SEJARAH

Sejarah Ponpes Al Huda Jetis Kebumen, Berdiri Tahun 1880, Siapa Pendirinya?

5837
×

Sejarah Ponpes Al Huda Jetis Kebumen, Berdiri Tahun 1880, Siapa Pendirinya?

Sebarkan artikel ini
Foto : gedung ponpes alhuda (Dok: Ponpes Alhuda)

KEBUMEN, Kebumen24.com – Pondok Pesantren Al Huda Jetis Kebumen merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam di Kabupaten Kebumen. Didirikan pada tahun 1880, pondok pesantren yang berlokasi di Dusun Jetis Desa Kutosari, Kebumen.

Ponpes ini telah menjadi saksi bisu perkembangan pendidikan agama di wilayah tersebut selama lebih dari satu abad.

Didirikan oleh K.H. Abdurrahman

Dilansir dari Alhudajetis.com menyebutkan, Sebelum mempunyai nama Al-Huda, Pondok Pesantren di Jetis Kutosari ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Jetis. Didirikan kurang lebih tahun 1880 Masehi oleh K.H. Abdurrahman.

Semasa kecil beliau bernama Solihin, berasal dari desa Gebrek Ambal Kebumen. Beliau diberi tugas menggembala kerbau oleh pamannya selama bertahun-tahun.

Kisah K.H. Abdurrahman (Sholihin) saat Kecil

Pada suatu hari salah satu kerbau gembalaannya ada yang hilang, beliau dimarahi oleh pamannya dan dituntut harus mencari sampai ketemu. Akhirnya beliau mencari sampai ke pesisir laut.

Karena kerbaunya tidak ketemu, beliau kebingungan, tidak berani pulang dan menangis sambil berjalan terus ke arah timur. Orang tuanya sangat sedih dan menganggap putranya yang bernama Solihin itu telah meninggal dunia dimangsa binatang buas.

Selama berhari-hari beliau berjalan kaki ke arah timur dan akhirnya beliau sampai di Pondok Pesantren Wringin Agung Jawa Timur. Beliau mengaji di sana hingga dewasa dan menjadi Al-‘Alim Al-‘Alamah.

Pertemuan K.H. Abdurrahman (Sholihin) dengan Orang Tua Kandungnya

Suatu hari beliau sowan kepada Kyainya untuk melanjutkan mengajinya di Makkah. Sanga Kyai pun memperbolehkannya dengan syarat harus ziarah terlebih dahulu ke Pamijahan Jawa Barat dan pamitan dengan Orang tuanya.

Akhirnya beliau pulang ke rumah untuk pamitan dengan Orang tua dan ziarah ke Pamijahan Jawa Barat. Pada saat beliau pamitan dengan Orang tuanya beliau mengaku sebagai musafir yang ingin beristirahat dan bermalam.

Sambil beristirahat beliau berdialog dengan orang tua itu dan menanyakan berapa jumlah anaknya dan di mana saja. Orang tua itu menjawab mempunyai beberapa anak, yang pertama bekerja di sana, yang kedua bekerja di sana dan seterusnya.

Kemudian menyebut anak lainya bernama Solihin yang hilang entah di makan harimau atau ke mana. Beliau menanyakan lagi tentang ciri-ciri anak bernama Solihin yang hilang itu. Orang tuanya menjawab bahwa ciri-cirinya adalah di punggungnya ada “toh”nya.

Hingga akhirnya pada saat beliau akan melanjutkan perjalanan, beliau mengaku merasa masuk angin dan minta orang tuanya untuk mengerikinya. Begitu akan dikeriki orang tuanya melihat bahwa di punggung beliau ada “toh”nya dan orang tuanya yakin bahwa beliau adalah Solihin putranya.

Kemudian orang tua itu menangis terharu dan bahagia sambil meneriakkan “Solihin hidup kembali” berulang-ulang. Setelah itu, mereka melanjutkan dialognya tentang kisah perjalanan hidupnya dan beliau minta ijin untuk meneruskan perjalanan ziarah ke Pamijahan Jawa Barat dan melanjutkan mencari ilmu di Makkah. Orang tuanya pun merestui dan memberikan ijin kepadanya.

KH Abdurrahman Belajar Ilmu Agama di Makkah

Setelah ziarah dari Pamijahan Jawa Barat, beliau sowan lagi kepada Kyainya di Wringin Agung Jawa Timur untuk melaksanakan keinginannya belajar di Makkah. Akhirnya beliau berangkat ke Makkah dan menuntut Ilmu Thariqoh di Jabal Qubbais kepada Syekh Abdur Rauf dan dilanjutkan kepada Syekh Sulaiman Zuhdi.

