PERISTIWASOSIAL

Dampak Corona, Pedagang Pasar Tradisional Kebumen Keluhkan Sepinya Pembeli

1143
×

Dampak Corona, Pedagang Pasar Tradisional Kebumen Keluhkan Sepinya Pembeli

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Badai virus corona (COVID-19) yang menyebar serta adanya imbauan dari pemerintah untuk melakukan social distancing, membuat masyarakat Kebumen khususnya, akhirnya banyak yang memilih untuk tidak keluar rumah. Akibatnya kondisi pasar pasar tradisional di wilayah Kebumen kini cenderung sepi.
Seperti di pasar tumenggungan Kebumen kini terlihat cukup sepi. Dalam dua pekan terakhir pengunjung pasar ini mengalami penurunan yang cukup drastis dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Para pedagang pun mengeluh akan kondisi ini karena tidak seperti biasanya. Bahkan tak jarang saking sepinya mereka hanya sering duduk berdiam diri, tanpa melayani pembeli.
Wiji Astuti (37) Salah seorang pedagang Sayuran mengatakan, sejak pemerintah mengeluarkan imbauan untuk tidak terlalu banyak beraktivitas di luar rumah serta maraknya pemberitaan berkaitan dengan penyebaran virus corona, pengunjung pasar mengalami penurunan. Terlebih, setelah wilayah Kebumen sebelumnya telah ditetapkan masuk Zona merah lantaran adanya salah satu warga yang meninggal akibat positif terpapar corona. Belum lagi Jumlah ODP dan PDP Terus bertambah.

‘’ Sejak adanya virus corona daya beli menurun sangat drastis hingga 50 persen. Mungkin ini efek karna nggak ada orang hajatan, pedagang makanan atau jajanan di sekolahan, dan kegiatan perkumpulan seperti yasinan juga sekarang kan nggak ada mas,’’ujar Wiji kepada wartawan Kebumen24.com, Rabu 8 April 2020 saat ditemuia di Tempat ia berjualan.

 
Padahal, kata Wiji, untuk harga komoditas jenis sayur mayur saat ini tergolong ukup murah. Seperti harga cabe rawit misalnya, untuk eceran perkilonya hanya 40 ribu rupiah, cabe merah besar 20 ribu, kriting merah 20 ribu, cabe cigit 15 ribu, hijau besar 10 ribu, bawang merah super 40 ribu, bawang putih kathing 40 ribu, wortel 9 ribu, tomat 8ribu dan kubis 7 ribu. Kendati begiu pembeli tetap saja sepi.

‘’ Mungkin masyarakat pada takut mau keluar rumah. Imbasnya ke kami para pedagang sepi banget, biasanya kita bisa dapat hasil uang 500 ribu bisa sampai 1 juta, sekarang paling separuhnya. Itupun belum di potong modal,’’imbuhnya.

Wiji berharap agar kondisi ini bisa cepat berlalu, terlebih sudah mendekati bulan Ramadhan. Karena biasanya di bulan Ramadan dan lebaran menjadi bulan-bulan puncak penjualan barang pedagang di pasar pasar tradisional. Jika wabah korona masih menghantui dirinya khawatir tidak ada lagi pengunjung ke pasar tradisional.

‘’ Semoga virus corona cepat hilang dan warga bisa kembali beraktifitas normal. Kalo kaya gini terus kami masyarakat mau dapat hasil dari mana,’’ucapnya.


Sementara itu, Tria Yanti (30) yang juga pedagang di Pasar Tumenggungan menambahkan, sepinya pembeli yang tengah dirasakan para pedagang seperti saat ini dirasa cukup menyulitkan dan cendrung mengalami rugi. Hal itu dikarnakan, barang jenis sayuran ini tidak bisa di stok terlalu lama lantaran cepat layu.

‘’ Sering juga rugi karna stok barang kita jual jarang habis dan akhirnya layu, sebagian yang busuk terpaksa kita buang,’’katanya.

Kepada pemerintah Ia berharap bisa segera tanggap dengan kondisi nasib yang tengah dialami para pedagang di pasar tradiosional. Dalam hal ini Bupati atau pihak terkait harusnya turun ke lapangan memastikan keluhan masyarakatnya.

‘’ Harusnya ditengah kesulitan masyarakatnya seperti sekarang ini, pemerintah atau Bupati sesekali turun kepasar ngecek kaluhan pedagang apa. Jadi masyarakat tetap merasa di perhatikan. Jangan Cuma imbauan aja yang digencarkan,’’tuturnya. (K24/THR)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.