KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik tenangnya wilayah pesisir selatan Kecamatan Ambal, tersimpan kisah legenda yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat. Desa Dukuhrejosari memiliki sejarah panjang yang berakar dari perjalanan seorang putri keraton hingga seorang abdi dalem yang setia.
Konon, pada zaman dahulu, seorang putri dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bernama Dewi Cempaka memutuskan meninggalkan lingkungan keraton. Ia pergi tanpa pamit, karena merasa tidak nyaman dengan kehidupan istana.
Perjalanan sang putri berakhir di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Dukuhrejosari. Kepergian Dewi Cempaka membuat pihak keraton khawatir, hingga akhirnya mengutus seorang abdi dalem bernama Rejopotro untuk mencarinya.
Dalam pencariannya, Rejopotro menunggangi seekor “Gajah Lacak”, hewan yang konon memiliki kemampuan luar biasa dalam melacak keberadaan seseorang melalui penciuman. Gajah tersebut juga dikenakan kalung lonceng, sehingga setiap langkahnya menimbulkan suara khas “klonang-kloneng”.
Suara lonceng itulah yang kemudian menjadi penanda wilayah yang dilalui. Salah satunya adalah daerah di sebelah utara yang kemudian dikenal sebagai Dusun Winong, yang kini terbagi menjadi Winong Wetan dan Winong Kulon.
Perjalanan berlanjut ke arah selatan hingga mereka tiba di sebuah sungai. Saat melompat, leher gajah tersangkut tanaman rambat hingga terlilit. Peristiwa itu menjadi asal mula penamaan Dusun Kalijirek.
Setelah berhasil melepaskan diri, Rejopotro melanjutkan pencarian hingga akhirnya menemukan Dewi Cempaka. Namun, upaya membujuk sang putri untuk kembali ke keraton tidak membuahkan hasil. Dewi Cempaka tetap memilih tinggal di tempat tersebut.
Merasa takut kembali ke keraton tanpa hasil, Rejopotro pun memutuskan untuk menetap dan mengabdi kepada Dewi Cempaka. Kesetiaan dan kepatuhannya membuat ia dijuluki “Gandek”, yang berarti pelayan setia. Wilayah tempat mereka tinggal kemudian dikenal sebagai Dusun Gandekan.
Seiring waktu, gajah yang setia menemani perjalanan tersebut akhirnya mati dan ditemukan dalam posisi terlentang di sebelah barat Gandekan. Lokasi itu kemudian dikenal sebagai Dusun Gentan.
Wilayah yang dihuni Dewi Cempaka dan Rejopotro semakin berkembang. Mereka membuka lahan, bercocok tanam, dan hidup sederhana. Dari perjalanan tersebut, terbentuklah beberapa pedukuhan, yakni Winong Wetan, Winong Kulon, Kalijirek, Gandekan, dan Gentan. Sementara satu wilayah di timur yang tidak dilalui perjalanan tersebut dinamai Dusun Dukuh.
Kelima pedukuhan tersebut kemudian disatukan menjadi satu desa yang awalnya dinamai Rejopotro, mengambil nama sang abdi dalem. Namun, karena Dewi Cempaka menetap dan hidup dari hasil bumi di wilayah tersebut, nama desa kemudian diubah menjadi Rejosari.
Seiring waktu, untuk menandai keberadaan Dusun Dukuh sebagai bagian penting wilayah tersebut, nama desa akhirnya menjadi Dukuhrejosari—nama yang dikenal hingga sekarang.
Legenda ini tidak hanya menjadi cerita turun-temurun, tetapi juga mencerminkan nilai kesetiaan, pengabdian, dan awal mula terbentuknya sebuah desa yang kini terus berkembang di Kabupaten Kebumen.
Sumber:Website desa
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















