EkonomiPemerintahan

Potensi Desa Krakal: Tahu Gurih Tanpa Pengawet hingga Kesenian Ebeg yang Tetap Bertahan

340
×

Potensi Desa Krakal: Tahu Gurih Tanpa Pengawet hingga Kesenian Ebeg yang Tetap Bertahan

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Krakal, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, menyimpan beragam potensi lokal yang tidak hanya menggerakkan roda ekonomi masyarakat, tetapi juga menjaga warisan budaya. Mulai dari produksi tahu rumahan yang khas hingga kesenian tradisional kuda lumping (ebeg), semuanya menjadi identitas kuat desa ini.

Salah satu potensi unggulan Desa Krakal adalah produksi tahu yang telah menjadi mata pencaharian utama warga. Sentra produksi tahu terpusat di RT 02 RW 04, yang dikenal luas dengan sebutan “Blok Tahu”. Di wilayah ini, mayoritas masyarakat menggantungkan hidup sebagai pengrajin maupun penjual tahu.

Meski terdapat pengrajin di wilayah lain, aktivitas produksi paling dominan tetap berada di kawasan tersebut. Tahu Krakal diproduksi menggunakan proses tradisional dengan peralatan sederhana, seperti tungku kayu bakar, ayakan, hingga penggorengan manual. Sebagian pengrajin kini telah memanfaatkan mesin penggiling berbasis genset, namun proses lainnya masih mempertahankan cara konvensional.

Keunggulan Tahu Krakal terletak pada cita rasanya yang gurih dan alami. Produk ini dibuat tanpa bahan pengawet kimia, sehingga lebih sehat dan nikmat, terutama saat disajikan dalam kondisi hangat.

Proses pembuatannya dimulai dari perendaman kedelai selama kurang lebih empat jam. Setelah itu, kedelai digiling dan direbus hingga mendidih, kemudian disaring dan dipres hingga menjadi tahu siap potong. Dalam satu kali produksi, tahu dicetak dengan ukuran sekitar 4×60 cm dan dapat menghasilkan antara 70 hingga 100 potong.

Saat ini, terdapat lebih dari 40 pengrajin tahu di Desa Krakal. Hasil produksi tidak hanya dipasarkan di lingkungan desa, tetapi juga menjangkau berbagai pasar di Kebumen, seperti Pasar Tumenggungan, Pasar Sawangan, Sruni, Wadasmalang, Karangsambung, Karanggayam, hingga Kutowinangun.

Namun demikian, para pengrajin masih menghadapi sejumlah kendala, seperti harga kedelai yang terus meningkat, kualitas bahan baku yang tidak selalu stabil, keterbatasan kayu bakar, serta peralatan produksi yang masih sederhana.

Selain potensi ekonomi, Desa Krakal juga memiliki kekayaan budaya berupa kesenian kuda lumping atau yang lebih dikenal dengan sebutan ebeg di wilayah Banyumas dan Kebumen. Kesenian ini menggunakan properti kuda dari anyaman bambu dan diiringi musik khas Banyumasan dengan logat ngapak yang kental.

Beberapa lagu yang kerap mengiringi pertunjukan ebeg antara lain Sekar Gadung, Eling-Eling, Ricik-Ricik Banyumasan, Tole-Tole, hingga Waru Doyong. Ciri khas inilah yang membedakan ebeg dengan kesenian serupa di daerah lain.

Di Desa Krakal, tepatnya di Dusun Pedurenan RW 01, masih terdapat dua grup kesenian kuda lumping yang aktif mempertahankan tradisi tersebut. Meskipun demikian, eksistensi kesenian ini perlahan mulai tergerus oleh perkembangan zaman.

Minat generasi muda untuk terlibat langsung sebagai pelaku seni semakin menurun. Kebanyakan hanya menjadi penikmat, bukan penerus. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pelestarian budaya lokal.

Dengan potensi ekonomi dan budaya yang dimiliki, Desa Krakal memiliki peluang besar untuk terus berkembang. Dukungan berbagai pihak sangat dibutuhkan agar potensi tersebut dapat dikelola secara optimal sekaligus diwariskan kepada generasi mendatang.

Sumber:Website resmi Desa Krakal – Pemerintah Desa Krakal Kebumen


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com