KEBUMEN, Kebumen24.com – Sejarah terbentuknya Desa Sidogede, Kecamatan Prembun, Kabupaten Kebumen menyimpan kisah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Meski dokumen resmi yang menjelaskan secara pasti waktu pembentukannya masih sulit ditemukan, sejumlah sumber menyebutkan bahwa desa ini lahir dari penggabungan beberapa desa pada masa kolonial Belanda.
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Tim Redaksi PPID Desa Sidogede, pembentukan desa ini diperkirakan terjadi pada rentang tahun 1930 hingga 1933. Pada masa itu, pemerintah kolonial Hindia Belanda melakukan kebijakan penggabungan beberapa desa untuk mempermudah pengawasan dan administrasi pemerintahan.
Desa Sidogede sendiri diyakini merupakan hasil penggabungan tiga desa yang berada di wilayah Distrik Prembun, yakni Desa Pesaijangan (atau Persayangan) di wilayah barat, Desa Wlahar di wilayah tengah, serta Desa Kedawung di wilayah timur.
Nama Sidogede memiliki makna filosofis “jadi besar”. Penamaan tersebut mencerminkan proses terbentuknya desa dari penggabungan tiga wilayah yang kemudian menjadi satu kesatuan desa yang lebih besar dan kuat.
Selain Sidogede, pada periode yang sama juga terbentuk sejumlah desa lain di wilayah Kecamatan Prembun, seperti Desa Tunggalroso, Prembun, Mulyosri, Bagung, dan beberapa desa lainnya.
Kepala Desa Pertama dan Kisah Heroiknya
Tokoh pertama yang memimpin Desa Sidogede adalah Sudirman, sosok yang dikenal berpengaruh dan disegani oleh masyarakat. Namun, perjalanan hidupnya berakhir tragis pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1949.
Sudirman dieksekusi oleh tentara Belanda di kawasan Bekasi Pabrik Gula Prembun—yang kini menjadi lokasi SMP Negeri 1 Prembun. Ia dikabarkan dimakamkan secara tidak layak oleh penjajah. Hingga kini, Pemerintah Desa Sidogede tengah berupaya melakukan pemindahan makam beliau ke desa asalnya sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.
Perjalanan Kepemimpinan Desa Sidogede
Setelah masa kepemimpinan Sudirman, tongkat estafet pemerintahan desa dilanjutkan oleh sejumlah tokoh yang turut mewarnai perjalanan sejarah Sidogede.
Kepala desa kedua adalah Syamsudin, seorang anggota Angkatan Perang Republik Indonesia. Ia menjabat cukup lama, yakni dari tahun 1950 hingga 1990. Pada masa itu, pemilihan kepala desa masih menggunakan sistem dhodhokan, yaitu metode memilih dengan cara berjongkok di belakang calon yang didukung. Dalam pemilihan tersebut, Syamsudin bersaing dengan Kyai Khodori dan Asngari.
Kepemimpinan berikutnya dilanjutkan oleh Mukharisun pada periode 1991–1999 melalui pemilihan langsung, mengalahkan Aman dan Sutedjo.
Selanjutnya, pada periode 1999–2007, Desa Sidogede dipimpin oleh Sudrajat, yang saat itu masih berstatus anggota polisi aktif. Ia memenangkan kontestasi yang diikuti lima calon, yakni Sudrajat, Nursalam, Mastur, Moslem, dan Sukiran.
Periode 2007–2014, kepemimpinan desa berada di tangan Siswanto, yang terpilih mengalahkan Poniman dan Sukiran.
Pada tahun 2014–2017, jabatan kepala desa diisi oleh Suradi sebagai pejabat kepala desa yang ditunjuk oleh pemerintah kabupaten.
Kemudian pada periode 2017–2023, Sunarto terpilih sebagai kepala desa setelah memenangkan pemilihan yang diikuti empat calon, yaitu Sunarto, Rohmat, Sudrajat, dan Sunarwoto.
Pada pemilihan kepala desa berikutnya, Sunarto kembali terpilih untuk periode 2023–2031 setelah bersaing dengan Ristianingsih.
Perjalanan panjang kepemimpinan ini menjadi bagian penting dari dinamika pembangunan Desa Sidogede hingga saat ini.
Dengan sejarah yang lahir dari persatuan tiga desa, Sidogede kini terus berkembang sebagai desa yang memiliki identitas kuat serta semangat kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sumber website desa Sidogede
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















