SEJARAH

Legenda dan Sejarah Desa Bonjok, Warisan Leluhur yang Terus Dikenang

230
×

Legenda dan Sejarah Desa Bonjok, Warisan Leluhur yang Terus Dikenang

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Bonjok menyimpan jejak sejarah dan legenda yang hidup dari generasi ke generasi. Kisah masa lalu desa ini bukan sekadar cerita, melainkan bagian penting dari identitas masyarakat yang terus dijaga sebagai warisan leluhur.

Berdasarkan cerita turun-temurun sebelum tahun 1919, wilayah Desa Bonjok pada awalnya merupakan hutan lebat yang belum berpenghuni. Seiring waktu, datang tiga kesatria yang disebut sebagai abdi kerajaan dari Kerajaan Singosari, yakni Mbah Merta Menggala, Merta Dipa, dan Raden Mas Klantung.

Mbah Merta Menggala dikenal sebagai panglima perang, yang mendapat julukan “Menggala” karena kepemimpinannya dalam pasukan. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, ia pernah mendapat amanat untuk menghadapi kekuatan penjajah Belanda di wilayah Yogyakarta.

Konon, Mbah Merta Menggala menciptakan kincir angin dari pohon kelapa utuh yang diarahkan ke timur. Kekuatan angin yang dihasilkan dipercaya mampu menghancurkan wilayah yang dikuasai Belanda hingga menewaskan banyak pasukan. Kisah ini menjadi bagian dari legenda heroik yang masih diyakini sebagian masyarakat setempat.

Namun, perlawanan tersebut memicu balasan dari pasukan Belanda. Mbah Merta Menggala ditangkap, dimasukkan ke dalam drum, dan dibuang ke laut selatan. Ajaibnya, drum tersebut ditemukan terdampar dalam keadaan kosong. Masyarakat meyakini bahwa beliau kembali ke Bonjok dalam keadaan selamat dan terus menjaga desa dari gangguan penjajah.

Bahkan, dalam cerita yang berkembang, pasukan Belanda kerap melihat Desa Bonjok seolah-olah kosong. Upaya penghancuran dengan bom pun disebut tidak pernah berhasil. Hingga kini, sosok Mbah Merta Menggala tetap dikenang sebagai leluhur penjaga desa.

Perkembangan Wilayah dan Dukuh

Seiring perjalanan waktu, wilayah Desa Bonjok berkembang menjadi beberapa pedukuhan. Dukuh Keputihan dipercaya sebagai pusat penyebaran agama Islam yang dibawa oleh tokoh bernama Kertiwangsa. Di sekitarnya, muncul Dukuh Bendasari, Dukuh Nusa atau Tegal Nusa di sekitar Sungai Kemit, serta Dukuh Bonjok Lor, Bonjok Tengah, Siwaru, dan Bonjok Kidul di sepanjang aliran sungai lainnya.

Pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1918, terjadi perubahan sistem pemerintahan desa melalui penggabungan wilayah (blengketan). Dari sinilah awal mula sistem pemerintahan desa modern di Bonjok, termasuk pemilihan kepala desa.

Daftar Kepala Desa dari Masa ke Masa

Sejarah kepemimpinan di Desa Bonjok dimulai dari Mbah Buang (1910–1932), dilanjutkan Mbah Sumarjo (1932–1952), Soewarno (1952–1985), Harjito (1985–1994), A. Nguzudin (1994–2002), Dwi Pujihastuti (2002–2011), Agus Winarno (2011–2017), hingga Budiono yang menjabat sejak 2017.

Kondisi Geografis dan Demografis

Secara administratif, Desa Bonjok merupakan salah satu desa di Kabupaten Kebumen dengan luas wilayah sekitar 160,448 hektare. Wilayahnya didominasi oleh lahan persawahan, perkebunan, dan pemukiman.

Adapun batas wilayah desa meliputi:

  • 1.    Barat: Desa Arjomulyo
  • 2.    Timur: Desa Caruban
  • 3.    Selatan: Desa Sekarteja
  • 4.    Utara: Desa Arjosari

Jumlah penduduk Desa Bonjok per Januari 2023 tercatat sebanyak 1.589 jiwa, terdiri dari 793 laki-laki dan 796 perempuan.

Warisan yang Terus Dijaga

Meski sebagian kisah yang berkembang belum memiliki sumber tertulis yang dapat diverifikasi secara akademis, legenda dan sejarah Desa Bonjok tetap menjadi bagian penting dalam membangun identitas dan kebanggaan masyarakat.

Cerita-cerita ini tidak hanya menjadi pengingat perjuangan para leluhur, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga nilai-nilai kebersamaan, keberanian, dan kearifan lokal.

Sumber: Website resmi Desa Bonjok


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com