KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kutosari, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, memiliki perjalanan sejarah panjang yang sarat cerita perjuangan, perubahan kepemimpinan, hingga dinamika sosial masyarakat. Meski referensi tertulis yang lengkap belum ditemukan, sejarah desa ini banyak dituturkan secara turun-temurun oleh para sesepuh desa.
Berdasarkan penuturan tokoh masyarakat, sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah Desa Kutosari terbagi menjadi dua wilayah pemerintahan, yakni Mertokondo dan Jetis. Masing-masing dipimpin oleh seorang kuwu atau kepala wilayah. Wilayah Mertokondo dipimpin oleh Soegito Martojo, sementara wilayah Jetis dipimpin oleh Dulah Sukur.
Pada masa tersebut, masyarakat Kutosari telah memiliki tradisi adat yang kuat, salah satunya ritual sedekah bumi. Tradisi ini dilakukan setiap selesai panen sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil bumi yang melimpah. Kegiatan ini biasanya diisi dengan kenduri atau selamatan bersama seluruh warga desa.
Awal Pemerintahan Desa Pasca Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Desa Kutosari mulai mengalami perubahan dalam sistem pemerintahan desa. Kepemimpinan desa berada di tangan Soegito Martojo, yang menjabat sebagai kepala desa dari tahun 1945 hingga 1958.
Pada masa itu, wilayah Desa Kutosari terbagi menjadi lima wilayah atau pedukuhan, yaitu Kepatihan, Kauman, Jetis, Kutosari, dan Tembana. Namun, sistem administrasi pemerintahan desa saat itu masih belum berjalan optimal karena keterbatasan sumber daya aparatur desa.
Perpindahan Kantor Desa
Setelah masa kepemimpinan Soegito Martojo berakhir, jabatan Kepala Desa Kutosari dipegang oleh H.S. Soeprijanto. Pada masa pemerintahannya, kantor kepala desa masih berada di rumah kediamannya hingga tahun 1980.
Selanjutnya pada periode 1980–1986, kantor pemerintahan desa dipindahkan ke kompleks Pasar Mertokondo. Seiring perkembangan waktu, kantor desa kembali berpindah ke bangunan SD Negeri Kutosari 5, yang hingga kini masih digunakan sebagai kantor pemerintahan Desa Kutosari.
Setelah masa jabatan H.S. Soeprijanto berakhir, jabatan kepala desa sempat diisi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Bambang, yang merupakan staf dari Kecamatan Kebumen, hingga terselenggaranya pemilihan kepala desa secara lebih demokratis.
Era Modernisasi Administrasi Desa
Pemilihan kepala desa pada tahun 1990 dimenangkan oleh Muhammad Taufik. Di bawah kepemimpinannya, Desa Kutosari mengalami kemajuan dalam bidang administrasi pemerintahan.
Bahkan pada masa tersebut, Desa Kutosari dipercaya mewakili Kabupaten Kebumen dalam lomba administrasi desa tingkat Pembantu Gubernur Jawa Tengah, sebagai bukti bahwa tata kelola administrasi desa mulai tertata dengan baik.
Pada tahun 1993, kantor Kepala Desa Kutosari dibangun secara gotong royong oleh masyarakat dengan dukungan dana pembangunan desa (Bandes). Pada masa ini juga dibangun fasilitas kesehatan yang kini dikenal sebagai Puskesmas Kebumen III.
Dampak Kerusuhan 1997
Peristiwa kerusuhan sosial yang terjadi di Kebumen pada tahun 1997 juga berdampak pada Desa Kutosari. Beberapa rumah warga keturunan Tionghoa dilaporkan dibakar dan sejumlah toko dijarah massa. Peristiwa ini terjadi karena lokasi Desa Kutosari yang cukup dekat dengan pusat kota Kebumen.
Masa jabatan kepala desa saat itu berlangsung selama sembilan tahun, yakni dari tahun 1990 hingga 1998.
Pembangunan Desa Semakin Pesat
Pada Pilkades 1999, masyarakat Desa Kutosari memilih Mohamad Fadlan sebagai kepala desa. Masa kepemimpinannya berlangsung dari tahun 1999 hingga 2007, dengan berbagai program pembangunan desa yang mulai berjalan lebih masif seiring meningkatnya dukungan program pemerintah.
Pada pemilihan kepala desa tahun 2007, Mohamad Fadlan kembali terpilih untuk periode kedua hingga 2013. Pada masa ini berbagai pembangunan fisik dilakukan, di antaranya:
- Pembangunan jalan penghubung antara Dusun Kutosari dan Dusun Tembana
- Pembangunan TK Tarbiyatul Masyitoh Tembana
- Perluasan makam Bugel Jetis
- Pengaspalan jalan desa
- Pembangunan gapura desa
- Pembangunan gedung lapangan bulutangkis di kompleks kantor desa
- Pembangunan Gedung Kelompok Bermain Permata Bunda
- Rehabilitasi kantor desa serta pembangunan kios desa
Era Kepemimpinan Masyhud
Pada pemilihan kepala desa berikutnya, Masyhud terpilih sebagai Kepala Desa Kutosari. Pada masa kepemimpinannya, berbagai pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum terus dilakukan, di antaranya:
- Pembangunan IPAL komunal di RT 06 RW 02
- Pengaspalan jalan di wilayah Tembana, Jetis, Kauman, dan Kepatihan
- Rehabilitasi drainase di seluruh pedukuhan
- Pembangunan gedung PAUD di RW 05 Tembana
- Rehabilitasi Gedung PAUD Permata Bunda
- Rehabilitasi atap gedung lapangan bulutangkis
- Pembangunan jalan penghubung di wilayah Jetis
- Rehabilitasi Pasar Serba Ada (Paserba) Mertokondo
Pilkades 2019: Fadlan Kembali Terpilih
Pada Pilkades 2019, masyarakat Desa Kutosari kembali memberikan kepercayaan kepada M. Fadlan untuk memimpin desa. Dalam pemilihan tersebut terdapat tiga kandidat, yakni Masyhud (incumbent), H. Nugroho, dan M. Fadlan.
Setelah dilantik, M. Fadlan langsung menjalankan berbagai program pembangunan desa, antara lain:
- Pembangunan dan rehabilitasi gedung olahraga
- Pemeliharaan gapura desa
- Rehabilitasi jalan setapak di seluruh pedukuhan
- Perbaikan saluran drainase
- Pemeliharaan jaringan irigasi tersier di wilayah persawahan
- Pengaspalan jalan desa melalui Dana Desa maupun dana aspirasi anggota dewan
Berbagai program tersebut bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memperkuat pembangunan infrastruktur desa.
Sejarah Desa Kutosari yang tersusun dari berbagai cerita para sesepuh ini menjadi catatan penting perjalanan desa. Meski masih memiliki keterbatasan data tertulis, kisah tersebut diharapkan dapat menjadi tambahan pengetahuan sekaligus inspirasi bagi generasi muda untuk terus membangun Desa Kutosari menjadi lebih maju.
Sumber: Website desa Kutosari
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















