Dikisahkan, Sri Sultan Hamengkubuwono II melakukan perjalanan menuju Pajajaran untuk bertemu dengan Prabu Siliwangi.

Dalam perjalanan pulang melalui jalur selatan Pulau Jawa, rombongan Sultan singgah di wilayah Ambal dan bertemu dengan tokoh ulama yang dikenal sebagai Mbah Santri atau Pangeran Genowo. Ia merupakan sosok penyebar agama Islam yang memiliki banyak murid, yang kemudian menjadi tokoh agama besar di tanah Jawa.

Salah satu muridnya adalah Mbah Wagiman, seorang pemuda dari wilayah pesisir Ambal yang memiliki kemampuan dalam ilmu agama dan tata kelola wilayah. Karena kecakapannya, ia dipercaya mengelola lahan yang diberikan oleh Sultan.

Atas keberhasilannya, Mbah Wagiman dianugerahi gelar Ki Noyojoyo. Dari sinilah nama Kenoyojayan berasal dan terus digunakan hingga sekarang.

Jejak Kepemimpinan Desa

Setelah wafatnya Ki Noyojoyo, kepemimpinan desa dilanjutkan oleh sejumlah tokoh, di antaranya Haji Abdul Syukur yang wafat pada 1908. Kepemimpinan kemudian diteruskan oleh Mentawiryo hingga 1924, disusul Pairun (Wiryosentono) yang menjabat hingga 1988.

Era demokrasi membawa perubahan kepemimpinan melalui pemilihan kepala desa. Nama-nama seperti Nyi Sukasri, Rajino, hingga Sugeng Hermanto pernah memimpin desa ini. Saat ini, kepemimpinan dipegang oleh Martono yang kembali terpilih untuk periode 2019–2025.

Tradisi Leluhur yang Tetap Hidup

Selain sejarahnya, Desa Kenoyojayan juga dikenal dengan berbagai tradisi yang masih dijaga hingga kini. Salah satunya adalah tradisi Gobyang Leluhur, yakni kegiatan bersih makam yang dilakukan setiap bulan Ruwah, disertai doa bersama dan kenduri untuk para leluhur.

Masyarakat juga masih melestarikan tradisi pemberian sesaji dalam berbagai momentum seperti masa tanam, panen, pembangunan rumah, hingga malam Jumat Kliwon sebagai bentuk doa keselamatan dan tolak bala.

Tak kalah penting, tradisi Sadranan atau Among-among juga rutin dilakukan dalam rangka hajatan atau peringatan kelahiran, sebagai bentuk doa untuk keselamatan dan kelancaran.

Budaya Suro dan Kirab Pantai

Memasuki bulan Suro atau Muharam, masyarakat menggelar tradisi Memetri Bumi (Sedekah Bumi) sebagai wujud syukur atas hasil panen. Kegiatan ini diisi dengan kenduri, doa bersama, hingga hiburan rakyat seperti wayang kulit dan pengajian.

Selain itu, pada bulan Mulud, masyarakat menggelar kirab budaya dengan membawa tumpeng dari masing-masing RT menuju balai desa, kemudian diarak hingga Pantai Mliwis untuk doa bersama.

Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus wujud pelestarian budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Sumber:
Website resmi Desa Kenoyojayan
https://kenoyojayan.kec-ambal.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/180


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.