SEJARAH

Dari Istana Mataram ke Tanah Panjer: Makam Pangeran Bumidirjo yang Kini Diziarahi Banyak Orang

907
×

Dari Istana Mataram ke Tanah Panjer: Makam Pangeran Bumidirjo yang Kini Diziarahi Banyak Orang

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Sejarah panjang Kabupaten Kebumen menyimpan kisah menarik tentang seorang bangsawan sekaligus ulama dari Kerajaan Mataram Islam yang memilih meninggalkan kemewahan istana demi mempertahankan prinsip kebenaran. Sosok tersebut dikenal sebagai Pangeran Bumidirjo, tokoh spiritual keraton yang akhirnya menetap dan dimakamkan di wilayah Kebumen.

Dikutip dari situs kebumenngibing.blogspot.com, tokoh yang juga dikenal dengan sebutan Kyai Pangeran Bumidirjo ini diyakini lahir di Kotagede pada tahun 1609. Ia wafat pada tahun 1688 dan dimakamkan di kawasan yang kini berada di perbatasan Desa Karangrejo dan Desa Lundong, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen. Hingga kini, makam tersebut dipercaya menjadi salah satu jejak penting sejarah awal perkembangan wilayah Kebumen.

Ulama dan Penasihat Keraton Mataram

Di lingkungan Kesultanan Mataram, Pangeran Bumidirjo dikenal sebagai tokoh yang memiliki kedalaman ilmu agama serta pengaruh besar di dalam istana. Pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, ia dipercaya menjadi penasihat kerajaan, terutama dalam urusan spiritual dan keagamaan.

Dalam berbagai kisah tutur sejarah, Pangeran Bumidirjo kerap mengingatkan raja untuk menegakkan keadilan, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, serta mengutamakan kesejahteraan rakyat. Kedekatannya tidak hanya dengan kalangan bangsawan, tetapi juga dengan ulama, santri, dan masyarakat biasa.

Perubahan Arah Kekuasaan

Situasi di Kerajaan Mataram mulai berubah setelah wafatnya Sultan Agung. Tahta kerajaan kemudian dipegang oleh putranya, Amangkurat I.

Dalam sejumlah catatan sejarah, kepemimpinan Amangkurat I dinilai berbeda dengan pendahulunya. Kedekatan kerajaan dengan Vereenigde Oostindische Compagnie atau kongsi dagang Belanda memengaruhi arah kebijakan kerajaan. Beberapa keputusan politik yang keras memicu ketegangan dengan para bangsawan, ulama, dan tokoh istana.

Pangeran Bumidirjo termasuk tokoh yang beberapa kali memiliki pandangan berbeda dengan raja. Ia tetap teguh memegang prinsip keadilan dan menolak kebijakan yang dianggap merugikan rakyat.

Membela Pangeran Pekik

Ketegangan memuncak sekitar tahun 1659 ketika kerajaan menjatuhkan hukuman mati kepada Pangeran Pekik beserta keluarganya. Pangeran Bumidirjo berusaha menasihati Amangkurat I agar membatalkan keputusan tersebut.

Menurutnya, hukuman itu tidak sebanding dengan kesalahan yang dituduhkan. Terlebih, Pangeran Pekik dikenal memiliki jasa besar bagi Mataram, termasuk dalam penaklukan Surabaya dan meredam konflik di wilayah Giri.

Namun nasihat tersebut tidak dihiraukan. Bahkan sikapnya dianggap sebagai bentuk campur tangan terhadap urusan kerajaan.

Fitnah Politik di Lingkungan Istana

Situasi semakin memanas ketika sejumlah penasihat keraton yang iri hati memanfaatkan keadaan tersebut. Mereka menyebarkan berbagai fitnah politik untuk menjatuhkan Pangeran Bumidirjo dari lingkar kekuasaan.

Kondisi istana yang semakin tidak aman membuatnya menyadari bahwa dirinya dan keluarga berada dalam ancaman.

Meninggalkan Kemewahan Istana

Sekitar tahun 1670, Pangeran Bumidirjo mengambil keputusan besar. Ia meninggalkan jabatan, gelar kebangsawanan, serta kehidupan istana di Keraton Mataram yang saat itu berada di Plered.

Pada suatu malam, ia bersama keluarga dan para pengikutnya meninggalkan keraton secara diam-diam menuju wilayah barat. Perjalanan tersebut membawanya ke daerah yang kala itu masih termasuk wilayah Kademangan Panjer, yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Kebumen.

Di tempat inilah Pangeran Bumidirjo melanjutkan kehidupan, berdakwah, dan membimbing masyarakat hingga akhir hayatnya.

Kini, makamnya yang berada di perbatasan Desa Karangrejo dan Desa Lundong masih sering dikunjungi masyarakat. Situs tersebut tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga pengingat akan perjalanan seorang tokoh yang memilih meninggalkan kekuasaan demi mempertahankan nilai kebenaran.(K24/*).

 


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.