Pendidikan

Lina Eka Sari ; Menumbuhkan Resiliensi Sejak Dini dengan Pembelajaran Inkuiri

1948
×

Lina Eka Sari ; Menumbuhkan Resiliensi Sejak Dini dengan Pembelajaran Inkuiri

Sebarkan artikel ini
Lina Eka Sari, KBIT Al Hikmah Sempor

Oleh Lina Eka Sari, KBIT Al Hikmah Sempor

Program Studi Pasca Sarjana , Unversitas PGRI Semarang

Email : linalhikmah15@gmail.com

Abstrak.

Facing the industrial era 4.0 and an era that continues to develop, children are brought in many situations with so many conveniences. Parents who always provide facilities so that children get used to being served. Conditions like this make children fast, anxious, sad, or angry in dealing with problems. Inquiry learning is a learning activity that maximally involves all the abilities of students to seek and investigate natural phenomena, living things or objects, systematically critically, analytically and logically.

The main purpose of inquiry learning is to develop the attitudes and skills of students, so that they can become independent problem solvers. So that it is hoped that children in the future will be easy to adapt and remain firm in difficult situations

Menghadapi di era industri 4.0 dan zaman yang terus berkembang, anak- anak di bawa dalam  situasi yang banyak begitu kemudahan. Orang tua yang selalu memberikan fasilitas sehingga anak terbiasa dilayani. Kondisi seperti ini menjadikan anak cepat, cemas, sedih, atau marah dalam mengahapi permasalahan. Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki sesuatu fenomena alam, makhluk hidup  atau benda, secara sistematis kritis, analitis  dan logis.

Tujuan utama pembelajaran inkuiri adalam mengembangkan sikap dan keterampilan peserta didik, sehingga mereka dapat menjadi pemecah masalah yang mandiri (independent problem solvers). Sehingga diharapkan anak- anak di masa depan akan mudah untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit

 

Kata-kata kunci: Resiliensi dan Inkuiri

Pendahuluan

Anak usia dini adalah anak yang mempunyai rentang usia 0-6 tahun. Masa ini juga disebut sebagai masa emas. Dikarenakan masa yang sangat penting di sepanjang hidupnya. Anak mempunyai ciri yang unik yaitu dia mampu berfikir secara kritis karena daya imajinasinya yang sedang berkembang.

 

Namun, dalam kenyataannya anak dihadapkan dengan lingkungan seperti orang tua yang menerapkan pola asuh permisif. Pola pengasuhan ini diartikan dengan mendidik anak dengan cara menuruti segala keinginannya. Sehingga berakibat anak ketika menghadapi permasalahan dia mudah menyerah.

 

Selanjutnya penyebab lainnya adalah guru yang menjadi agen pengubah masih seringkali melaksanakan tugas nya seperti pola lama atau seperti mengajar orang dewasa. Padahal anak- anak dengan berbagai kecerdasannya ia mampu menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa harus di dikte.

 

Model pembelajaran yang berpusat pada guru mengakibatkan anak tidak kreatif cenderung menunggu perintah dari guru saja sehingga ini mengakibatkan anak malas untuk berfikir dan mudah menyerah.

 

Menurut Daniel dan Sally  (Patilima, 2013) resiliensi dapat diartikan sebagai perkembangan normal  dalam  kondisi  sulit. Resiliensi merupakan keberhasilan seseorang meskipun telah menghadapi kesulitan yang berkepanjangan (Luthar, 2000).

 

Sedangkan menurut Grotberg (1999), resiliensi merupakan  suatu  kemampuan  yang  dimiliki oleh  individu agar dapat menghadapi dan mengatasi  permasalahan yang dialami, serta memperkuat   diri dan mau berubah agar dapat menyelesaikan ujian yang individu alami.

 

Kapasitas resiliensi yang dimiliki setiap individu berbeda. Resiliensi memfokuskan pada bagaiman    kekuatan individu dibentuk agar kesulitan yang timbul dalam kehidupan dapat dihadapi dan diatasi. Menurut Block (Papalia, 2001) resiliensi dideskripsikan sebagai salah satu tipe kepribadian dengan    ciri-ciri yaitu, memiliki kemampuan penyesuaian yang baik (adaptasi), mandiri, percaya diri, pandai berbicara, penuh perhatian, peduli dan fokus dengan tugas.

 

Inkuiri memastikan bahwa siswa tidak hanya menghafal informasi faktual yang diperlukan, tetapi juga menerapkan fakta untuk pengembangan pertanyaan yang bermakna dan pemahaman mereka sendiri. Pendekatan bertanya yang digunakan selama proses inkuiri memungkinkan siswa untuk berkembang dari sekadar memegang dan menemukan informasi faktual menjadi mampu menerapkan pengetahuan baru dalam cara yang baru dan berbeda.

