KEBUMEN, Kebumen24.com – Kawasan pesisir selatan Kabupaten Kebumen tidak hanya dikenal karena keindahan pantainya, tetapi juga menyimpan kisah sejarah yang sarat nilai perjuangan. Di balik tenangnya wilayah pesisir yang berada di kawasan Urut Sewu, tersimpan legenda tentang jejak perjuangan Pangeran Diponegoro sekaligus asal-usul berdirinya Desa Rantewringin, Kecamatan Buluspesantren.
Cerita yang berkembang di tengah masyarakat setempat menyebutkan bahwa pada masa Perang Jawa, Pangeran Diponegoro bersama para pengikutnya kerap bergerak melalui jalur pesisir selatan Samudera Hindia. Jalur tersebut dipilih sebagai strategi untuk menghindari pengejaran pasukan kolonial Belanda.
Dari perjalanan itulah kemudian muncul kisah yang dipercaya menjadi awal mula lahirnya Desa Rantewringin.
Kisah Sindhu Taruna yang Terpisah dari Pasukan
Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, disebutkan bahwa ketika pasukan Diponegoro tengah menyusuri pesisir selatan, seorang pengikut setia bernama Sindhu Taruna terpisah dari rombongan akibat pengejaran tentara Belanda.
Dalam kondisi terdesak, Sindhu Taruna mencari tempat perlindungan yang aman. Ia kemudian menemukan sebuah wilayah yang masih sepi, tenang, dan dipenuhi pepohonan rindang.
Di tempat itulah ia memutuskan untuk menetap.
Seiring waktu, beberapa orang lain datang dan ikut tinggal bersamanya. Mereka membangun kehidupan sederhana dengan semangat kebersamaan, saling melindungi dan menjaga satu sama lain di tengah situasi yang tidak menentu.
Kehidupan masyarakat kecil yang terjalin kuat tersebut diibaratkan seperti rantai yang saling terhubung, sekaligus tumbuh di lingkungan yang teduh seperti pohon wringin atau beringin. Dari filosofi itulah kemudian lahir nama Rantewringin, yang hingga kini menjadi nama desa tersebut.
Dusun kecil yang dirintis oleh Sindhu Taruna tersebut lambat laun berkembang menjadi sebuah desa. Ia dipercaya sebagai sosok yang meletakkan fondasi awal kehidupan masyarakat di wilayah tersebut.
Desa Rantewringin dan Tambakrejo Pernah Satu Wilayah
Sejarah Desa Rantewringin juga tidak bisa dilepaskan dari Desa Tambakrejo. Pada masa sebelum kemerdekaan, wilayah tersebut masih berada dalam satu pemerintahan desa bernama Rantejurutengah yang dipimpin oleh tokoh bernama Raden Ronodipo.
Pada tahun 1912, karena usia yang sudah lanjut, Raden Ronodipo menyerahkan kepemimpinan desa. Namun karena memiliki dua penerus, yakni Raden Dipo Wiryo (anak kandung) dan Raden Wasis Sumodijoyo (menantu), wilayah desa kemudian dibagi menjadi dua bagian untuk menghindari potensi konflik kepemimpinan.
Dari pembagian tersebut lahirlah dua desa yang hingga kini masih berdiri:
- Wilayah sebelah barat dipimpin Raden Dipo Wiryo dengan nama Desa Rantewringin.
- Wilayah sebelah timur dipimpin Raden Wasis Sumodijoyo dengan nama Desa Tambakrejo.
Meski telah terpisah secara administratif, kedua desa tersebut tetap memiliki kedekatan sejarah dan hubungan budaya yang kuat. Bahkan di Desa Tambakrejo masih terdapat dua pedukuhan yang menggunakan nama serupa, yakni Rante Lor dan Rante Kidul.
Tradisi Islam yang Masih Dilestarikan
Selain dikenal dengan kisah sejarahnya, masyarakat Desa Rantewringin juga dikenal kuat dalam menjaga tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Beberapa tradisi yang hingga kini masih dilestarikan di antaranya:
- Tradisi Muludan atau Entak-Entik
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diikuti anak-anak hingga remaja dengan membuat gubugan, makan bersama, serta pembacaan Kitab Al-Barzanji. - Tradisi Rajaban
Tradisi memperingati peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW melalui pengajian di mushola maupun masjid. - Tradisi Keba atau Tingkeban
Tradisi yang dilakukan saat usia kehamilan tujuh bulan, diawali dengan siraman, pembacaan Al-Qur’an, dan doa bersama keluarga. - Tradisi Petetan atau Puputan
Tradisi pemberian nama bayi yang dilaksanakan sekitar tujuh hari setelah kelahiran, disertai pembacaan Al-Barzanji, pencukuran rambut bayi, serta doa bersama.
Daftar Kepala Desa Rantewringin
Sejak berdirinya desa hingga saat ini, sejumlah tokoh telah memimpin Desa Rantewringin, di antaranya:
- Dipodiwirjo (1835–1870)
- Wirjoatmojo (1870–1905)
- Moh. Sidiq Dipodiwirjo II (1905–1933)
- Wirjo Dihardjo (1933–1934)
- Mukti (1935–1946)
- Notodiwirjo (1946–1979)
- Yatono (1980–1990)
- Nasokhah (1990–1998)
- Sangidan (1998–2007)
- Irfansyah (2007–2018)
- Sri Norma Cherani (2019–sekarang)
Legenda tentang Sindhu Taruna dan jejak perjuangan Pangeran Diponegoro di pesisir Kebumen menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Desa Rantewringin. Kisah tersebut tidak hanya menjadi pengingat sejarah masa lalu, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan, tradisi, serta kearifan lokal yang terus dijaga hingga kini.
Sumber: Arsip Desa Rantewringin dan laman resmi desa.
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















