SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Jerukagung Klirong Kebumen: Berawal dari Babad Alas hingga Menjadi Desa Agung di Klirong

581
×

Jejak Sejarah Desa Jerukagung Klirong Kebumen: Berawal dari Babad Alas hingga Menjadi Desa Agung di Klirong

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Jerukagung di Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, menyimpan jejak sejarah panjang yang berawal dari kisah para perintis yang membuka hutan (babad alas) sekitar akhir abad ke-XVI hingga awal abad ke-XVII. Meski sumber tertulis mengenai legenda dan sejarah berdirinya desa ini tergolong terbatas, sejumlah situs peninggalan seperti makam tokoh pendahulu, lokasi pemukiman lama, hingga rumah peninggalan lurah tempo dulu masih dapat ditemukan hingga kini.

Minimnya catatan sejarah dan terbatasnya narasumber dari kalangan sesepuh membuat kisah awal berdirinya Desa Jerukagung tidak sepenuhnya terdokumentasi. Namun berbagai cerita turun-temurun menyebutkan bahwa wilayah ini dibuka oleh para pendatang yang melakukan pengembaraan dari daerah timur. Mereka kemudian membuka hutan, mengubahnya menjadi lahan permukiman, persawahan, serta ladang, hingga terbentuk komunitas masyarakat yang terus berkembang.

Saat ini Desa Jerukagung terdiri dari enam dusun, yakni Dusun Jethak, Gebang, Kaliurang, Bruang, Kepek, dan Gandu. Keenam wilayah tersebut pada masa lampau merupakan bagian dari beberapa kelurahan kecil, yaitu Jethak, Gebang, Kaliurang, Bruang, Jeruk Pagak, Jeruk Kepek, dan Gandu.

Salah satu wilayah yang memiliki catatan sejarah cukup jelas adalah Dusun Jethak. Dahulu wilayah ini dipimpin oleh seorang kepala desa bernama Ki Mertabaya yang wafat pada tahun 1855 dan dimakamkan di Kemandungan Lor. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Ki Mertodimejo hingga tahun 1880, sebelum digantikan oleh Mertowinangun dan kemudian Ki Sastrorejo hingga masa regrouping desa pada tahun 1927.

Di Dusun Kaliurang, beberapa nama lurah juga dikenal dalam sejarah, di antaranya Ki Maderja, Ki Alimustawi, hingga Ki Casentana yang kemudian digantikan oleh keturunannya, Muhammad atau yang dikenal sebagai Ki Joyosuparto. Sementara itu, Dusun Gandu juga memiliki riwayat kepemimpinan tersendiri sebelum akhirnya bergabung dalam satu wilayah desa.

Penggabungan Desa Tahun 1927

Sejarah penting Desa Jerukagung terjadi pada tahun 1927 ketika pemerintah kolonial Belanda melakukan penggabungan beberapa kelurahan menjadi satu desa baru melalui kebijakan regrouping atau yang dikenal masyarakat sebagai blengketan.

Dalam proses tersebut dilakukan pemilihan kepala desa secara langsung dan terbuka yang dikenal dengan istilah dhodhokan, di mana para kepala keluarga memberikan suara mereka secara langsung.

Dua tokoh yang maju sebagai calon lurah saat itu adalah Ki Joyosuparto dari wilayah Kaliurang (Jeruk Pagak) dan Ki Sastrorejo dari Jethak. Hasil pemilihan menetapkan Ki Joyosuparto sebagai lurah pertama desa baru tersebut.

Karena pusat pemerintahan desa berada di wilayah Jeruk Pagak yang kemudian berkembang semakin luas setelah bergabung dengan wilayah lain, Ki Joyosuparto terinspirasi memberi nama desa tersebut Jerukagung. Nama itu mengandung makna “Jeruk yang menjadi besar (agung)”, dengan harapan desa tersebut tumbuh menjadi wilayah yang maju, makmur, aman, dan tenteram.

Ki Joyosuparto memimpin Desa Jerukagung hingga tahun 1946 sebelum wafat. Ia dimakamkan di Makam Pagak. Peninggalan rumah lurah tempo dulu yang terdiri dari pendopo rumah joglo, rumah limasan, serta dapur belakang masih menjadi bagian dari jejak sejarah desa tersebut.

Perjalanan Kepemimpinan Desa

Setelah Ki Joyosuparto, kepemimpinan desa dilanjutkan oleh beberapa tokoh, yakni Dulah Sayuti (1946–1957), Sanmurad (1957–1988), Suparjo (1989–1998), Drs. Jatmika (1999–2007), Aji Danu Harjanto (2008–2013), Agung Cahyono (2014–2019), dan kembali dilanjutkan oleh Aji Danu Harjanto hingga sekarang.

Sepanjang perjalanan sejarahnya, masyarakat Desa Jerukagung juga mengalami berbagai peristiwa penting. Pada masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1943–1945, warga sempat mengalami krisis pangan dan wabah penyakit.

Namun setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, masyarakat menyambutnya dengan penuh sukacita, menghiasi rumah-rumah dengan janur kuning sebagai simbol kegembiraan.

Pada masa perang mempertahankan kemerdekaan tahun 1948–1949, warga Jerukagung juga turut membantu perjuangan dengan menyediakan dapur umum bagi tentara Republik Indonesia serta membantu logistik para pejuang.

Jejak Legenda Mbah Dongkol

Selain sejarah pemerintahan desa, masyarakat Jerukagung juga mengenal sosok legendaris bernama Mbah Dongkol. Nama ini pernah sangat terkenal pada masanya, meskipun seiring waktu sempat terlupakan.

Kini Pemerintah Desa Jerukagung bersama BUMDes Agung Makmur berupaya menghidupkan kembali nama tersebut melalui pengembangan kawasan kebun kelengkeng desa. Di lokasi tersebut terdapat lahan sekitar 1.400 meter persegi dengan bangunan rumah tua yang menyimpan berbagai kenangan sejarah.

Di kawasan itu juga terdapat pohon beringin yang dahulu ditanam oleh Bupati Kebumen saat itu, Amin Sudibyo. Meski kondisi bangunan tua tersebut kini memprihatinkan, keberadaannya menjadi saksi bisu perjalanan panjang Desa Jerukagung.

Hingga kini, berbagai jejak sejarah tersebut terus menjadi bagian dari identitas Desa Jerukagung, sebuah desa yang lahir dari penggabungan wilayah-wilayah kecil dan tumbuh menjadi komunitas yang diharapkan tetap “agung”, sebagaimana makna yang terkandung dalam namanya.

SUMBER: WEBSITE Desa Jerukagung


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.