SEJARAH

Asal usul Desa Gadungrejo Klirong Kebumen, Berawal dari Kisah Mbah Gadung Babat Alas

486
×

Asal usul Desa Gadungrejo Klirong Kebumen, Berawal dari Kisah Mbah Gadung Babat Alas

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Sejarah lahirnya Desa Gadungrejo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang yang diwariskan secara turun-temurun oleh para sesepuh dan tokoh masyarakat setempat. Cerita tersebut mengisahkan perjalanan para keturunan Kerajaan Mataram yang membuka hutan belantara hingga akhirnya berdiri sebuah desa yang kini dikenal sebagai Gadungrejo.

Konon, sebelum menjadi pemukiman, wilayah yang kini menjadi Desa Gadungrejo masih berupa hutan belantara dan termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram. Sejarah awal desa ini banyak diceritakan dari generasi ke generasi oleh para sesepuh sebagai bagian dari kearifan lokal yang terus dijaga hingga sekarang.

Tokoh utama dalam kisah tersebut adalah Raden Gadung, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Mbah Gadung. Ia diyakini sebagai keturunan dari Panembahan Senopati dari Mataram. Bersama dua saudaranya, Raden Teduh dan Raden Jala, serta para pengikutnya, Mbah Gadung melakukan perjalanan dari Kasultanan Mataram menuju arah barat untuk membuka hutan dan mencari wilayah baru untuk pemukiman.

Dalam proses babat alas tersebut, masing-masing tokoh membuka wilayah yang berbeda. Raden Teduh membuka kawasan di sebelah timur. Karena dikenal sebagai sosok yang teduh dan menenteramkan masyarakat, ia dijuluki Mbah Tedun. Nama tersebut kemudian diabadikan menjadi nama Desa Tedunan.

Sementara itu, Raden Jala membuka wilayah di bagian barat bersama para pengikutnya. Nama tokoh tersebut kemudian diabadikan menjadi nama Desa Jalasida.

Adapun Raden Gadung membuka kawasan di bagian tengah. Wilayah tersebut kemudian dikenal dengan nama Desa Gadungan, yang diambil dari nama Raden Gadung sendiri.

Setelah kawasan hutan berhasil dibuka dan mulai berkembang menjadi pemukiman serta lahan pertanian, Raden Gadung kemudian menyatukan tiga wilayah tersebut, yaitu Gadungan, Tedunan, dan Jalasida, menjadi satu kesatuan desa. Desa tersebut kemudian diberi nama Gadungrejo.

Nama Gadungrejo tidak hanya sebagai bentuk penghormatan kepada Raden Gadung sebagai tokoh babat alas, tetapi juga berkaitan dengan kondisi alam saat itu. Konon, di kawasan tersebut banyak ditumbuhi tanaman gadung, sejenis tanaman rambat yang tumbuh liar di hutan.

Selain tiga tokoh tersebut, sejarah juga menyebut adanya tokoh lain yang membuka wilayah di bagian utara, yang oleh masyarakat dikenal dengan julukan Mbah Gedibrah.

Seiring perjalanan waktu, Desa Gadungrejo terus berkembang dan dipimpin oleh sejumlah kepala desa dari masa ke masa.

Berikut daftar pejabat Kepala Desa Gadungrejo sejak tahun 1939 hingga sekarang:

  1. Sanen (1939–1946)
  2. Chumeri (1946–1988)
  3. Chamim Al Syarifudin (1988–1995)
  4. Ikhsan – Penjabat (1995–1996)
  5. Waris (1996–2004)
  6. Ikhsan – Penjabat (2004)
  7. Susilo SM, S.Pd. (2004–2009)
  8. Mito (2009–2015)
  9. Ikhsan – Penjabat (2015–2017)
  10. Istiyatun, S.S. (2017–sekarang)

Hingga kini, kisah perjalanan Mbah Gadung dan para tokoh babat alas tersebut masih menjadi bagian penting dari identitas sejarah masyarakat Desa Gadungrejo, sekaligus menjadi pengingat akan perjuangan para leluhur dalam membuka dan membangun wilayah tersebut.

Sumber: Website resmi Desa Gadungrejo.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.