KEBUMEN, Kebumen24.com– Fitur percakapan dalam gim daring kini menjadi celah berbahaya yang dimanfaatkan predator anak untuk mencari korban kekerasan seksual. Investigasi yang dilakukan oleh Kompas mengungkap pola sistematis pelaku dalam mendekati hingga memanipulasi korban.
Pelaku umumnya memulai interaksi dari hal yang terlihat wajar, yakni bermain bersama di dalam gim. Komunikasi kemudian berkembang melalui fitur pesan yang tersedia. Setelah hubungan terasa cukup dekat, korban diajak berpindah ke ruang komunikasi yang lebih privat, seperti aplikasi perpesanan.
Di ruang inilah, manipulasi mulai terjadi. Pelaku menggunakan rayuan, bujukan, hingga tekanan psikologis untuk mengontrol korban. Dalam sejumlah kasus, pendekatan tersebut berujung pada kekerasan seksual terhadap anak.
Salah satu korban, IMA (15), siswi SMK di Jakarta, mengaku mengalami teror dari mantan pacarnya berinisial TPK (25). Teror tersebut berupa ancaman penyebaran video kekerasan seksual yang dialaminya.
Perkenalan IMA dan TPK bermula dari gim daring populer, Mobile Legends: Bang Bang, pada Juni 2025. Dari sekadar bermain bersama, komunikasi mereka berlanjut ke luar gim.
“Aku jarang punya teman online, aku iseng cari slot yang sesuai sama hero-ku,” ujar IMA, Selasa (24/3/2026).
Hubungan yang awalnya biasa berkembang menjadi lebih personal layaknya pasangan kekasih. Keduanya bahkan beberapa kali bertemu secara langsung. Namun, pada Agustus 2025, IMA diduga mengalami kekerasan seksual yang kemudian menjadi alat ancaman oleh pelaku.
Kasus ini menunjukkan bahwa interaksi di dunia digital, khususnya melalui gim daring, dapat berkembang menjadi relasi yang berbahaya jika tidak diawasi. Orang tua dan masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas anak di ruang digital, termasuk membatasi interaksi dengan orang yang tidak dikenal.
Sumber: Kompas.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















