SEJARAH

Menguak Tradisi Merdi Bumi Desa Kebakalan Karanggayam

2400
×

Menguak Tradisi Merdi Bumi Desa Kebakalan Karanggayam

Sebarkan artikel ini
Foto Pagelaran wayang kulit desa kebakalan 9Dok Desa Kebakalan)

KEBUMEN, Kebumen24.com – Merdi Bumi/Ruwat Bumi Desa Kebakalan Kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen Jawa Tengah, merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman dulu. Ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur warga Desa Kebakalan, Pengharapan setahun kedepan, serta penghormatan kepada leluhur.

Tradisi ini rutin dilakukan setiap setahun sekali, di Bulan Sura atau muharrom. Prosesi tradisi Merdi Bumi merupakan serangkaian bentuk dan ritual dalam tradisi ruwat.

Dilansir dari laman website resmi Desa Kebakalan menyebutkan, Bentuk tradisi ruwat bumi yaitu istighozah, do’a bersama, perebutan gunungan hasil bumi, selamatan dan pagelarang wayang kulit satu malam suntuk. Ubarampe yang digunakan yaitu kembang setaman, kemenyan dan mata air dari sumber mata airnya.

Pelaku yang ada dalam tradisi tersebut yaitu ketua adat, sesepuh desa, dan masyarakat Desa Kebakalan Kecamatan Karanggayam. Makna ubarampe dalam tradisi ruwat bumi yaitu kembang setaman, kemenyan, tumpeng, ayam. Kembang setaman maknanya cerah dan ceria.

Sedangkan Kemenyan maknanya menyampaikan kepada leluhur, sumber mata air maknanya air yang dipercaya sebagai obat untuk segala penyakit. Kemudian tumpeng maknanya tumerape lempeng yang artinya kita harus bertindak yang baik dan andhap asor, ayam maknanya bahwa manusia itu banyak dosanya walau sudah dibersihkan beberapa kali manusia tetap membuat dosa.

Adapun fungsi tradisi ruwat bumi yaitu fungsi spiritual, fungsi religi, fungsi melestarikan kebudayaan, dan fungsi sosial.

Sumber : https://kebakalan.kec-karanggayam.kebumenkab.go.id


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.