KEBUMEN, Kebumen24.com – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kebumen mendorong perguruan tinggi keagamaan Islam swasta (PTAIS) memperkuat sinergi dalam meningkatkan kompetensi penghulu dan penyuluh agama Islam.
Kolaborasi antara Kemenag dan perguruan tinggi dinilai penting untuk menghadapi tantangan pelayanan keagamaan yang semakin kompleks. Penghulu dan penyuluh tidak cukup hanya menguasai aspek administratif dan normatif keagamaan, tetapi juga perlu memiliki wawasan sosial, kemampuan akademik, serta kecakapan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Gagasan tersebut disampaikan Kasubbag Tata Usaha Kemenag Kebumen, Dr. H. Salim Wazdy, S.Ag., M.Pd., saat menjadi narasumber dalam seminar “Dari Rutinitas ke Dampak: Reorientasi Kinerja Kementerian Agama di Era Digital” yang digelar IAINU Kebumen, Jumat (14/8/2026), di Kampus Pascasarjana IAINU Kebumen.
Salim mengatakan penghulu dan penyuluh merupakan bagian penting dari garda terdepan pelayanan keagamaan karena berhadapan langsung dengan masyarakat.
Menurutnya, tugas penghulu saat ini tidak hanya berkaitan dengan pencatatan nikah dan rujuk. Mereka juga memiliki tanggung jawab dalam penasihatan, konsultasi dan bimbingan pranikah, pelayanan hukum munakahat, pembinaan keluarga sakinah, kemasjidan hingga perwakafan.
Sementara penyuluh agama Islam memiliki peran dalam memberikan pemahaman keagamaan sekaligus mendampingi masyarakat dalam persoalan spiritual, moral dan sosial.
“Persoalan yang dihadapi penghulu dan penyuluh terus berkembang. Karena itu, penguatan keilmuan harus dilakukan secara berkelanjutan. Di sinilah pentingnya kerja sama Kemenag dengan kampus PTAIS untuk membangun circle atau ekosistem keilmuan,” ujar Salim.
Ia menilai perguruan tinggi dapat menjadi mitra strategis dalam meningkatkan kapasitas intelektual, emosional dan spiritual aparatur. Kampus juga dapat menjadi ruang bagi penghulu dan penyuluh untuk terus belajar, berdiskusi dan mengembangkan pendekatan baru dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Kepala Program Studi Magister Hukum Keluarga Islam (HKI) IAINU Kebumen, Dr. Shohibul Adib, mengatakan perguruan tinggi memiliki peluang besar untuk memperluas perspektif penghulu dan penyuluh melalui pendekatan akademik dan multidisipliner.
Menurutnya, persoalan masyarakat tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui satu sudut pandang keilmuan.
“Persoalan keagamaan masyarakat tidak selalu bisa dipahami hanya dari satu perspektif. Persoalan keluarga, misalnya, dapat berkaitan dengan fikih, hukum, sosial, budaya, psikologi maupun perkembangan teknologi,” jelas Shohibul.
Karena itu, pendekatan integrasi dan interkoneksi keilmuan dinilai penting agar penghulu dan penyuluh mampu memahami persoalan masyarakat secara lebih utuh.
Shohibul juga melihat kemitraan antara Kemenag dan PTAIS dapat dikembangkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan. Pengalaman penghulu dan penyuluh di lapangan dapat menjadi bahan penelitian dan kajian akademik, sementara hasil riset perguruan tinggi dapat memberikan perspektif baru untuk memperkuat pelayanan kepada masyarakat.
Dengan pola tersebut, kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pendidikan dan gelar akademik, tetapi juga dapat berkembang menjadi knowledge hub yang mempertemukan teori, riset dan pengalaman praktis.
Dalam seminar tersebut, Salim juga menyoroti perubahan pola kerja ASN Kemenag di tengah percepatan transformasi digital.
Pemanfaatan berbagai sistem layanan berbasis teknologi, seperti SIMKAH, SIWAK, SIMAS dan SIPENAIS/EPA, menuntut aparatur untuk semakin adaptif dan memiliki kemampuan digital yang memadai.
Namun, Salim menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh berhenti pada kemampuan mengoperasikan aplikasi.
Menurutnya, perubahan teknologi harus berjalan beriringan dengan perubahan pola pikir dan orientasi kerja. Aparatur Kemenag diharapkan tidak sekadar menyelesaikan rutinitas administratif, tetapi mampu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan agar gaji, tunjangan, honor, insentif maupun promosi jabatan tidak ditempatkan sebagai tujuan utama dalam bekerja. Semua itu semestinya dipandang sebagai konsekuensi dari pelaksanaan tugas dan tanggung jawab.
Pesan tersebut dirangkum dalam semangat “Nikmati prosesnya, dari rutinitas ke dampak.”
Artinya, setiap pekerjaan ASN diharapkan memiliki nilai lebih dan memberikan perubahan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Seminar tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman birokrasi keagamaan dengan kekuatan akademik perguruan tinggi.
Kemenag memiliki pengalaman serta kedekatan langsung dengan dinamika masyarakat, sedangkan perguruan tinggi memiliki tradisi riset, pengembangan teori dan pendekatan multidisipliner.
Sinergi keduanya diharapkan dapat dikembangkan melalui forum ilmiah, penelitian, peningkatan kompetensi maupun kajian terhadap berbagai persoalan nyata yang dihadapi penghulu dan penyuluh.
Dengan kolaborasi tersebut, pengalaman di lapangan dapat menjadi sumber pengembangan ilmu, sementara hasil penelitian dan kajian akademik dapat kembali memperkuat kualitas pelayanan keagamaan.
Pada akhirnya, tantangan Kemenag di era digital bukan hanya bagaimana pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat, tetapi bagaimana setiap tugas mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