KH Abdurrahman Kembali ke Indonesia

Setelah beberapa tahun akhirnya beliau mempunyai ilmu yang tinggi dan menjadi Mursyid serta diberi nama baru yaitu “K.H. Abdurrahman”. Selanjutnya beliau pulang ke Tanah Air Indonesia.

Di Tanah Air Indonesia beliau mengajarkan Ilmu Thariqah di Desa Kelahirannya yakni Ambal Kebumen. Karena pengajiannya sambil memutar tasbih akhirnya ajaran beliau difitnah dan dilaporkan ke Penjajah Belanda bahwa Mbah Abdurrahman sedang mengajarkan membuat bom untuk memberontak.

KH Abdurrahman ditangkap Pasukan Belanda

Hingga akhirnya beliau ditangkap Pasukan Belanda dan dibawa ke Pusat Pemerintahan Belanda di Kebumen. Setelah ditanyakan kepada para Kyai kepercayaan pimpinan penjajah penguasa Kebumen saat itu.

Ajaran beliau dinyatakan aman dan tidak berpotensi memberontak. Namun pimpinan Penjajah masih khawatir dengan ajaran Mbah Abdurrahman. Kemudian untuk mempermudah dalam mengawasinya pimpinan penjajah meminta agar Mbah Abdurrahman ditempatkan di sekitar perkotaan.

KH Abdurrahman Dibuatkan Rumah dan Musholla

Pimpinan penjajah menanyakan kepada para Kepala Desa bahwa siapa diantara mereka yang desanya mau ditempati seorang Kyai. Kepala Desa Kutosari mengacungkan telunjuk pertama kali bahwa Desanya membutuhkan seorang Kyai.

Akhirnya Mbah Abdurrahman dibuatkan rumah dan Musholla tempat mengaji di dukuh Jetis dekat sungai Lukulo yang saat itu masih berupa perbukitan yang lebat dan angker.

KH Abdurrahman Dikaruniai Keturunan

Beliau mengajarkan ilmu agama Islam dan Thariqah Naqsyabandiyah Kholidiyah di Jetis hingga beberapa tahun dan dikaruniai beberapa anak sebagai berikut :

  1. Mbah Husain
  2. Mbah Hasbullah
  3. Mbah Suhaemi
  4. Mbah Kaelani

Mbah Husain mendampingi ayahnya Mbah Abdurrahman dalam perjuangan dakwahnya di Jetis. Mbah Hasbullah dijadikan Mursyid oleh Mbah Abdurrahman tapi disuruh menyebarkan di Kota Kajoran Mranggen Magelang, Mbah Suhaemi bermukim di Tepakyang Temanggal, sedangkan Mbah Kaelani belajar di Makkah.

KH Abdurrahman Wafat

Mbah Abdurrahman Wafat pada Hari Jum’at saat melakukan sujud tilawah dalam Shalat Shubuh. Sepeninggal Beliau Kemursyidan diserahkan kepada Mbah Husain anak pertamanya, tetapi beliau hanya bisa mengasuh kurang lebih selama tiga tahun.

Karena mbah Husain tidak mempunyai anak laki-laki, akhirnya masyarakat, jama’ah thariqoh, dan para badal menghendaki agar Mbah Hasbullah segera pulang dari Magelang untuk meneruskan Kemursyidan Mbah Abdurrahman di Jetis.

Awalnya Mbah Hasbullah keberatan karena sudah mapan dan mempunyai banyak jama’ah di Magelang. Karena di desak oleh masyarakat Kebumen kemudian beliau melakukan istikharah.

Dalam istikharahnya Mbah Hasbullah berkata bahwa beliau mimpi dikejar-kejar oleh Mbah Abdurrahman dengan dibawakan upet (pejut berapi) untuk segara pulang ke Jetis.

Akhirnya beliau pulang ke Jetis dan menjadi Mursyid selama beberapa tahun. Mbah Hasbullah dikaruniai 5 anak, yaitu :

  1. K.H Machfudz
  2. Nyai Syekh ‘umar
  3. Nyai Maemunah
  4. Nyai Khoiriyah
  5. Hasyim

Awal Mula Diberi Nama Ponpes Al Huda

Mbah Hasbullah meninggal saat melaksanakan Tawajuhan. Sepeninggal wafat Kemursyidan diserahkan kepada putra pertamanya yakni K.H. Machfudz. Sejak diasuh beliau Pondok Pesantren Jetis diberi nama Al-Huda.

