Pendidikan

Kunci Jurnalisme Berkualitas di Era Digital, Wartawan Harus Paham Cara Wawancara dan Menulis Berita yang Benar

490
×

Kunci Jurnalisme Berkualitas di Era Digital, Wartawan Harus Paham Cara Wawancara dan Menulis Berita yang Benar

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

KEBUMEN, Kebumen24.com – Di tengah derasnya arus informasi di era digital, kemampuan dasar jurnalistik seperti teknik wawancara dan penulisan berita menjadi kunci utama dalam menghasilkan karya yang berkualitas, akurat, dan dapat dipercaya publik.

Hal tersebut disampaikan oleh Dewi Indriastuti dalam materi bertajuk “Wawancara dan Menulis Berita” pada kegiatan Zoom Meeting bersama pelaku media dari berbagai daerah, baru-baru ini.

Dalam pemaparannya, Dewi menjelaskan bahwa wawancara merupakan proses tanya jawab dengan narasumber untuk menggali informasi, keterangan, maupun pendapat terkait suatu peristiwa atau isu. Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wawancara tidak hanya digunakan dalam dunia jurnalistik, tetapi juga dalam berbagai konteks seperti rekrutmen kerja dan penelitian.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa wawancara memiliki peran penting dalam memperkaya perspektif, mengonfirmasi informasi, serta membangun kredibilitas sebuah berita.

“Wawancara bukan sekadar bertanya, tetapi juga proses membangun kepercayaan dan menggali fakta secara mendalam,” ujarnya.

Dalam praktiknya, seorang jurnalis dituntut untuk melakukan persiapan matang sebelum melakukan wawancara. Mulai dari riset topik, memahami latar belakang narasumber, hingga menyusun daftar pertanyaan yang relevan. Selain itu, aspek teknis seperti ketepatan waktu dan kesiapan alat kerja juga menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan.

Saat proses wawancara berlangsung, etika menjadi hal utama yang harus dijunjung tinggi. Jurnalis harus menghormati narasumber, menjaga sikap profesional, serta mampu menerapkan teknik wawancara yang tepat, baik dalam wawancara khusus, konferensi pers, maupun wawancara cegat (doorstep).

Tak hanya membahas wawancara, Dewi juga mengulas pentingnya kemampuan menulis berita. Ia menjelaskan dua jenis utama penulisan berita, yaitu straight news yang menggunakan prinsip piramida terbalik, serta feature yang disajikan secara naratif dan lebih mendalam.

Dalam penulisan berita, jurnalis wajib memperhatikan unsur 5W+1H, yakni apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana. Selain itu, nilai berita seperti kedekatan, konflik, ketokohan, hingga human interest juga menjadi pertimbangan agar tulisan menarik dan relevan bagi audiens.

“Jangan pernah menganggap audiens sudah mengetahui informasi yang kita tulis. Gunakan kalimat sederhana, jelas, dan mudah dipahami, serta kaitkan dengan pengalaman pembaca,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya proses verifikasi dalam jurnalisme. Mengacu pada prinsip The Elements of Journalism karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, jurnalisme harus berpihak pada kebenaran, setia kepada publik, serta disiplin dalam melakukan verifikasi.

Di tengah maraknya disinformasi dan misinformasi, peran jurnalis menjadi semakin krusial. Tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memastikan setiap berita yang dipublikasikan telah melalui proses pengecekan yang ketat dan bertanggung jawab.

“Jurnalis harus menggunakan hati nurani, menjaga independensi, serta berani menyampaikan kebenaran di tengah berbagai tekanan,” tegasnya.

Melalui pemahaman teknik wawancara dan penulisan yang baik, diharapkan para jurnalis, khususnya generasi muda, mampu menghasilkan karya jurnalistik yang tidak hanya informatif, tetapi juga mendidik serta memberikan dampak positif bagi masyarakat. (k24/*)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.