Uncategorized

Menguak Asal Usul Desa Kebapangan Poncowarno Kebumen: Ternyata dari Kata “Kebak Pangan”

467
×

Menguak Asal Usul Desa Kebapangan Poncowarno Kebumen: Ternyata dari Kata “Kebak Pangan”

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI AI

KEBUMEN, Kebumen24.com – Sejarah sebuah desa sering kali menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, tradisi, dan identitas masyarakatnya. Hal itulah yang juga melekat pada perjalanan Desa Kebapangan di Kecamatan Poncowarno, yang konon berasal dari istilah “Kebak Pangan”, sebuah nama yang menggambarkan kemakmuran hasil bumi pada masa lampau.

Menurut penuturan para sesepuh desa, sebelum menjadi desa seperti sekarang, wilayah ini telah memiliki bentuk pemerintahan setingkat desa bernama Kebak Pangan. Nama tersebut berasal dari kata “kebak” yang berarti penuh dan “pangan” yang berarti makanan. Artinya, wilayah ini dikenal sebagai daerah yang melimpah hasil pertaniannya.

Letaknya yang berada di kawasan perbukitan dan pegunungan menjadikan masyarakat setempat mayoritas berprofesi sebagai petani dan pekebun. Sejak dahulu, wilayah Kebapangan terkenal dengan berbagai komoditas pertanian seperti singkong, padi gaga, cengkeh, ubi jalar, hingga jagung.

Wilayah ini diapit oleh perbukitan serta dikelilingi hamparan hutan dan pegunungan yang subur. Kondisi geografis tersebut membuat daerah ini menjadi salah satu wilayah agraris yang penting bagi masyarakat setempat.

Jejak Sejarah yang Masih Terjaga

Beberapa peninggalan sejarah yang masih dapat ditemukan hingga kini menjadi bukti perjalanan panjang wilayah Kebapangan. Di antaranya adalah sejumlah makam tokoh leluhur yang dihormati masyarakat.

Beberapa situs yang masih dijaga hingga sekarang antara lain:

  • Pasarean Mbah Brajadita di Kampung Kebapangan
  • Makam Buyut Klowong di Dukuh Kemukus
  • Makam Mbah Bleder di Dukuh Dogleg
  • Makam Mbah Gedug di Dukuh Karangpencil

Makam-makam tersebut diyakini sebagai tempat peristirahatan tokoh-tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah awal wilayah Kebapangan.

Kepemimpinan Desa dari Masa ke Masa

Pada masa lalu, pemimpin desa dikenal dengan sebutan Dongkol, yang kini setara dengan Kepala Desa. Dari penuturan para sesepuh dan data yang berhasil dihimpun, berikut silsilah kepemimpinan Desa Kebapangan:

  1. Jangkung – masa jabatan tidak diketahui
  2. Marto Mijoyo – masa jabatan tidak diketahui
  3. Mad Sentana – menjabat sekitar 1 tahun
  4. Soekirman – menjabat sejak 1967
  5. Soeprapto – menjabat 1967–1991
  6. Sariman – menjabat 1991–1999
  7. Slamet – menjabat 1999–2013
  8. Lenjing Parman – menjabat 2013–2021
  9. Susiyanto – menjabat 2021
  10. Slamet – menjabat 2022 hingga sekarang

Silsilah tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah pemerintahan desa yang terus berkembang hingga saat ini.

Lahirnya Desa Pamulihan

Perjalanan sejarah wilayah ini kemudian berlanjut dengan lahirnya Desa Pamulihan. Berdasarkan penelusuran sejarah yang dilakukan oleh warga, khususnya para perantau yang tergabung dalam Ikatan Kekeluargaan Warga Pamulihan (IKWP), diketahui bahwa kuwu pertama Desa Pamulihan adalah Wiradinata, yang lebih dikenal dengan sebutan Kuwu Sajong.

Beliau diperkirakan mulai memimpin sekitar tahun 1870.

Dari data tersebut, pada tahun 2003 Desa Pamulihan diperkirakan telah berusia 133 tahun.

Untuk mempererat hubungan antara warga desa dan perantau, IKWP yang berada di Bekasi, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Karawang hingga Cilegon rutin menggelar berbagai kegiatan sosial dan kekeluargaan, termasuk halal bihalal, kegiatan seni, olahraga, hingga bantuan sosial bagi masyarakat desa.

Penetapan Hari Jadi Desa Pamulihan

Momentum penting terjadi pada 26 November 2003, bertepatan dengan 2 Syawal 1424 H, ketika masyarakat Desa Pamulihan bersama warga perantau menggelar acara halal bihalal di halaman Balai Desa.

Dalam forum musyawarah yang dihadiri pamong desa, tokoh masyarakat, RT, RW, serta warga perantau, disepakati bahwa tanggal 2 Syawal ditetapkan sebagai Hari Jadi Desa Pamulihan.

Keputusan tersebut kemudian disahkan oleh Kepala Desa saat itu, S. Wardjo, setelah mendapat persetujuan mayoritas peserta musyawarah.

Sejak saat itu, setiap tanggal 2 Syawal menjadi momentum bagi masyarakat Desa Pamulihan untuk memperingati hari lahir desa sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga, baik yang tinggal di desa maupun di perantauan.

Sumber: website Desa Kebapangan


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com