KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kembangsawit yang terletak di Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, menyimpan jejak sejarah panjang yang berpadu dengan cerita legenda yang masih hidup di tengah masyarakat hingga kini.
Secara turun-temurun, nama Kembangsawit telah digunakan sejak masa Kerajaan Mataram hingga era penjajahan Belanda. Nama ini tidak hanya menjadi identitas wilayah, tetapi juga mengandung makna filosofis yang menarik untuk ditelusuri.
Menurut penuturan sesepuh desa, nama Kembangsawit diyakini berasal dari istilah “Gebang sa wit” yang berarti satu pohon gebang. Konon, dahulu terdapat satu pohon gebang yang unik dan menjadi satu-satunya yang tumbuh di tengah permukiman warga. Keberadaan pohon tersebut bahkan disebut masih dapat dijumpai hingga sekarang.
Namun, versi lain menyebutkan bahwa nama Kembangsawit berkaitan dengan sebuah kompleks pemakaman kuno di Dusun Kambalan yang dikenal dengan sebutan Sorowedi. Di area tersebut tumbuh pohon gebang yang berbunga (kembang) sepasang (sa wit). Meski demikian, belum ada sumber resmi yang memastikan asal-usul penamaan tersebut.
Secara sosial ekonomi, mayoritas masyarakat Desa Kembangsawit menggantungkan hidup sebagai petani dan pengrajin anyaman tampah. Profesi ini menuntut kerja keras sekaligus menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Desa ini terdiri dari empat dusun, yakni Dusun Bunder, Dusun Krajan, Dusun Kembangsawit, dan Dusun Kambalan. Secara administratif terbagi menjadi 4 RW dan 10 RT, dengan jumlah RT terbanyak berada di Dusun Bunder.
Dalam catatan sejarah, wilayah Kembangsawit dulunya termasuk bagian dari sistem pemerintahan Kerajaan Mataram. Pada masa itu, struktur kepemimpinan dibagi berdasarkan jumlah warga yang dipimpin, seperti Penewu untuk seribu orang, Penatus untuk seratus orang, hingga Kebayan untuk lima puluh orang.
Meski tidak memiliki catatan tertulis yang lengkap, sejarah kepemimpinan desa dapat ditelusuri dari cerita para sesepuh. Desa Kembangsawit pernah dipimpin oleh sejumlah tokoh, dimulai dari Reso Bongso (1844–1895), Sontodiwiryo (1896–1945), hingga Ronggowardoyo (1945–1965).
Pada masa pergolakan tahun 1965, desa ini juga terdampak situasi nasional akibat peristiwa pemberontakan PKI. Pemerintah kemudian menunjuk pejabat sementara dari kalangan militer untuk menjaga stabilitas, di antaranya Sersan Darlan dan Sersan Sukirno.
Memasuki era modern, pemilihan kepala desa mulai dilakukan secara demokratis. Nama-nama seperti Supono yang menjabat dua periode, Subagiyono (1997–2007), hingga Marwan Sarjono (2007–2013) menjadi bagian dari perjalanan pembangunan desa.
Pada periode 2013–2019, kepemimpinan dipegang oleh H. Ashari. Sementara sejak tahun 2019, tongkat estafet pemerintahan desa dipercayakan kepada H. Ngadi Sukoyo, yang diharapkan mampu membawa kemajuan bagi Desa Kembangsawit ke depan.
Selain perjalanan kepemimpinan, desa ini juga mencatat berbagai peristiwa penting, mulai dari pembangunan SD Negeri pada 1960-an, pendirian TK Pamardisiwi, hingga masuknya program Dana Desa pada 2014 yang turut mendorong pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan perpaduan antara legenda, sejarah, dan dinamika sosial, Desa Kembangsawit menjadi salah satu desa di Kebumen yang memiliki kekayaan cerita sekaligus potensi untuk terus berkembang di masa depan.
Sumber:https://kembangsawit.kec-ambal.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/81
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















