SEJARAH

Mengungkap Jejak Sejarah Desa Sempor: Dari Obor yang Menyala hingga Sosok Para Leluhur

1241
×

Mengungkap Jejak Sejarah Desa Sempor: Dari Obor yang Menyala hingga Sosok Para Leluhur

Sebarkan artikel ini
Waduk Sempor yang kini menjadi ikon Desa Sempor, Kebumen, diyakini berhubungan erat dengan sejarah dan wasiat para leluhur. (Foto: Dok.Desa Sempor)

KEBUMEN, Kebumen24.com — Desa Sempor, sebuah wilayah yang terletak di Kecamatan Sempor, Kebumen, menyimpan sejarah panjang penuh makna. Cerita asal-usul desa ini diwariskan secara turun-temurun, menjadi identitas yang dijaga dan dihormati oleh masyarakat hingga kini.

Lahir dari Terang Obor

Konon, nama “Sempor” bermula pada masa dua putra Eyang Kebrok mendapat tugas membuat sungai. Sang kakak membuat Sungai Sampang di sebelah barat, sedangkan sang adik membuat Sungai Kedungwringin di timur. Ketika kedua aliran sungai itu bertemu di sebuah titik yang kini dikenal sebagai Kali Cawang, hari sudah gelap. Untuk melanjutkan pekerjaan, mereka menyalakan obor—dalam bahasa Jawa disebut sempor. Sejak saat itulah kawasan tersebut disebut Desa Sempor.

Kisah ini juga menceritakan tentang batu besar yang menghalangi aliran sungai. Berkat wasiat Eyang Kebrok berupa gebyas (botol kecil), batu itu berhasil dipecah dan pecahannya disingkirkan ke wilayah Krumput. Uniknya, pecahan batu itu kemudian digunakan untuk pembangunan Bendungan Sempor yang kini menjadi kebanggaan warga.

Jejak Para Leluhur yang Berpengaruh

Desa Sempor juga dikenal memiliki beberapa situs keramat, masing-masing menyimpan cerita yang sarat nilai spiritual:

  • Penembahan Gumawang, makam R. Madu Lata—putra Sultan Hadi dari Mataram—yang semasa hidupnya membabat hutan hingga menjadi cikal bakal Desa Sempor. Karena diyakini rohnya selalu “mengawang” di atas makam, tempat ini dikenal sebagai Gumawang.
  • Penembahan Jariah, tempat peristirahatan terakhir seorang petani dermawan yang gemar berbagi hasil panen tanpa pamrih. Atas kedermawanannya, beliau dikenal dengan nama Eyang Jariah.
  • Penembahan Buyut, diyakini berasal dari seorang pembabat hutan yang menemukan makam tua (krapyak) di tengah hutan. Keturunannya kemudian ditugasi merawat makam itu hingga kini.
  • Penembahan Pelinggihan, sebuah situs di Dukuh Petahunan yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan Pangeran Diponegoro saat melarikan diri dari kejaran tentara Belanda. Hingga kini, area sekitar tempat itu difungsikan sebagai pemakaman umum.
  • Penembahan Raga Semangsang, berkisah tentang Kala Merta—seorang sakti mandraguna yang menebas hutan untuk dijadikan perkampungan. Ketika menghadapi pohon besar yang sulit ditebang, Kala Merta bersemedi di atas pohon tersebut, lalu menciptakan sumber air putih dengan pusaka. Lokasi semedinya kini dikenal dengan nama Raga Semangsang, sedangkan sumber air itu dinamai Dukuh Kaliputih.

Pesan Luhur yang Tetap Hidup

Selain jejak fisik, masyarakat Sempor juga mewarisi perjanjian tentang batas wilayah demi kesejahteraan anak cucu, termasuk ide pembuatan kolam yang kini terwujud sebagai Waduk Sempor.

Sejarah dan kisah para leluhur Sempor bukan sekadar legenda, tetapi menyimpan pesan moral tentang semangat kebersamaan, gotong royong, dan kedermawanan. Nilai-nilai itu diharapkan terus diteladani oleh generasi sekarang.

Sumber: Pemdes Sempor / https://sempor.kec-sempor.kebumenkab.go.id/


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.