KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Candiwulan, yang berada di Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang yang sarat nilai budaya, perjuangan, dan dinamika kehidupan masyarakat dari masa ke masa.
Desa ini terdiri dari tiga dusun, yakni Dusun Kesongging, Dusun Srepeng, dan Dusun Kelapasawit, dengan total 9 RT dan 3 RW. Masing-masing dusun memiliki kisah unik yang menjadi bagian penting dalam terbentuknya identitas Desa Candiwulan saat ini.
Kehidupan di Masa Penjajahan
Berdasarkan cerita para sesepuh, sebelum Indonesia merdeka sekitar tahun 1940, masyarakat Desa Candiwulan hidup relatif tenteram meski berada di bawah penjajahan Belanda. Sektor pertanian berkembang baik, bahkan muncul ungkapan “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” sebagai simbol kesuburan tanah.
Namun kondisi berubah drastis saat Jepang datang menjajah pada tahun 1942. Masa penjajahan Jepang dikenal penuh penderitaan. Hasil bumi masyarakat dirampas, muncul berbagai penyakit (pageblug), serta kelaparan yang melanda warga. Bahkan, masyarakat harus berlindung di dalam lubang ketika sirene berbunyi.
Setelah Indonesia merdeka, situasi belum sepenuhnya stabil. Pada tahun 1965, dampak peristiwa G30S/PKI juga dirasakan oleh sebagian warga Candiwulan. Setahun kemudian, masyarakat kembali dilanda kesulitan akibat gagal panen karena hama tikus.
Peran Tokoh dan Perkembangan Keagamaan
Perubahan mulai terlihat pada masa Orde Baru, terutama dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Salah satu tonggak penting terjadi pada tahun 1976, ketika dibangun Masjid di Dusun Kesongging oleh KH Ansori, BA.
Pembangunan masjid ini sempat menuai pro dan kontra, karena harus menebang pohon jati yang dianggap keramat. Namun berkat keteguhan KH Ansori, masjid akhirnya berdiri dan menjadi pusat kegiatan keagamaan.
Sejak saat itu, kehidupan religius masyarakat berkembang pesat. Tradisi seperti yasinan, tahlilan, hingga peningkatan jumlah warga yang menunaikan ibadah haji mulai tumbuh. KH Ansori pun dikenang sebagai tokoh agama berpengaruh di wilayah tersebut.
Asal-usul Nama Dusun
Dusun Kesongging dipercaya berasal dari kisah Nyai Kweni atau Nyai Woni, seorang ahli sungging batik pada masa lampau. Jejaknya masih diyakini melalui nama-nama lokasi seperti sawah “Si Woni”.
Sementara itu, Dusun Srepeng memiliki cerita tentang tokoh sakti bernama Sabuk Mimang. Tradisi unik juga berkembang di dusun ini, seperti perayaan Syuro yang dahulu dilakukan dengan menyembelih kerbau, dan kini dilanjutkan dengan penyembelihan kambing serta kegiatan keagamaan seperti tahlil dan pengajian.
Adapun Dusun Kelapasawit berasal dari kisah pengembara bernama Jiwantaka. Ia menemukan satu pohon kelapa di tengah hutan dan menamai tempat tersebut “Kelapa Sak Wit” (satu pohon kelapa), yang kemudian berubah menjadi Kelapasawit. Hingga kini, masyarakat masih mengenang sosok tersebut melalui doa bersama di tempat yang diyakini sebagai petilasannya.
Terbentuknya Desa Candiwulan
Secara administratif, Desa Candiwulan terbentuk dari penggabungan wilayah Dusun Kesongging, Dusun Srepeng, dan Desa Kelapasawit. Bentuk wilayahnya yang menyerupai huruf “C” atau bulan sabit menjadi inspirasi penamaan “Candiwulan”.
Penggabungan tersebut dikenal dengan istilah “pemblengketan”, yang kemudian melahirkan Pemerintah Desa Candiwulan seperti yang dikenal saat ini.
Sejarah panjang ini menjadi bukti bahwa Desa Candiwulan tidak hanya kaya akan cerita masa lalu, tetapi juga memiliki warisan budaya dan nilai-nilai kehidupan yang terus dijaga oleh masyarakat hingga kini.
Sumber: https://candiwulan.kec-adimulyo.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/588
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















