KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kedungdowo di Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah legenda yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Cerita ini mengisahkan perjalanan seorang petapa perempuan sakti yang bersembunyi dari kejaran penjajah Belanda hingga akhirnya memberi nama pada sejumlah wilayah yang kini menjadi bagian dari sejarah desa.
Pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Kedungdowo masih berupa hutan belukar yang dilalui sungai panjang dan lebar. Di kawasan itulah kemudian datang sekelompok pengembara yang terdiri dari pasangan suami istri bersama dua pengikutnya untuk bertapa dan menuntut ilmu.
Mereka dikenal dengan berbagai nama samaran, antara lain Kerta Jasa (Theklek Samara), Menta Laksana (Bera Samaran), serta Cempluk (Samaran). Dalam cerita rakyat setempat, tokoh yang paling dikenal adalah Rantan Sari—seorang perempuan sakti yang juga dijuluki Si Randha, karena ia adalah seorang janda.
Konon, Rantan Sari dikenal sebagai petapa pengelana yang memiliki kesaktian luar biasa dan sering berpindah tempat untuk menghindari kejaran penjajah Belanda. Ia disebut-sebut sebagai salah satu tokoh yang mendorong perlawanan terhadap kolonialisme pada masa itu.
Tempat persembunyiannya kemudian dikenal dengan sebutan “Si Randha”, merujuk pada statusnya sebagai seorang janda dalam bahasa Jawa. Di tempat itu, banyak orang datang untuk belajar dan menimba ilmu darinya.
Masyarakat meyakini bahwa Rantan Sari memiliki kemampuan luar biasa. Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah saat ia menjamu banyak tamu dan jawara yang datang untuk berguru. Meski makanan yang disajikan tampak sedikit, semua tamu tetap dapat makan hingga kenyang, seolah makanan tersebut tidak pernah habis.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Persembunyian Rantan Sari akhirnya diketahui oleh pasukan Belanda. Merasa tempatnya tidak lagi aman, ia pun meninggalkan lokasi tersebut dan berpindah mencari tempat yang lebih aman.
Dalam pelariannya, ia sempat tiba di sebuah sungai yang memiliki lubuk yang dalam dan panjang. Tempat itu kemudian dikenal sebagai Kedungdowo, yang berasal dari kata kedung (lubuk) dan dowo (panjang).
Di tempat itu pula ia sempat tertangkap oleh pasukan Belanda dan dicekik—dalam bahasa Jawa disebut tekek. Peristiwa tersebut kemudian dikenang dengan penamaan wilayah Tekik.
Dengan memanfaatkan kesaktiannya, Rantan Sari berhasil meloloskan diri dan melarikan diri ke arah utara. Ia kemudian bertapa kembali di sebuah tempat yang kemudian dinamakan Sida Tapa.
Perjalanan pelariannya terus berlanjut di tengah cuaca mendung disertai hujan lebat, petir, dan guntur. Tempat persembunyian berikutnya kemudian dikenal dengan nama Sipetir, sebagai pengingat peristiwa alam yang menyertai pelariannya.
Sementara itu, pada tahun 1825, seorang tokoh bernama Syahdan atau yang lebih dikenal sebagai Kendil Wesi datang melewati sungai Kedungdowo. Ia kemudian bertemu dengan Rantan Sari dan bersama-sama bertapa di wilayah tersebut.
Pertemuan itu akhirnya berujung pada pernikahan antara Syahdan atau Kendil Wesi dengan Rantan Sari. Prosesi pernikahan mereka konon diiringi kesenian tradisional tayub atau ronggengan.
Setelah menikah, keduanya menetap di sekitar sungai tersebut. Dari sanalah kemudian muncul permukiman yang berkembang menjadi Desa Kedungdowo seperti yang dikenal saat ini.
Tradisi kesenian tayub hingga kini masih menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat, terutama pada saat menjelang musim tanam maupun setelah panen sebagai bentuk ungkapan syukur.
Secara administratif, Desa Kedungdowo memiliki luas wilayah sekitar 154 hektare dengan jumlah 175 kepala keluarga dan total penduduk sekitar 523 jiwa.
Sejak berdiri hingga sekarang, Desa Kedungdowo telah dipimpin oleh beberapa kepala desa secara berturut-turut, yaitu:
- Lurah Citra
- Glondong Samireja
- Lurah Marwi
- Lurah Kastaruna
- Kades Iman Sutrisno
- Kades Sutjipto TM
- Kades Ratna
- Kades Purwito
- Tumbar Sudarso
Legenda ini menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Desa Kedungdowo yang terus dijaga sebagai warisan sejarah lokal di Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen.
Sumber: Website Desa Kedungdowo Poncowarno Kebumen.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















