SEJARAH

Sejarah Desa Tunggalroso Prembun Kebumen: Lahir dari Persatuan Tiga Desa, Simbol “Satu Rasa” Sejak 1923

352
×

Sejarah Desa Tunggalroso Prembun Kebumen: Lahir dari Persatuan Tiga Desa, Simbol “Satu Rasa” Sejak 1923

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tunggalroso di Kecamatan Prembun, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang berakar dari semangat persatuan masyarakat. Desa ini tidak terbentuk begitu saja, melainkan hasil penggabungan tiga desa kecil yang memiliki kesamaan budaya, tradisi, serta kondisi geografis.

Pada masa sebelum berdirinya Desa Tunggalroso, terdapat tiga desa yang berdiri secara mandiri dan masing-masing dipimpin oleh seorang lurah, yaitu Desa Bendamungal, Desa Kaligawe, dan Desa Ngentak. Karena ukuran wilayah yang relatif kecil serta kesamaan pola kehidupan masyarakatnya, muncul gagasan dari warga untuk menyatukan ketiga desa tersebut.

Proses penggabungan dilakukan melalui musyawarah mufakat yang melibatkan masyarakat dan para kepala desa dari masing-masing wilayah. Setelah melalui serangkaian pertemuan, akhirnya disepakati bahwa ketiga desa tersebut digabung menjadi satu desa baru yang diberi nama Desa Tunggalroso.

Nama Tunggalroso memiliki makna filosofis yang mendalam. Secara harfiah, kata tersebut berarti “satu rasa”, yang mencerminkan semangat persatuan masyarakat dalam membangun desa. Makna persatuan itu diwujudkan dalam beberapa tujuan utama, di antaranya bersatu dalam pembangunan, meningkatkan kesejahteraan rakyat, memberikan pelayanan kepada masyarakat, serta menjaga keutuhan wilayah, terutama pada masa penjajahan Belanda.

Desa Tunggalroso resmi berdiri pada tahun 1923. Setelah penggabungan tersebut, wilayah bekas tiga desa itu kemudian dibagi menjadi tiga wilayah kebayan yang saat ini dikenal sebagai dusun, masing-masing dipimpin oleh Bayan atau yang sekarang disebut Kepala Dusun (Kadus).

Dinamika Pembangunan Desa

Perjalanan pembangunan Desa Tunggalroso juga diwarnai berbagai peristiwa penting yang mencerminkan dinamika sosial, politik, dan kondisi alam pada masanya.

Pada tahun 1927, masyarakat mulai membangun Gedung Sekolah Rakyat Tunggalroso sebagai upaya meningkatkan pendidikan warga. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1951, wilayah desa mengalami dampak hujan abu akibat letusan Gunung Kelud yang menyebabkan banyak tanaman mati. Namun beberapa tahun setelahnya, tanah pertanian justru menjadi lebih subur.

Peristiwa penting lainnya terjadi pada 1955, saat Indonesia menggelar pemilu pertama. Pada masa itu, hasil pemilihan di Desa Tunggalroso dimenangkan oleh PNI.

Memasuki tahun 1961, desa kembali menggelar pemilihan kepala desa yang diikuti sembilan calon. Pemilihan tersebut dimenangkan oleh Muhammad Mundzakir.

Periode 1965–1967 menjadi masa yang penuh gejolak. Dampak peristiwa G30S/PKI juga dirasakan di Desa Tunggalroso, yang saat itu sempat terjadi kerusuhan, pembakaran rumah, sweeping, hingga kerja paksa.

Pada masa Orde Baru, dinamika politik desa juga terlihat dalam beberapa pemilu yang digelar, seperti pada tahun 1972, 1977, 1982, dan 1987, yang pada saat itu dimenangkan oleh Golkar.

Pembangunan infrastruktur desa juga terus berkembang. Pada tahun 1973 dibangun Balai Desa Tunggalroso, kemudian pada 1975 didirikan SD Negeri 2 Tunggalroso untuk menunjang pendidikan masyarakat.

Namun perjalanan desa tidak selalu mulus. Pada 1978 masyarakat pernah mengalami masa paceklik sehingga pemerintah menjalankan program padat karya dengan upah berupa beras bulgur. Selain itu, pada 1992 desa juga pernah dilanda banjir bandang besar yang menyebabkan gagal panen.

Pergantian Kepemimpinan Desa

Sejak berdiri hingga sekarang, Desa Tunggalroso telah dipimpin oleh beberapa kepala desa. Beberapa di antaranya yang masih diingat masyarakat adalah:

  1. Dipo Menggolo (1945–1946)
  2. Suhadi (1946–1961)
  3. Mundzakir (1961–1989)
  4. Martono H.S (1989–1999)
  5. Margono (1999–2005)
  6. Margono (2006–2012) – dua periode
  7. Nurodin (2013–2019)
  8. Nurodin (2019–sekarang) – dua periode

Pada 25 Juni 2019, pemilihan kepala desa digelar secara serentak dan diikuti empat calon, yaitu Sugeng, Teguh Santoso, Nurodin, dan Rini Retnowati. Dalam pemilihan tersebut, Nurodin kembali terpilih sebagai Kepala Desa Tunggalroso.

Hingga kini, semangat “Tunggalroso” atau satu rasa masih menjadi nilai yang terus dijaga masyarakat dalam membangun desa, memperkuat kebersamaan, dan meningkatkan kesejahteraan warga.

Sumber: Pemerintah Desa Tunggalroso.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.