KUTOWINANGUN, Kebumen24.com – Sebuah hobi terkadang bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Jika ditekuni dengan serius, ketertarikan terhadap sesuatu dapat berkembang menjadi keahlian, bahkan membuka jalan menuju profesi.
Hal itulah yang dialami Sensei Anggi, guru Bahasa Jepang di SMK Muhammadiyah Kutowinangun (Muhiku). Ketertarikannya terhadap Bahasa Jepang berawal dari rasa suka mempelajarinya. Dari sana, tumbuh keinginan untuk memperdalam kemampuan sekaligus membagikan ilmu kepada orang lain.
Kisah tersebut disampaikan Sensei Anggi saat berbincang dengan peserta Pelatihan Jurnalistik di SMK Muhammadiyah Kutowinangun, Rabu (16/9/2026).
“Yang pertama pasti karena saya awalnya suka belajar Bahasa Jepang. Dari rasa suka itu, saya ingin membagikan ilmu saya kepada orang lain,” ujar Sensei Anggi.
Menurutnya, ketertarikan terhadap Jepang tidak hanya berasal dari bahasanya. Berbagai aspek budaya Negeri Sakura, mulai dari kuliner, pariwisata hingga film, turut membangun rasa ingin tahunya.
Berawal dari ketertarikan tersebut, Sensei Anggi kemudian terdorong mempelajari Bahasa Jepang secara lebih serius. Perjalanan itu membawanya melanjutkan pendidikan di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, yang mulai dijalaninya pada 2020.
Bagi Sensei Anggi, belajar Bahasa Jepang sebaiknya dilakukan secara bertahap dan dapat dimulai sejak usia muda. Terlebih, kemampuan bahasa asing dapat menjadi bekal bagi mereka yang memiliki rencana melanjutkan pendidikan maupun mencari pengalaman kerja di Jepang.
Ia juga memiliki kebiasaan tersendiri dalam mempelajari materi baru, terutama ketika harus menghafal kosakata. Menurutnya, pagi hari ketika suasana masih tenang menjadi salah satu waktu yang efektif untuk berkonsentrasi.
“Waktu yang paling efektif menurut saya untuk belajar Bahasa Jepang itu setelah bangun pagi, sekitar jam tiga,” tuturnya.
Meski bagi sebagian orang Bahasa Jepang memiliki tingkat kesulitan tersendiri, minat terhadap bahasa tersebut terus berkembang. Peluang pendidikan dan pekerjaan di Jepang menjadi salah satu faktor yang membuat generasi muda tertarik mempelajarinya.
Di sisi lain, budaya populer Jepang juga membuat bahasa tersebut semakin dekat dengan kehidupan anak muda. Anime, film, musik, kuliner hingga berbagai konten mengenai kehidupan masyarakat Jepang menjadi pintu masuk bagi banyak orang untuk mengenal lebih jauh budaya dan bahasanya.
Sebagai guru, Sensei Anggi menyadari bahwa setiap siswa memiliki karakter dan gaya belajar yang berbeda. Karena itu, pembelajaran Bahasa Jepang tidak selalu dilakukan dengan metode konvensional.
Ia berusaha menghadirkan suasana belajar yang lebih menyenangkan dengan memanfaatkan berbagai media. Salah satunya melalui lagu yang digunakan sebagai sarana membantu siswa memahami materi, khususnya bagi mereka yang lebih mudah menerima informasi melalui pendengaran.
Selain lagu, siswa juga diajak menyaksikan berbagai video yang berkaitan dengan budaya Jepang. Pada kesempatan tertentu, pembelajaran bahkan dikemas melalui kegiatan menonton film bersama.
Menurut Sensei Anggi, pendekatan tersebut dapat membuat siswa lebih antusias mengikuti pembelajaran. Mereka tidak hanya berhadapan dengan kosakata dan tata bahasa, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai budaya serta kehidupan masyarakat Jepang.
Dengan metode yang lebih beragam, pembelajaran Bahasa Jepang diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan menghafal. Siswa juga dapat menikmati proses belajar sekaligus memahami konteks penggunaan bahasa yang mereka pelajari.
Bagi Sensei Anggi, semuanya berawal dari rasa suka. Ketertarikan terhadap budaya Jepang mendorongnya belajar lebih dalam. Pengetahuan yang diperoleh kemudian menjadi bekal untuk berbagi dengan orang lain melalui profesinya sebagai seorang guru.
Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa sebuah hobi yang ditekuni dengan sungguh-sungguh dapat berkembang menjadi keahlian dan membuka jalan menuju masa depan.(K24/*)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















