KEBUMEN, Kebumen24.com – Bagi warga Kebumen yang kerap melintasi Jalan KH Hasyim Asy’ari pada malam hari, suasana di sekitar perlintasan rel kereta api Selang, masuk wilayah Kelurahan Panjer, tentu bukan pemandangan yang asing. Di kawasan tersebut, dua gerobak soto sederhana berdiri berdampingan dan setiap malam menjadi tujuan para penikmat kuliner.
Salah satu gerobak yang paling dikenal adalah milik Surip (63), pedagang soto legendaris yang telah mengabdikan hidupnya di dunia kuliner sejak tahun 1985. Selama lebih dari empat dekade, ia setia menyajikan semangkuk soto hangat bercita rasa khas Kebumen yang hingga kini masih memiliki pelanggan setia.
Perjalanan usaha Pak Surip bermula di kawasan Simpang Kewedusan, Kebumen. Seiring berjalannya waktu, ia memindahkan lokasi berjualannya ke bawah rindangnya pohon asam yang berada di dekat perlintasan rel kereta api Selang. Tempat tersebut kini dikenal sebagai salah satu destinasi kuliner malam yang cukup ikonik di Kabupaten Kebumen.
“Awal jualan dulu harga satu porsi hanya Rp50. Sekarang menjadi Rp15 ribu per porsi,” ujar Pak Surip saat ditemui Kebumen24.com, Kamis (30/7/2026) malam.
Pria kelahiran tahun 1963 yang tinggal di Kelurahan Tamanwinangun itu mulai melayani pembeli setiap hari sejak pukul 19.00 WIB hingga sekitar pukul 02.00 WIB. Dalam satu malam, ia rata-rata mampu menjual sekitar 50 porsi soto.
Soto racikan Pak Surip memiliki cita rasa yang tetap dipertahankan sejak puluhan tahun lalu. Seporsi soto disajikan dengan lontong, mi bihun, suwiran ayam goreng, kemudian disiram kuah gurih yang hangat dan kaya rempah. Cita rasanya semakin lengkap ketika disantap bersama sambal dan kecap sesuai selera pelanggan.
Tak hanya menawarkan kelezatan kuliner, suasana makan di tempat ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat menikmati semangkuk soto di bawah rindangnya pohon asam sembari merasakan sejuknya udara malam. Sesekali, suara dan laju kereta api yang melintas di jalur rel tak jauh dari lokasi menambah pengalaman kuliner yang unik dan sulit ditemukan di tempat lain.
Namun, perjalanan usaha Pak Surip tidak selalu berjalan mulus. Dalam sekitar dua tahun terakhir, omzet penjualannya mengalami penurunan. Selain jumlah pelanggan yang berkurang dibandingkan sebelumnya, kenaikan harga bahan baku juga menjadi tantangan tersendiri.
“Harga ayam dulu sekitar Rp25 ribu per kilogram, sekarang sudah mencapai sekitar Rp37 ribu per kilogram,” tuturnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, semangat Pak Surip untuk terus berjualan tidak pernah surut. Dengan penuh kesabaran, ia tetap melayani pelanggan hingga dini hari demi menghidupi keluarga.
Menariknya, sekitar 15 meter dari gerobaknya juga berdiri satu gerobak soto lainnya. Bukan milik pesaing, melainkan salah satu anaknya yang memilih mengikuti jejak sang ayah dengan membuka usaha soto di lokasi yang sama.
Pak Surip dikaruniai enam orang anak. Dari hasil berjualan soto selama puluhan tahun, ia mengaku bersyukur karena usaha sederhana tersebut mampu menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya.
“Alhamdulillah, hasilnya memang tidak besar, tetapi cukup untuk menghidupi keluarga,” ungkapnya.
Keberadaan Soto Pak Surip menjadi bukti bahwa ketekunan, konsistensi, dan cita rasa yang terjaga mampu membuat sebuah usaha tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Bagi pencinta kuliner malam, menikmati semangkuk soto hangat di bawah rindangnya pohon asam dengan latar suara kereta api yang melintas menghadirkan pengalaman sederhana yang sarat kenangan dan menjadi bagian dari cerita kuliner khas Kebumen.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















