KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik nama Desa Jogosimo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, tersimpan kisah sejarah yang unik dan menarik. Cerita yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat bahkan berkaitan dengan kemunculan kawanan harimau yang pernah menggemparkan wilayah tersebut pada masa lampau.
Sebelum tahun 1925, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Jogosimo sebenarnya masih menjadi bagian dari Desa Jogomertan Kidul, Kecamatan Petanahan. Saat itu desa dipimpin oleh seorang lurah bernama Aldulloh Alwi, yang dikenal juga dengan sebutan Glondong Salim.
Pada masa itu, wilayah tersebut sudah memiliki pembagian pedukuhan yang diatur oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pemerintahan kolonial bahkan memiliki markas di kawasan Pasar Gula (RT 04 RW 01). Beberapa pedukuhan yang ada di wilayah tersebut antara lain Pedukuhan Krajan, Kembangan, Simo Deso, dan Keburuhan.
Kisah Harimau yang Menjadi Asal Nama Desa
Menurut cerita masyarakat, suatu ketika wilayah Pedukuhan Keburuhan digemparkan oleh kemunculan kawanan harimau. Binatang buas tersebut merusak dan mengancam keselamatan warga. Dalam bahasa Sanskerta, harimau disebut “Simo.”
Harimau tersebut kemudian bergerak ke arah utara menuju wilayah yang dikenal dengan nama Jesa, lokasi yang saat ini berdiri SD Negeri Jogosimo. Mendengar ancaman tersebut, masyarakat dari Pedukuhan Krajan, Kembangan, dan Simo Deso bersatu untuk menghadang.
Warga kemudian mendirikan pos penjagaan untuk melindungi kampung dari serangan harimau. Dalam bahasa Jawa, kegiatan menjaga disebut “Jogo.” Setelah melalui upaya bersama, akhirnya harimau tersebut berhasil ditangkap di sekitar wilayah Jesa.
Sejak saat itu, tempat yang digunakan warga untuk berjaga dari ancaman harimau dikenal dengan nama Jogosimo, gabungan dari kata “Jogo” (menjaga) dan “Simo” (harimau). Kini, lokasi tersebut menjadi tempat berdirinya Balai Desa Jogosimo.
Perubahan Wilayah Desa
Pada tahun 1925, terjadi perubahan administratif wilayah. Empat pedukuhan yang sebelumnya berada dalam satu wilayah kemudian dibagi menjadi dua bagian.
Pedukuhan Krajan tetap masuk wilayah Kecamatan Petanahan, sementara Kembangan, Simo Deso, dan Keburuhan membentuk desa baru bernama Desa Jogosimo yang masuk wilayah Kecamatan Klirong.
Pada masa awal pembentukannya, Desa Jogosimo dipimpin oleh Lurah Mad Iskhak dengan Achmad sebagai carik.
Dalam perkembangannya, Dukuh Krajan akhirnya bergabung ke Desa Jogosimo dan berubah nama menjadi Dukuh Tinayan. Pada masa itu, struktur pemerintahan desa diisi oleh beberapa perangkat, di antaranya Lurah H. Mukhammad Fekih, Carik Achmad, serta beberapa petugas keamanan desa yang dikenal sebagai pulisi desa.
Masa Pendudukan Jepang dan Kemerdekaan
Pada tahun 1942, Jepang menduduki Indonesia dan situasi pemerintahan desa ikut terdampak oleh situasi perang. Hingga akhirnya pada 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Sejak masa kemerdekaan hingga sekarang, Desa Jogosimo telah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan kepala desa, di antaranya:
- 1946 – 1984: Moehamad Fekih
- 1985 – 1994: Chumroni, B.A.
- 1994 – 1999: Abu Nurcholik
- 1999 – 2001: Syaeful Bakhri (Pj)
- 2001 – 2006: Muhtasimudin, S.Pd.I
- 2006 – 2007: Syaeful Bakhri (Pj)
- 2007 – 2013: Mughorib
- 2013 – 2019: Sokhibun
- 2019 – 2025: Muhtasimudin, S.Pd.I
Tradisi dan Adat Istiadat yang Masih Dilestarikan
Selain memiliki sejarah panjang, masyarakat Desa Jogosimo juga dikenal masih menjaga berbagai tradisi dan adat istiadat.
Dari aspek keagamaan, masyarakat rutin menggelar Yasinan setiap malam Jumat, ziarah kubur pada Kamis sore, serta peringatan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Isra Mi’raj. Tradisi lain seperti Rebo Wekasan, Nisfu Sya’ban, hingga pembacaan Manakib Al Barzanji juga masih dilaksanakan di mushola dan masjid setempat.
Sementara dari sisi adat budaya, masyarakat juga memiliki tradisi Sambatan atau gotong royong saat pembangunan rumah, Grebeg Suran setiap bulan Sura, hingga berbagai ritual terkait kehamilan seperti Ngupati (4 bulan), Keba atau Mitoni (7 bulan), serta tradisi unik Ndaweti, yakni doa bersama menjelang kelahiran dengan simbol jual beli dawet menggunakan pecahan genting.
Hingga kini, nilai kebersamaan, gotong royong, serta kearifan lokal tersebut masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Desa Jogosimo.
Sumber; website desa jogosimo
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















