KEBUMEN, Kebumen24.com — Sebuah potongan ingatan tentang pasar dan pantai di selatan Kebumen menjadi awal kisah haru yang mempertemukan kembali dua kerabat yang terpisah selama 14 tahun. Teknologi, empati, dan kerja cepat Polres Kebumen akhirnya menjembatani kerinduan Bambang, warga Pasuruan, Jawa Timur, kepada sepupunya, Sumedi.
Selama lebih dari satu dekade, Bambang hanya menyimpan nama dan kenangan samar tentang Sumedi. Tanpa alamat, tanpa nomor telepon, bahkan tanpa kepastian apakah orang yang ia cari masih hidup. Yang tersisa hanyalah serpihan ingatan: sebuah pasar di Kebumen, dengan pantai di sebelah selatannya.
Harapan itu kemudian ia titipkan melalui teknologi. Pada Selasa, 3 Februari 2026, Bambang mengirimkan laporan melalui Aplikasi Dumas Presisi dan e-Lapor Polri. Dalam laporannya, ia menuliskan kerinduan kepada sepupu yang telah lama terpisah dan keinginannya untuk kembali menemukan keluarganya.
Laporan tersebut diterima admin Polres Kebumen. Bukan sekadar membaca data, petugas juga menangkap kegelisahan dan harapan di balik setiap baris pengaduan.
Dari petunjuk yang sangat terbatas itu, admin Dumas Polres Kebumen mulai memetakan sejumlah pasar di wilayah pesisir. Koordinasi pun dilakukan dengan polsek jajaran yang memiliki wilayah pantai. Perlahan, aparat menelusuri satu nama: Sumedi.
Titik terang akhirnya muncul di wilayah Polsek Puring. Melalui patroli dialogis, Kanit Intelkam Polsek Puring Aiptu Cipto Rudi bersama Bhabinkamtibmas mendapatkan informasi tentang seorang pria bernama Sumedi yang tinggal di Desa Kebadongan, Kecamatan Klirong. Dari dugaan, nama itu mulai mengarah pada kepastian.
Pada Rabu, 11 Februari 2026, Bhabinkamtibmas Polsek Klirong Bripka Ari Kurniawan mendatangi rumah Sumedi. Di hadapan petugas, Sumedi membenarkan bahwa dirinya memang berasal dari Pasuruan. Ia kini merupakan pensiunan pegawai negeri sipil di Dinas Pendidikan, yang telah lama menetap dan membangun hidup baru di Kebumen.
Polres Kebumen kini memfasilitasi proses untuk mempertemukan kembali Bambang dan Sumedi—dua anggota keluarga yang selama ini hanya saling hadir dalam ingatan.
Kapolres Kebumen, AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama, mengatakan kisah ini menjadi gambaran bagaimana pelayanan publik seharusnya bekerja: cepat, tulus, dan manusiawi.
“Kami berkomitmen merespons setiap laporan masyarakat. Di balik setiap laporan, ada harapan dan perasaan yang harus dihargai,” ujar Kapolres, Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, moto Respons Cepat, Tulus Melayani bukan sekadar semboyan. Hal itu dibuktikan melalui tindakan nyata, ketika secuil ingatan tentang pasar dan pantai mampu menjadi jembatan bagi kerinduan yang tertahan selama 14 tahun.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















