JAKARTA, Kebumen24.com – Paparan digital berlebih pada anak kini menjadi perhatian serius para ahli kesehatan. Penggunaan gawai tanpa kontrol dinilai dapat memicu berbagai gangguan, mulai dari penurunan fokus hingga hambatan tumbuh kembang anak.
Ketua Bidang III Ikatan Dokter Anak Indonesia sekaligus Ketua Divisi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Bernie Endyarni Medise, menegaskan bahwa teknologi digital memiliki dua sisi yang harus disikapi dengan bijak.
“Digital itu seperti pisau bermata dua. Ada sisi positif, tetapi juga banyak dampak negatifnya bagi anak,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Gangguan Tidur hingga Keterlambatan Bahasa
Dalam praktiknya, dr. Bernie mengungkapkan banyak anak mengalami gangguan akibat penggunaan gawai berlebihan. Dampak yang paling sering ditemui antara lain gangguan tidur, kecemasan, hingga keterlambatan perkembangan, terutama dalam kemampuan bahasa.
Anak-anak yang terlalu lama terpapar layar juga cenderung mengalami penurunan kualitas istirahat, yang berujung pada menurunnya performa belajar dan kondisi fisik yang tidak optimal.
Konten Pendek Picu Ketergantungan
Fenomena konsumsi konten video pendek seperti YouTube Shorts turut menjadi sorotan. Konten singkat yang terus diulang dapat memicu pelepasan dopamin di otak, yang membuat anak merasa senang dan ingin terus mengaksesnya.
Kondisi ini berisiko menimbulkan kecanduan sekaligus menurunkan kemampuan fokus anak. Anak menjadi terbiasa dengan perhatian jangka pendek, sehingga sulit berkonsentrasi dalam waktu lama.
Game Online dan Media Sosial Berisiko
Selain konten video, game online dan media sosial juga menjadi sumber risiko utama. Game online dapat memicu ketergantungan karena adanya dorongan untuk terus bermain, terutama saat anak mengalami kemenangan atau kekalahan.
Sementara itu, media sosial membawa risiko lain seperti kecemasan, gangguan tidur, kecanduan, hingga ancaman serius seperti cyber bullying dan child grooming.
Tak hanya itu, interaksi dengan orang asing di dunia maya juga dinilai berbahaya, terutama bagi anak yang belum memahami risiko digital.
Dampak pada Interaksi Sosial
Paparan digital yang tidak sesuai usia juga berdampak pada kemampuan sosial anak. Mereka cenderung mengalami kesulitan dalam berinteraksi secara langsung, serta mengalami penurunan konsentrasi dalam aktivitas sehari-hari.
Dalam beberapa kasus, anak bahkan mengalami mimpi buruk dan kelelahan saat bangun pagi, yang berpengaruh pada prestasi akademik.
Otak Anak Belum Siap
Dari sisi neurologis, anak dinilai belum siap menerima paparan digital secara berlebihan. Hal ini berkaitan dengan perkembangan prefrontal cortex, bagian otak yang berfungsi mengatur emosi, pengambilan keputusan, dan kontrol diri, yang baru matang di usia awal 20-an.
Akibatnya, anak lebih rentan terhadap kecanduan dan sulit mengontrol penggunaan gawai.
Perlu Pembatasan dan Pengawasan
Sebagai langkah pencegahan, dr. Bernie mendukung kebijakan pemerintah terkait pembatasan akses digital bagi anak di bawah usia 16 tahun melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 (PP Tunas).
Namun demikian, ia menegaskan bahwa peran orang tua tetap menjadi kunci utama.
“Orang tua harus menjadi garda terdepan dalam mengatur waktu penggunaan, memilih konten, dan mendampingi anak saat mengakses digital,” tegasnya.
Ia juga mengimbau agar orang tua lebih selektif dalam memberikan akses gawai, serta mengarahkan anak pada konten yang edukatif dan aman.
Peran Keluarga Sangat Penting
Perlindungan anak di era digital tidak bisa hanya bergantung pada regulasi. Keterlibatan aktif keluarga menjadi faktor penentu dalam menjaga kesehatan mental dan perkembangan anak.
Pembatasan waktu layar, pendampingan, serta komunikasi yang baik antara orang tua dan anak dinilai sebagai langkah efektif untuk mencegah dampak negatif teknologi.
Sumber: Metro TV News
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















