SEJARAH

Jejak Sejarah dan Kondisi Desa Selokerto, Kecamatan Sempor, Kebumen

324
×

Jejak Sejarah dan Kondisi Desa Selokerto, Kecamatan Sempor, Kebumen

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Selokerto, salah satu desa di Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang menarik, dari legenda hingga perkembangan menjadi desa mandiri.

Asal-usul Desa Selokerto

Desa Selokerto terbentuk dari penggabungan dua desa kecil, yaitu Desa Karang Tengah dan Desa Sanggar. Desa Karang Tengah dulunya merupakan peninggalan kerabat Keraton Yogyakarta dan berada di bawah pengawasan Demang Kejawang. Pajak atau upeti desa ini disetorkan ke keraton, dan Ki Demang diberi imbalan berupa sawah di wilayah Karang Tengah, yang kini dikenal sebagai Sawah Dalem. Karena usia Ki Demang yang menua, ia mengangkat saudaranya, Jaya Mustari, sebagai Lurah Desa Karang Tengah. Saat pemerintahan Belanda melakukan pemutihan tanah, desa ini dikenal sebagai Desa Pemutihan karena pajaknya tidak lagi disetorkan ke keraton.

Sementara itu, Desa Sanggar dikenal memiliki bangunan berupa candi kecil untuk bersemedi dan pemujaan masyarakat Hindu-Buddha, bernama Sanggar Pamujan. Beberapa Lurah yang pernah memimpin Desa Sanggar hingga tahun 1913 antara lain Lurah Bindeng, Lurah Sibun, dan Glondong Jantana. Pada tahun 1915, pemilihan Lurah dilakukan dengan sistem dodokan, dan calon terpilih adalah Surip.

Setelah penggabungan kedua desa, nama Selokerto dipilih. Nama ini berasal dari gabungan pohon klepu di Karang Tengah, yang menjadi tempat bertapa, dan Sanggar Pamujan di Desa Sanggar, sehingga melambangkan tradisi bersemedi kedua desa tersebut.

Kondisi Umum Desa

Desa Selokerto terletak sekitar 1 km di selatan pusat Kecamatan Sempor dan ±21 km di barat Kota Kebumen, dengan luas wilayah sekitar 150 hektar dan ketinggian 14 meter di atas permukaan laut. Desa ini berbatasan dengan Desa Purbowangi dan Sidoharum di barat, Desa Semanding dan Kelurahan Wonokriyo di timur, Desa Jatinegara di utara, serta Desa Semondo dan Wonoyoso di selatan.

Mayoritas lahan di desa berupa tanah kering (39%) dan sawah (33%), dengan sisanya berupa bangunan, tegalan/kebun, pekarangan, dan kolam.

Demografi dan Mata Pencaharian

Jumlah penduduk Desa Selokerto pada 2019 tercatat 5.247 jiwa, dengan 2.640 laki-laki dan 2.607 perempuan. Sebagian besar masyarakat bekerja di sektor pertanian, diikuti sektor industri, perdagangan, jasa, dan pegawai negeri sipil.

Pendidikan dan Kesehatan

Tingkat pendidikan masyarakat didominasi lulusan SLTA, diikuti lulusan SD. Hanya sedikit warga yang menamatkan perguruan tinggi, yaitu 0,01% untuk laki-laki maupun perempuan. Meski demikian, akses pendidikan terus meningkat dengan angka melanjutkan sekolah cukup tinggi.

Indikator kesehatan desa menunjukkan cakupan imunisasi balita mencapai 100% dari 2018 hingga 2020. Penolong balita oleh tenaga kesehatan tersedia, sementara angka kematian bayi dan ibu melahirkan terus menurun.

Infrastruktur dan Permukiman

Jalan utama desa sepanjang 1.750 meter beraspal baik, jalan di RW sepanjang 1.400 meter beraspal sedang, serta terdapat jalan tanah, rabat beton, dan dua jembatan yang mendukung mobilitas warga.

Desa Selokerto menjadi contoh perpaduan antara sejarah yang kaya, tradisi lokal, dan perkembangan sosial-ekonomi yang terus bergerak maju.

Sumber: Profil Desa Selokerto, Kecamatan Sempor, Kebumen


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.