Semasa mudanya beliau pernah mengenyam pendidikan diberbagai pondok, antara lain pondok Termas selama kurang lebih 2 tahun. Kemudian dilanjutkan ke pondok Bendo, Kediri, yang saat itu diasuh oleh Syekh Ghozin.

Setelah itu. beliau dinikahkan dengan salah satu putri Syekh Ghozin yang bernama Nyai Maimunah. Atas pernikahannya beliau dikaruniai 17 putra dan putri, namun yang hidup hanya 6 putra dan 6 putri, yaitu :

  1. Kyai Abdul Kholiq
  2. Kyai Juwaini
  3. Nyai Umi Kulsum
  4. Nyai Khasanah
  5. Nyai Masruroh
  6. Kyai Makhrus
  7. Nyai Hayati
  8. Kyai Muahaimin
  9. Nyai Siti Ma’rifah
  10. Nyai Siti Muhayaroh
  11. Kyai Wahib Machfudz
  12. Kyai Yazid Macfufudz

Semasa sugeng Syekh Machfudz wasiat kepada para pendamping dan badal-badalnya yang isinya : “Sak pungkurku sing nerusaken Kholiq, sak pungkure Kholiq sing nerusaken Wahib”, Adapun yang diwasiati adalah :

  1. a) K.H. Machfudz Iskandar
  2. b) K.H. Khamid – Kajoran
  3. c) K.H. Husin – Tamanwinangun
  4. d) Bu Nyai Machfudz
  5. e) Bu Nyai Romlah

Setelah beliau wafat sesuai wasiat Syekh Machfudz Kemursyidan dipegang oleh putranya yang sulung K.H. Abdul Kholiq. Beliau wafat setelah memimpin Pondok Pesantren hanya selama 11 bulan.

Setelah beliau wafat sesuai wasiat Syekh Machfudz juga Kemursyidan diteruskan oleh adiknya yaitu syaikhina wamurabbiruhina K.H. Wahib Machfudz.

Semasa mudanya K.H. Wahib Machfudz menempuh pendidikan umum sampai tingkat tsanawiyah. Lemudian beliau mondok di Lirap asuhan K.H. Durmuji Ibrohim, pada tahun 1974-1978.

Setelah itu beliau melanjutkan di pondok Al-Barokah, Kawunganten Cilacap, setelah merasa cukup kemudian beliau melanjutkan mondoknya di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso pada tahun 1980-1983 yang diasuh oleh K.H. A. Djazuli Usman, bersama putranya K.H. Zainuddin Djazuli yang mengasuh Pondok Putra dan K.H. Nurul Huda yang mengasuh Pondok putri.

Setelah dianggap cukup kemudian beliau pulang untuk meneruskan perjuangan kepemimpinan pondok pesantren Al-Huda Jetis sampai sekarang.

Beliau menikah dengan salah seorang putri keturunan Raden Kolopaking yang bernama Nyai Hj. Nur Hasanah dan telah dikaruniai 3 putra dan 3 putri, yaitu :

  1. H. Muhammad Fatihunnada
  2. H. Zidni Rohman
  3. Hj. Asnal Mala
  4. H. Ziaul Haq
  5. Hj. Nayli Syifa
  6. Fittamami

Beliau juga sudah mempunyai seorang menantu yang menikah dengan putrinya Ning Asnal Mala yaitu H. Ulin Nuha Shodiq Suhaemi putra Bapak K.H. Shodiq Suhaemi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah Benda Sirampog Brebes dan telah dikaruaniai seorang anak bernama Kevin Billah yang menjadi cucu pertamanya K.H. Wahib Machfudz.

Kepengurusan Pondok Pesantren Al-Huda mulai ditata sejak diasuh oleh Mbah Kholiq. Adapun nama-nama Ketua Pondok Pesantren Al-Huda adalah sebagai berikut :

  1. K. M. Mahmudi (Thowil)
  2. K. Sugeng Ulil Wafie (Almarhum)
  3. K. Suhud
  4. K. Fakhruddin
  5. Farkhanudin
  6. H. Akhmad Komarudin
  7. Nasihin
  8. Fajar Shodiq
  9. H. Zaenal Arifin
  10. Zaenal Arifin

Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.