SEJARAH

Jejak Pangeran Bumidirjo: Pangeran Mataram yang Tinggalkan Istana dan Menjadi Cikal Bakal Lahirnya Kebumen

978
×

Jejak Pangeran Bumidirjo: Pangeran Mataram yang Tinggalkan Istana dan Menjadi Cikal Bakal Lahirnya Kebumen

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Tidak banyak yang tahu bahwa sejarah lahirnya Kabupaten Kebumen memiliki kaitan erat dengan kisah seorang bangsawan Kerajaan Mataram Islam yang memilih meninggalkan kehidupan istana. Ia adalah Pangeran Bumidirjo, sosok pangeran yang kemudian dikenal sebagai ulama sekaligus perintis wilayah yang menjadi cikal bakal Kebumen.

Putra Raja Mataram

Dilansir dari situs sejarah radenmasrohman.blogspot.com menyebutkan dalam catatan sejarah Mataram, Pangeran Bumidirjo disebut sebagai putra dari raja Mataram, Panembahan Seda Krapyak, yang memiliki nama lain Raden Mas Jolang atau Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyokrowati.

Dari dua permaisuri, raja memiliki beberapa anak. Dari permaisuri Kanjeng Gusti Ratu Mas Hadi Dyah Banowati lahir:

  • Sultan Agung Hanyokrokusumo
  • Ratu Mas Sekar Pandan Sari

Sedangkan dari permaisuri Kanjeng Gusti Ratu Tulung Ayu lahir:

  • Raden Mas Wuryah (Pangeran Selarong)
  • Pangeran Bumidirjo yang diperkirakan lahir di Kotagede sekitar tahun 1609.

Ulama Keraton yang Berani Menasihati Raja

Berbeda dengan bangsawan pada umumnya, Pangeran Bumidirjo dikenal memiliki kepribadian alim dan bijaksana. Ketika Mataram dipimpin kakaknya, Sultan Agung Hanyokrokusumo, ia dipercaya menjadi penasihat kerajaan di bidang keagamaan.

Dalam perannya itu, ia sering mengingatkan bahwa seorang raja harus mengedepankan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat. Ia juga dikenal dekat dengan ulama dan masyarakat kecil.

Namun situasi berubah setelah wafatnya Sultan Agung. Tahta kerajaan kemudian dipegang oleh Amangkurat I pada 1645.

Membela Keadilan, Berujung Konflik

Kepemimpinan Amangkurat I dikenal keras dan memicu banyak konflik di lingkungan kerajaan. Ketegangan memuncak ketika raja berencana menjatuhkan hukuman mati kepada Pangeran Pekik pada 1659.

Pangeran Bumidirjo menentang keputusan tersebut. Menurutnya, hukuman itu tidak adil mengingat jasa besar Pangeran Pekik bagi Mataram.

Namun nasihat tersebut justru membuat Amangkurat I murka. Ia dianggap mencampuri urusan kerajaan dan dicurigai sebagai ancaman politik.

Meninggalkan Keraton Mataram

Situasi yang semakin berbahaya membuat Pangeran Bumidirjo mengambil keputusan besar. Ia meninggalkan Keraton Mataram secara diam-diam bersama keluarga dan para pengikutnya.

Peristiwa ini diperkirakan terjadi sekitar tahun 1670 ketika pusat kerajaan berada di Plered. Perjalanan panjang membawa rombongan tersebut menuju wilayah Panjer, daerah yang kini menjadi bagian dari Kebumen.

Di wilayah itu, ia diterima oleh penguasa setempat, Ki Hastosutro yang memberikan tempat tinggal sekaligus lahan untuk menetap.

Menjadi Kyai Bumi

Untuk menghindari kejaran pihak kerajaan, Pangeran Bumidirjo kemudian melepaskan identitas kebangsawanannya. Ia mengganti nama menjadi Ki Bumi.

Di tempat barunya, ia membuka hutan, mendirikan padepokan, dan mengajarkan agama kepada masyarakat. Wilayah tersebut lambat laun berkembang menjadi permukiman yang ramai.

Banyak orang datang untuk belajar agama, meminta nasihat, hingga bermukim di sana.

Asal Usul Nama Kebumen

Menurut cerita masyarakat dan babad setempat, nama Kebumen berasal dari kata Kabumian, yang berarti tempat tinggal Kyai Bumi.

Seiring waktu, penyebutan Kabumian berubah menjadi Kebumen. Dari wilayah inilah kemudian berkembang daerah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Kebumen.

Mengasingkan Diri Hingga Wafat

Ketika keberadaannya mulai diketahui pihak kerajaan, Ki Bumi kembali berpindah tempat demi keselamatan keluarga dan para pengikutnya.

Ia akhirnya menetap di wilayah Karang yang kini berada di perbatasan Desa Karangrejo dan Desa Lundong, Kecamatan Kutowinangun.

Di tempat itu ia hidup sederhana sebagai petani sekaligus tokoh agama hingga wafat pada tahun 1688.

Wasiat yang Terkenang

Pangeran Bumidirjo meninggalkan empat orang anak, yakni Ki Gusti, Ki Bekel, Ki Bagus, dan Nyi Ageng.

Ia juga meninggalkan pesan penting bagi keturunannya: mereka tidak diperbolehkan menggunakan gelar kebangsawanan Raden. Menurutnya, kemuliaan seseorang tidak terletak pada gelar, melainkan pada akhlak dan keteladanan.

Karena itu keturunannya hanya menggunakan sebutan Ki atau Nyi.

Jejak Sejarah yang Masih Diziarahi

Hingga kini makam Pangeran Bumidirjo di wilayah Kutowinangun masih sering diziarahi masyarakat. Sosoknya dikenang sebagai bangsawan yang memilih hidup bersama rakyat dan menyebarkan nilai keadilan serta dakwah Islam.

Kisahnya menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah lahirnya Kebumen.(k24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.