KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tegalrejo, Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen, memiliki kisah sejarah panjang yang sarat legenda dan tradisi yang masih dijaga hingga kini. Dahulu, wilayah yang kini menjadi desa tersebut dikenal sebagai hutan belantara yang dianggap angker dan penuh kisah mistis oleh masyarakat setempat.
Konon, di tengah hutan itu terdapat sebuah tempat yang dikenal dengan nama Watu Lumpang. Di lokasi tersebut terdapat sebuah batu yang bentuknya menyerupai lumpang, yakni alat tradisional untuk menumbuk padi pada masa lampau. Warga sekitar percaya, pada malam hari sering terdengar suara “gujegan”, seperti orang sedang menumbuk padi, meski tidak terlihat siapa pun yang melakukannya.
Seiring berjalannya waktu, datanglah seorang tokoh sakti bernama Mbah Braja Mukti. Ia dikenal sebagai sosok yang membuka kawasan hutan tersebut hingga akhirnya berkembang menjadi permukiman. Dengan ketekunan dan keberaniannya, Mbah Braja Mukti menebang hutan dan membuka lahan hingga mencapai sekitar 286 hektare.
Lahan yang semula berupa hutan belantara kemudian diubah menjadi tegalan atau ladang. Dari ladang itulah masyarakat mulai bercocok tanam, dan hasil panennya ternyata melimpah. Dari keberhasilan tersebut, Mbah Braja Mukti kemudian memberi nama wilayah tersebut Tegalrejo, yang berasal dari kata “Tegal” yang berarti ladang dan “Rejo” yang berarti makmur atau berlimpah.
Setelah bertahun-tahun menetap dan membangun wilayah tersebut, Mbah Braja Mukti wafat. Hingga kini makamnya masih terawat dengan baik oleh warga. Setiap Jumat Kliwon pada bulan Suro (Muharram), masyarakat setempat menggelar ritual selamatan yang dikenal dengan sebutan Nulaki, sebagai bentuk doa untuk menolak bala.
Dalam tradisi tersebut, warga menyembelih dua ekor kambing kendit, yaitu kambing berwarna hitam dengan garis putih pada bagian tubuhnya. Selain itu, setiap selesai panen padi, masyarakat juga menggelar tradisi Merdi Bumi atau Nyadran, sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen.
Di dekat makam Mbah Braja Mukti juga tumbuh sebuah pohon jati berukuran besar dengan diameter sekitar 150 centimeter. Pohon tersebut diperkirakan berusia lebih dari 300 tahun dan hingga kini masih berdiri kokoh.
Secara administratif, Desa Tegalrejo terbagi menjadi tiga dusun, yakni Dusun Krakal, Dusun Totogan, dan Dusun Sumberan. Masing-masing dusun memiliki tradisi yang unik, khususnya dalam penyelenggaraan hiburan saat acara hajatan.
Di Dusun Krakal dan Dusun Totogan, masyarakat tidak diperbolehkan mengadakan hiburan wayang kulit saat hajatan. Namun, mereka masih diperbolehkan menghadirkan hiburan seperti ketoprak atau tayuban. Sebaliknya, di Dusun Sumberan, justru hiburan wayang kulit diperbolehkan, sementara hiburan lainnya tidak dianjurkan. Kepercayaan tersebut masih dijaga hingga sekarang oleh masyarakat setempat.
Sejarah pemerintahan Desa Tegalrejo dimulai sekitar tahun 1913, ketika untuk pertama kalinya diadakan pemilihan kepala desa. Proses pemilihannya pun terbilang unik. Warga dikumpulkan di lapangan, kemudian panitia menyebutkan nama calon kepala desa. Masyarakat yang setuju cukup mengangkat atau menunjuk jari, dan calon dengan dukungan terbanyak dinyatakan terpilih.
Dalam perjalanan sejarahnya, Desa Tegalrejo telah dipimpin oleh beberapa kepala desa, antara lain:
- 1913–1931: Mbah Glondong (Wira Setra)
- 1931–1946: Asma Pawira
- 1946–1965: Mangun Supadmo
- 1965–1966: Penjabat Kepala Desa Darman Dariku
- 1966–1986: Mangku Diharjo
- 1986–1994: Sudirman
- 1994–2002: Susilo
- 2002–2007: Samiri
- 2007–2013: Suyanto
- 2013–sekarang: Indro Haryanto
Sepanjang perjalanan tersebut, berbagai peristiwa juga pernah terjadi di Desa Tegalrejo, mulai dari masa penjajahan Belanda dan Jepang, peristiwa G30S, musim tikus yang merusak tanaman, hingga paceklik akibat kemarau panjang pada tahun 1975.
Pada masa pemerintahan Mangku Diharjo juga dibangun Balai Desa Tegalrejo, yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan desa. Sementara itu, pembangunan Pasar Desa turut mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Secara geografis, Desa Tegalrejo terletak sekitar 14 kilometer di sebelah timur pusat Kota Kebumen. Desa ini merupakan salah satu dari 11 desa di Kecamatan Poncowarno. Sebelumnya, Desa Tegalrejo berada di wilayah Kecamatan Alian, namun sejak pemekaran wilayah pada tahun 2007, desa ini resmi masuk dalam wilayah Kecamatan Poncowarno.
Hingga kini, berbagai tradisi dan nilai sejarah Desa Tegalrejo masih terus dijaga oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas budaya dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sumber : https://tegalrejo.kec-poncowarno.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/661
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















