SEJARAH

Masjid Darussalam, Jejak Dakwah Ki Singapatra dan Ki Ageng Sunan Geseng yang Masih Bertahan di Jantung Kebumen

85
×

Masjid Darussalam, Jejak Dakwah Ki Singapatra dan Ki Ageng Sunan Geseng yang Masih Bertahan di Jantung Kebumen

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com  – Di tengah pesatnya perkembangan Kota Kebumen, berdiri sebuah masjid tua yang menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah Islam di wilayah Panjer, yang kini dikenal sebagai Kabupaten Kebumen. Bangunan tersebut adalah Masjid Darussalam di Kelurahan Kebumen, sebuah situs bersejarah yang diyakini telah berdiri jauh sebelum dibangunnya Masjid Agung Kauman Kebumen.

Menurut catatan sejarah, Masjid Darussalam didirikan oleh Ki Singapatra bersama Ki Ageng Sunan Geseng pada masa sebelum wilayah Panjer berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini pada awalnya juga berfungsi sebagai pusat pendidikan agama, pembinaan spiritual, sekaligus tempat menempa kemampuan bela diri masyarakat pada masanya.

Seiring berkembangnya situasi politik saat itu, kawasan masjid menjadi semakin ramai ketika utusan Sultan Agung Hanyakrakusuma, yakni Ki Suwarno dan Ki Badranala, datang ke Panjer untuk menghimpun logistik perang Mataram melawan VOC di Batavia. Para pemuda dari berbagai daerah berdatangan untuk memperdalam ilmu spiritual dan kanuragan sebagai bekal menjadi prajurit Mataram.

Dalam perjalanan sejarahnya, Ki Badranala yang kemudian menikahi putri Ki Singapatra dipercaya menjadi pemimpin pertama Panjer pada masa pemerintahan Mataram dengan gelar Ki Gedhe Panjer I. Hubungan erat antara ulama dan umara pada masa itu menjadikan Masjid Darussalam tidak hanya sebagai pusat dakwah, tetapi juga bagian penting dalam kehidupan sosial dan pemerintahan Panjer.

Peran strategis masjid semakin terlihat ketika berlangsung Perang Diponegoro. Bangunan ini disebut masih difungsikan sebagai tempat perundingan dan penyusunan strategi perang gerilya di bawah pimpinan Senopati Jamenggala setelah Kadipaten Panjer dikuasai Belanda pada tahun 1831.

Setelah perang berakhir dan Panjer berganti nama menjadi Kebumen pada tahun 1832, fungsi masjid beralih sepenuhnya sebagai tempat ibadah. Ketika Masjid Agung Kauman Kebumen dibangun pada tahun 1838, Masjid Darussalam kemudian mengalami renovasi pertama pada tahun 1841 tanpa menghilangkan nilai sejarah yang melekat pada bangunannya.

Hingga kini, sejumlah peninggalan bersejarah masih dapat ditemukan di dalam kompleks masjid. Salah satunya adalah sumur tua yang airnya tetap jernih dan tidak pernah kering. Sebagian sumur tersebut kini berada di bawah bangunan masjid. Selain itu, beberapa pilar dan lantai tegel kuno bergaya kolonial masih dipertahankan sebagai saksi perjalanan panjang bangunan bersejarah tersebut.

Keberadaan Masjid Darussalam menjadi bukti bahwa penyebaran Islam di Kebumen telah berlangsung sejak berabad-abad silam. Bersama Situs Ki Singapatra yang berada tidak jauh dari lokasi masjid, kawasan ini menjadi bagian penting dari warisan sejarah dan budaya Kabupaten Kebumen yang patut dijaga serta dilestarikan untuk generasi mendatang.

Sumber resmi:

Yayasan Wahyu Pancasila – Masjid Ki Singapatra dan Ki Ageng (Sunan) Geseng Kebumen

 


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.