 

Pembahasan

Pembelajaran Inkuiry adalah sebuah proses dimana anak terlibat didalam pembelajarannya, menemukan pertanyaan-pertanyaan esensi, menyelidiki secara mendalam, membangun pemahaman, makna dan pengetahuan baru

(Alberta, 2004). Semakin luas kesempatan yang diberikan pada anak, maka semakin dalam motivasi anak untuk belajar dan semakin kaya pengalamannya loris malaguzzi.

Di kelas, pembelajaran berorientasi inkuiri dapat memiliki banyak bentuk. Beranjak dari pelafalan tradisional, pendekatan inkuiri untuk belajar mendorong dan membantu siswa membentuk pertanyaan mereka sendiri dan bekerja melalui proses menjawabnya.

Melalui pembelajaran inkuiri, siswa menjadi aktif terlibat dalam kegiatan inkuiri dengan memasukkan keterampilan literasi informasi ke dalam pemecahan masalah. Keterampilan seperti mengamati, mengumpulkan, menganalisis, dan mensintesis informasi dikembangkan untuk membuat prediksi dan menarik kesimpulan. Pembelajaran yang berorientasi inkuiri memungkinkan siswa untuk menemukan dan mengejar informasi dengan keterlibatan aktif dan terlibat dalam materi.

 

Tahapan pembelajaran inkuiri :

  1. Doing

Didefinisikan oleh pengalaman dan eksplorasi, melibatkan siswa dalam proses pembelajaran sehingga mereka memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang materi yang diajarkan. Pembelajaran inkuiri menerapkan pendekatan konstruktivis sehingga siswa berinteraksi dengan konten dengan mengajukan pertanyaan untuk meningkatkan pemahaman dan pemahaman sekaligus mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.

 

Bermakna kebebasan melakukan sesuatu yang dikendaki. Ini sangat sesuai dengan prinsip pembelajaran anak usia dini bahwa anak harus merdeka bermain.

  1. Evaluating

Berikutnya adalah di evaluasi tentang apa yang sudah dilakukan. Guru akan mengetahui kesulitan yang dihadapi kemudian mencari alternatif dari kesulitan yang dihadapi.

  1. Reflecting

Inti dari proses inkuiri ini adalah refleksi dan umpan balik dari guru dan teman sekelas untuk memastikan bahwa pemahaman dan akhirnya pembelajaran terjadi. Hal ini adalah proses siklus yang terus bergerak di antara setiap fase.

Sedangkan kemampuan- kemampuan dasar resiliensi menurut Reivich dan Shate adalah (1) regulasi emosi yaitu sikap tenang di bawah kondisi yang menekan, (2) Pengendalian impuls yakni kemampuan individu untuk mengendalikan keinginan, dan (3) Optimisme adalah seseorang yang melihat masa depannya cemerlang dan bahagia.

 

kemudian (4) Analisis penyebab masalah yaitu mampu mengidentifikasi masalah dari permasalahan yang dihadapinya, (5) Empati adalah kemampuan seseorang mampu membaca tanda- tanda emosional orang lain, (6) Efikasi Diri yaitu yakin bahwa dirinya bisa menghadapi masalah, (7) Reaching out adalah mampu keluar dari keterpurukan.

 

Sehingga pembelajaran inkuiri yang diterapkan dapat bermanfaat diantaranya (1) Membangkitkan belajar dari rasa ingin tahu anak, (2) Mengembangkan kekuatan dan kemampuan individu, (3) pemecahan masalah yang kreatif dan fleksibel, (4) Rasa memiliki, (5) Cara berfikir tingkat tinggi, (6) Meningkatkan daya ingat, (7) Masalah perilaku di kelas berkurang.

 

Simpulan dan saran

Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran anak usia dini yang menggunakan metode konvensional akan membuat anak tidak berfikir kritis dan mudah menyerah. Pembelajaran inquiri menjadikan anak mampu mengembangkan ketrampilan menuju abad 21 dengan memiliki sikap yang tenang dan mempu dalam menghadapi permasalahan.

Saran yang disampaikan antara lain sebagai seorang guru dan orang tua harus dapat memahami bahwa pendidikan zaman anak sekarang berbeda dengan zaman kita dulu. Sehingga perlu pengembangan pembelajaran agar dapat menciptakan anak- anak yang siap menghadapi zamannya kelak. Jadilah pembelajar sejati karena anak usia dini menjadi penerus bangsa ini.

 

Daftar Pustaka

Fahim Akhmada, Masyuda. Nurul Uyun, Indria 2019.Peran Orang Tua Dalam Membangun Resiliensi Pada Anak Usia Dini, http://proceeding.semnaslp3m.unesa.ac.id/index.php/Artikel/issue/view/1

GTK PAUD, Direktorat 2020. Apa yang di maksud inkuiri https://gtkpaud.kemdikbud.go.id/apa-yang-dimaksud-inkuiri

DD Aprilia 2019 http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/4986/3/BAB%20II.pdf

Wiwin, Hendriani 2018. Resiliensi Psikologis. Prenadamedia Group


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.