TRADISI

Lestarikan Warisan Leluhur, PATRAB Kebumen Gelar Jamasan Pusaka Aroengbinang

1051
×

Lestarikan Warisan Leluhur, PATRAB Kebumen Gelar Jamasan Pusaka Aroengbinang

Sebarkan artikel ini
Prosesi Jamasan Pusaka Kyai Cemeti yang dipimpin KRAP. Arif Priyantoro Reksoningrat, S.Sos., berlangsung khidmat, disaksikan para keturunan dan tokoh masyarakat sekitar. (Foto: Dok. PATRAB)

KEBUMEN, Kebumen24.com – Upaya pelestarian budaya lokal terus digelorakan oleh Paguyuban Trah Aroengbinang (PATRAB) melalui prosesi Jamasan Pusaka Aroengbinang, sebuah tradisi sakral yang rutin digelar setiap tahun. Mengusung tema “Melestarikan Budaya, Menjaga Peradaban”, kegiatan ini menjadi simbol penghormatan terhadap nilai-nilai luhur para leluhur.

Digelar dengan penuh khidmat, prosesi berlangsung di tengah kuatnya arus modernisasi, menjadi penegasan bahwa budaya dan kearifan lokal tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Para pewaris Trah Aroengbinang menyampaikan pesan pentingnya menjaga warisan budaya agar tidak tergerus zaman.

Acara dihadiri oleh para putra wayah (keturunan Aroengbinang), Forkopimcam, perangkat desa, serta tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Total sembilan pusaka dijamas dalam prosesi ini, termasuk Pusaka Kyai Cemeti, peninggalan bersejarah dari Eyang Aroengbinang I.

Prosesi dipimpin oleh KRAP. Arif Priyantoro Reksoningrat, S.Sos., diawali dengan penyerahan air jamasan oleh juru kunci, Bapak Taryono, kepada petugas jamas. Suasana semakin sakral saat tahlil dipimpin oleh Ustadz Bustomi, yang diamini seluruh hadirin sebagai bentuk doa untuk para leluhur.

Tak hanya berhenti pada ritual jamasan, rangkaian kegiatan juga diisi dengan Sarasehan Sejarah dan Budaya yang membedah perjalanan sejarah dari Eyang Aroengbinang I hingga Aroengbinang IV.

Dalam sarasehan dijelaskan bahwa Aroengbinang IV merupakan Bupati pertama Residensi Keboemen pada 1831, tak lama setelah berakhirnya Perang Jawa. Sedangkan Aroengbinang I dikenal sebagai abdi setia Kasunanan Surakarta dan menjadi bagian penting dalam tim penentu lokasi pembangunan Keraton Surakarta.

Sarasehan juga mengulas detail pakem jamasan pusaka, termasuk perlengkapan ritual (ubo rampe) yang digunakan. Kegiatan ini diharapkan menjadi media edukasi budaya dan sejarah bagi masyarakat, terutama generasi muda.

“Melalui jamasan ini, kami ingin generasi muda memahami nilai-nilai luhur leluhur. Bukan sekadar seremonial, tetapi juga pemaknaan budaya secara mendalam,” ungkap KRAP. Arif Priyantoro.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.