oleh Rani Yumita
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Jenderal Soedirman
KEBUMEN -Dalam perekonomian Indonesia, industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah menduduki posisi yang strategis. Pengembangan ekonomi lokal UMKM menjadi salah satu cara dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Turut pula memperkenalkan produk unggulan daerah melalui pemasaran UMKM.
Menurut Bank Indonesia disebutkan juga bahwa UMKM memiliki peran penting bagi perekonomian Indonesia karena memberikan sumbangan yang signifikan khususnya dalam pembentukan produk domestik bruto dan penyerapan tenaga kerja. UMKM juga dipercaya memiliki ketahanan ekonomi yang tinggi sehingga dapat menjadi penopang bagi stabilitas sistem keuangan dan perekonomian. Sehingga UMKM juga klaster industri yang cukup mampu bertahan dari pandemi, karena sebagian besar UMKM memproduksi barang konsumsi dan jasa dengan permintaan rendah sehingga pendapatan masyarakat tidak berpengaruh terhadap permintaan barang yang dihasilkan.
Kendala UMKM terletak pada aspek produksi, aspek keuangan, sumber daya manusia serta aspek pemasaran. Pada aspek produksi permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian adalah bagaimana meningkatkan kapasitas produksi terhadap produk yang dihasilkan, serta bagaimana menjaga kualitas produk tersebut. Sehingga perlu upaya inovasi dan pengembangan produk perlu mendapatkan perhatian yang serius.
Apabila perhatian tersebut benar-benar serius dilakukan maka UMKM akan memiliki daya saing (competitive advantage), hal ini bisa dilihat dari data World Economic Forum (WEF) tahun 2019 dalam mengukur daya saing menggunakan Business Competitiveness Index (BCI) Indonesia berada di urutan 50 dari 141 negara.
Salah satu UMKM di Kabupaten Kebumen yaitu industri songkok/peci. Industry ini banyak terdapat di Kecamatan Kebumen, khususnya Desa Bandung. Dalam produksinya, satu UMKM perbulan bisa memproduksi sekitar 400 kodi songkok. Pemasarannya juga sudah sangat luas, meliputi daerah Jawa-Sumatera. Bahkan ada pula yang sudah siap ekspor. Dilihat dari banyaknya produksi tiap bulan, industry ini bisa dipastikan menyerap tenaga sumber daya manusia yang cukup banyak juga. Sehingga memang tepat apabila UMKM merupakan penopang perekonomian masyarakat sekitarnya.
Contoh UMKM Songkok di Kabupaten Kebumen yaitu Songkok Al-Aqsho. Dengan rencana memperluas pemasarannya, UMKM ini terus meningkatkan kapasitas produksi dengan penambahan mesin yang saat ini sudah mencapai 20 unit. Selain penambahan mesin produksi, cara lain untuk menambah kapasitas produksi juga bisa dilakukan dengan cara:
- Akurasi tingkat persediaan produk jadi
Kebijaksanaan tingkat persediaan produk jadi berbeda-beda dari setiap UMKM. Akan ada waktu terdapat tingginya permintaan produk songkok, misalnya saat bulan Ramadhan, sehingga untuk supply produk ke konsumen UMKM perlu pasokan yang berasal dari persediaan produk jadi yang disimpan. Sehingga kestabilan produk ke konsumen tetap terjaga. Perlu diingat juga dalam proses penyimpanan produk harus mengingat faktor keamanan produk, agar produk ketika keluar dari gudang masih dalam kondisi bagus dan terjaga kondisinya.
- Peramalan permintaan
Permintaan produk songkok tidak konstan untuk setiap bulannya. Peramalan permintaan disini yaitu peramalan keseluruhan tingkatan produk dalam satu lintas produksi dan bukan hanya produksi tertentu. Sehingga akan bisa diprediksi perkiraan demand setiap bulannya, agar tidak terjadi penumpukan produksi. Peramalan permintaan juga bisa untuk mengetahui kebutuhan bahan baku produksi. Bahan baku dalam industri songkok seperti kain (bludru dan blazer) dan mika. Dalam masa pandemi sekarang, UMKM perlu melaksanakan peramalan permintaan untuk menentukan kebutuhan bahan baku produksi, sehingga tidak terjadi kekurangan bahan baku dalam proses produksinya.
- Pengetahuan mengenai kapasitas produksi
Kapasitas produksi adalah jumlah produk yang dapat dibuat pada satu periode tertentu. Tujuan perencanaan kapasitas adalah untuk melihat apakah industri mampu untuk memenuhi permintaan pasar seperti yang diramalkan, apabila tidak maka harus diputuskan apakah hal apa saja yang harus dipenuhi untuk mengatasi hal tersebut.
Adapun faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan kapasitas efektif adalah rancangan produk, kualitas bahan yang digunakan, sikap dan motivasi tenaga kerja, perawatan mesin/fasilitas serta rancangan pekerjaan. Dalam UMKM Songkok, salah satunya Al-Aqsho yang memproduksi songkok untuk dipasarkan secara nasional, rancangan produk serta kualitas bahan baku menjadi faktor penting dalam usahanya. Songkok Al-Aqsho mempunyai beberapa produk dengan kualitas dan harga yang berbeda tetapi tanpa meninggalkan kualitas bahan baku.
Diharapkan dengan menerapkan pengendalian produksi dan kapasitas produksi yang baik, maka akan terpenuhi kebutuhan produk di pasaran dan diharapkan tetap menjaga daya saing agar bisa berkompetisi di pasar nasional.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















