KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik sejarah besar Pangeran Diponegoro, terdapat sosok pejuang yang namanya belum banyak dikenal masyarakat luas, yakni Pangeran Ngabdulrakim Sirnabaya. Tokoh yang memiliki nama asli Bandara Raden Mas Suratman atau bergelar Pangeran Harya Hadisurya II ini merupakan adik dari Pangeran Diponegoro dan dikenal sebagai ulama sufi sekaligus pejuang Perang Jawa (1825–1830).
Menurut catatan sejarah yang dimuat Yayasan Wahyu Pancasila melalui situs Kebumen2013.com, Pangeran Ngabdulrakim merupakan putra ke-13 Hamengkubuwana III dari permaisuri Raden Ayu Puspitasari. Di luar lingkungan keraton, ia lebih dikenal dengan julukan Ngabdulrakim karena keteguhannya dalam memegang ajaran tauhid dan kesetiaannya mendampingi sang kakak selama Perang Jawa.
Tidak hanya dikenal sebagai bangsawan, Pangeran Ngabdulrakim juga merupakan seorang ulama yang mendalami ilmu tasawuf. Ia berguru kepada Syekh Taptadjani sebelum kemudian menjadi murid sekaligus pendamping setia Pangeran Diponegoro dalam perjuangan melawan kolonial Belanda. Dalam berbagai peristiwa perang, ia selalu berada di sisi sang pemimpin, termasuk ketika pasukan Diponegoro mengalami pengepungan di wilayah Genthan, yang kini masuk Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen.
Salah satu kisah yang paling dikenal adalah ketika Pangeran Ngabdulrakim mengganti kuda yang digunakan Pangeran Diponegoro dengan kuda kesayangan Kyai Wijayacapa, sehingga sang pemimpin berhasil lolos dari kepungan pasukan Belanda. Peristiwa tersebut memperlihatkan loyalitas dan pengorbanannya dalam menjaga keselamatan pemimpin perjuangan.
Selain sebagai pejuang, hubungan antara Pangeran Diponegoro dan Pangeran Ngabdulrakim juga terjalin sebagai guru dan murid dalam bidang spiritual. Dalam Babad Diponegoro, diceritakan adanya dialog mendalam mengenai hakikat tauhid, tasawuf, hingga konsep Manunggaling Kawula Gusti. Ajaran tersebut semakin menguatkan keyakinan dan kepatuhan Pangeran Ngabdulrakim terhadap gurunya.
Menjelang akhir Perang Jawa, Pangeran Ngabdulrakim mendapat perintah menuju Kejawang, wilayah yang saat itu menjadi salah satu basis perjuangan Diponegoro di Kebumen. Meskipun sempat menolak karena ingin tetap mendampingi sang guru, ia akhirnya menjalankan perintah tersebut sebagai bentuk kepatuhan kepada pemimpin dan gurunya.
Perjalanan hidupnya berakhir di Bukit Sirnabaya, Kecamatan Karanggayam. Saat pasukan Belanda berhasil melacak keberadaannya, Pangeran Ngabdulrakim memilih tetap bertahan. Dalam kondisi tersebut, ia dikisahkan duduk bersila, berdzikir, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah hingga wafat. Tradisi setempat menyebut peristiwa tersebut sebagai meraga sukma.
Riwayat yang berkembang juga menyebutkan bahwa setelah wafatnya Pangeran Ngabdulrakim, seekor harimau besar bersama kawanan harimau lainnya menjaga jasad beliau selama tiga hari sehingga pasukan Belanda tidak berani mendekat. Setelah keadaan aman, para pengikutnya kembali dan memakamkan beliau di Bukit Sirnabaya. Hingga kini, kawasan tersebut masih menjadi salah satu situs sejarah yang dihormati masyarakat.
Nama Pangeran Ngabdulrakim juga memiliki kaitan erat dengan sejarah perkembangan Islam di Kebumen. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau dikenal pula sebagai Pangeran Nurmadin atau Kyai Marbot, serta merupakan ayah dari Kyai Haji Imanadi, tokoh yang kemudian berperan penting dalam sejarah Kota Kebumen pasca Perang Jawa.
Hingga kini, makam Pangeran Ngabdulrakim di Bukit Sirnabaya masih menjadi tujuan ziarah sekaligus pengingat akan perjuangan seorang ulama, bangsawan, dan pejuang yang mengabdikan hidupnya demi agama, bangsa, dan tanah air.
Sumber resmi:
- Yayasan Wahyu Pancasila – Pangeran Ngabdulrakim Sirnabaya
- Yayasan Wahyu Pancasila – Riwayat Singkat Kyai Haji Imanadi Kauman Kebumen
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















