SEJARAH

Asal Usul Desa Ambalkumolo Kebumen: Dari Kisah Mbah Boyong hingga Tradisi Sedekah Bumi yang Tetap Hidup

574
×

Asal Usul Desa Ambalkumolo Kebumen: Dari Kisah Mbah Boyong hingga Tradisi Sedekah Bumi yang Tetap Hidup

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

KEBUMEN, Kebumen24.com – Setiap desa memiliki cerita sejarah yang menjadi identitas dan jati dirinya. Begitu pula dengan Desa Ambalkumolo, sebuah desa di Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, yang menyimpan kisah unik tentang asal-usul namanya serta kekayaan tradisi budaya yang masih terjaga hingga kini.

Secara geografis, Desa Ambalkumolo berada sekitar 5 kilometer di selatan pusat Kota Kebumen atau sekitar 15 menit perjalanan dari kota. Desa ini memiliki tiga dusun, yakni Dusun Jeblog, Dusun Sumur Lor, dan Dusun Sumur Kidul, dengan jumlah penduduk sekitar 2.182 jiwa atau 634 kepala keluarga.

Kisah Mbah Boyong dan Asal Usul Nama Ambalkumolo

Sejarah berdirinya Desa Ambalkumolo tidak terlepas dari kisah seorang tokoh yang sangat disegani masyarakat pada masa lampau, yakni Mbah Boyong, seorang guru yang tinggal di wilayah Sumur Lor.

Pada masa itu, Mbah Boyong dikenal sebagai sosok alim dan berilmu sehingga banyak warga dari berbagai daerah datang untuk berguru kepadanya. Bahkan, warga dari Desa Jeblog yang berada di sebelah timur Sumur Lor datang secara berbondong-bondong untuk menimba ilmu.

Fenomena datangnya para murid yang berduyun-duyun itu dalam bahasa Jawa sering disebut “ambal-ambalan.” Dari peristiwa itulah kemudian muncul istilah Ambal, yang kemudian dipadukan dengan wilayah sekitar menjadi Ambalkumolo.

Seiring waktu, wilayah Desa Sumur Lor dan Desa Jeblog kemudian disatukan menjadi satu desa yang dikenal dengan nama Desa Ambalkumolo seperti yang dikenal hingga sekarang.

Dalam perjalanan pemerintahannya, Desa Ambalkumolo telah dipimpin oleh sejumlah kepala desa dari masa ke masa, di antaranya Wangsa Sentiko, Marto Pawiro, Surareja, Karya Wijaya, H. Dulah Mukti, Suradimeja, Brahim, Karsono, Abu Supyan, Hadi Suparto, Yuwono, hingga Budiyono.

Tradisi Sedekah Bumi, Wujud Syukur Warga Desa

Selain memiliki kisah sejarah yang unik, Desa Ambalkumolo juga dikenal sebagai desa yang masih menjaga tradisi dan adat istiadat leluhur.

Salah satu tradisi yang hingga kini terus dilestarikan adalah Sedekah Bumi, sebuah ritual tahunan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas berkah hasil bumi, keselamatan, dan kesejahteraan desa.

Tradisi ini biasanya dilaksanakan dengan melibatkan seluruh masyarakat desa. Warga bersama-sama membuat nasi tumpeng dan berkumpul di tempat yang telah disepakati, seperti balai desa atau rumah sesepuh kampung.

Acara tersebut dipimpin oleh kyai, sesepuh desa, dan tokoh masyarakat yang memanjatkan doa keselamatan untuk seluruh warga dan desa. Setelah doa bersama, nasi tumpeng kemudian disantap bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Menariknya, dalam doa yang dipanjatkan saat Sedekah Bumi terdapat perpaduan antara lantunan bahasa Jawa dan doa bernuansa Islami, yang mencerminkan harmoni budaya Jawa dan nilai-nilai keagamaan di masyarakat.

Kuda Lumping, Warisan Budaya yang Tetap Lestari

Selain tradisi Sedekah Bumi, masyarakat Desa Ambalkumolo juga masih melestarikan kesenian tradisional kuda lumping.

Kesenian ini telah ada sejak sekitar tahun 1970-an melalui sebuah kelompok seni bernama Binaraga Cahyo Kumolo. Pertunjukan kuda lumping biasanya diiringi musik gamelan serta berbagai ritual budaya seperti pembakaran kemenyan dan penyajian sesaji.

Dalam pertunjukan tersebut, para penari menampilkan berbagai gerakan khas seperti gerakan congklak, thakuran, nyirig, gebesan, hingga pancakgulu, yang menjadi bagian dari seni binaraga.

Pertunjukan kuda lumping biasanya digelar dalam berbagai acara seperti syukuran desa, hajatan warga, hingga peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Antusiasme masyarakat terhadap kesenian ini cukup tinggi, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Bagi warga, kesenian kuda lumping tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga memiliki makna filosofis tentang keberanian, semangat perjuangan, serta refleksi sifat manusia dalam kehidupan.

Dengan sejarah panjang dan kekayaan tradisi yang dimiliki, Desa Ambalkumolo menjadi salah satu desa di Kebumen yang terus menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakatnya dari generasi ke generasi.

Sumber; https://ambalkumolo.kec-buluspesantren.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/6/118


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.