Oleh: Mukhsinun, S.H.I., M.E.I. (Ketua Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan (PC LP) Ma’arif NU Kebumen)
KEBUMEN — Sosok KH Muslih bin Abdurrahman, atau yang lebih masyhur dengan panggilan KH Muslih al-Maraqi, adalah salah satu mutiara berharga dalam sejarah ulama Nusantara. Lahir pada tahun 1908 di Desa Suburan, Mranggen, Demak, beliau tumbuh menjadi ulama karismatik yang tak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
KH Muslih adalah putra dari KH Abdurrahman bin Qosidil Haq dan Hj. Shofiyyah. Dari garis ayah, silsilah beliau tersambung hingga Syeikh Al-Jali (Syeikh Al-Khowaji) yang berasal dari Baghdad, keturunan Sayyidina Abbas r.a, paman Nabi Muhammad SAW. Sedangkan dari jalur ibu, beliau masih memiliki darah keturunan Sunan Ampel, salah satu Wali Songo.
Sejak kecil, KH Muslih telah menunjukkan kegemarannya dalam menuntut ilmu. Beliau berguru pertama kali kepada ayahnya, lalu melanjutkan belajar kepada para masyayikh di Haramain (Mekkah-Madinah), termasuk kepada Syeikh Yasin Al-Fadani Al-Makki. Di tanah air, beliau pernah berguru pada KH Ibrohim Yahya (Mranggen), KH Zuber, KH Maksum (Rembang), serta Syeikh Abdul Latif Al-Bantani. Beliau juga pernah mondok di Pesantren Termas, Pacitan.
Di Termas, kealimannya diakui oleh para kiai. Bahkan, KH Ali Maksum (Krapyak Yogyakarta), yang saat itu menjabat sebagai kepala madrasah Termas, langsung meminta KH Muslih mengajar kitab Alfiyyah. Meski sempat menolak karena merasa belum mampu, setelah dibujuk gurunya, beliau akhirnya menerima dan mulai mengajar. Dari sini pula, KH Muslih mempelajari metode pengajaran klasikal (madrasah) yang kelak ia kembangkan di kampung halamannya.
Pada 1935, KH Muslih pulang ke Suburan Mranggen dengan tekad kuat untuk mendirikan lembaga pendidikan. Setahun kemudian, pada 1936, berdirilah Madrasah Ibtidaiyyah yang menjadi cikal bakal Pesantren Futuhiyyah. Lembaga ini terus berkembang hingga sekarang, menjadi salah satu pusat pengkaderan ulama dan pejuang agama.
Tak hanya berjasa di bidang pendidikan, KH Muslih juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan. Beliau ikut serta dalam laskar Hizbullah yang berlatih kemiliteran bersama Syeikh KH Abdullah Abbas Buntet Cirebon, hingga bergabung dengan komando pasukan Sabilillah yang beranggotakan para kiai di wilayah Demak Selatan atau Front Semarang Tenggara.
Sebagai mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), KH Muslih diakui luas sebagai Abul Masyayekh (bapaknya para kiai) dan Syeikhul Mursyidin (pemimpin para mursyid). Beliau aktif membesarkan Jam’iyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) hingga akhir hayatnya pada 1981.
Hari ini, semangat KH Muslih menjadi teladan bagi para santri. Berziarah ke makam beliau bukan hanya sekadar ritual, tetapi menjadi momentum “bilbarkah” (mengharap keberkahan) sekaligus “belajar” dari keteladanan dan jejak perjuangan sang kiai. Melalui kegiatan ziarah, para santri diajak merenungi makna pengabdian, keikhlasan, dan semangat membumikan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Sumber referensi: Adjie Najmudin (NU Online) dan berbagai sumber lain.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


















