KEBUMEN, Kebumen24.com – Setiap desa di Indonesia memiliki sejarahnya masing-masing, termasuk Desa Selokerto, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen. Salah satu kisah yang paling menarik adalah tentang seorang wali yang dikenal dengan sebutan Wali Hani, yang berasal dari Dukuh Raolah.
Berdasarkan sejumlah narasumber dan catatan sejarah, Desa Selokerto memiliki keterkaitan dengan sejarah Kerajaan Mataram. Pada tahun 1870-an, sebelum Panjer Kebumian (Kabupaten Kebumen) berdiri, wilayah ini termasuk dalam Kabupaten Roma, yang salah satu kecamatannya adalah Sempor. Sebagaimana tertulis di koran De Locomotief pada 21 Maret 1874, seorang surya negara dari Kerajaan Mataram Yogyakarta bernama Abdul Rouf, keturunan Pangeran Diponegoro, datang ke wilayah ini. Ia mengemban misi dakwah Islam sekaligus melawan penjajahan Belanda dengan mendirikan pondok pesantren di Dukuh Raolah.
Pondok pesantren ini berkembang pesat, sehingga Belanda meningkatkan invansinya di wilayah Sempor. Salah satu putra Abdul Rouf, Muchtarom, dikenal sebagai pemimpin keamanan setempat dan mendapat julukan “Singadilaga” karena keberaniannya. Berkat jasanya, ia mendapatkan “Tanah Keputihan”, yaitu tanah bebas pajak dari Kerajaan Mataram.
Selain Muchtarom, salah satu santri Abdul Rouf yang dikenal adalah Abdul Ghoni, yang kemudian disebut Wali Hani. Abdul Ghoni dikenal dengan perilaku yang unik: memakai pakaian lusuh, tinggal di gubug kecil di pinggir sungai, dan melakukan kegiatan masjid dengan tekun. Ia bahkan pernah memasak dan memakan bangkai kerbau yang dibuang orang, serta melakukan mukjizat yang membuat banyak orang kagum, seperti menghadirkan makanan yang mustahil didapat dalam waktu singkat.
Mbah Kyai Abdul Rouf pun menyadari kewalian Abdul Ghoni. Setelah wafat, rumahnya mampu menampung seluruh pelayat meski ukurannya sangat kecil. Setiap ruas tiang bambu rumahnya ternyata berisi uang logam, dan namanya semakin dikenal masyarakat sebagai wali meski tampilannya sederhana. Keistimewaan Wali Hani juga diakui di Mekkah, terbukti dari surat Kesultanan Malik Mekkah yang menanyakan keberadaan beliau.
Hingga kini, makam Wali Hani di Dukuh Raolah tetap menjadi misteri. Usaha untuk menandai atau membangun makam beliau selalu gagal, dan keberadaan batu bundar misterius berdiameter sekitar 80 cm yang dapat berpindah tempat sendiri menjadi saksi bisu sejarahnya.
Kisah Wali Hani terus diceritakan dari generasi ke generasi sebagai bagian warisan spiritual Desa Selokerto.
Sumber: selokerto.kec-sempor.kebumenkab.go.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















